
Ibu Rama sangat khawatir mendengar kabar jika pesawat yang di tumpangi Rama dalam keadaan darurat bahkan banyak penerbangan lain terpaksa ditunda atau bahkan dibatalkan karena cuaca yang tiba-tiba buruk.
Semua kelurga panik dan berdoa. Mereka menghubungi ponsel Rama atau Syakira, belum ada yang aktif. Khawatiran semakin melanda pikiran keluarga itu.
Ibu Rama sengaja tidak memberitahu ibu Syakira, takutnya mereka ikut panik sama seperti yang dirasakan olehnya.
Mengingat berita tentang pesawat jatuh dan hancur berkeping-keping, membuat Ibu Rama semakin merasa takut.
"Ibu, tenangkan diri ibu. ibu jangan terlihat panik."
"Bagaimana aku tidak panik, kejadian-kejadian sebelumnya masih sangat melekat dalam benak. Semoga saja pesawat kakakmu mendarat dengan selamat."
"Amin. semoga saja," sahut Marwa menenangkan ibunya.
Terdengar suara bel dari luar, semua saling memandang. Nenek sudah terlihat pucat, sementara Ibu Ratna terlihat tubuhnya seakan ingin tumbang.
"Biar Marwa yang buka ibu." Melangkah menuju pintu utama.
Marwa begitu kaget juga bahagia melihat adik ipar dan adiknya sudah berdiri depannya.
Ratna melihat Marwa tidak bergerak, ikut keluar melihat, siapa yang datang.
"Alhamdulillah, nak. kalian selamat?"
"Iya ibu, seperti yang kalian lihat, kami masih utuh."
"Dalam keadaan begini, kamu masih saja bercanda, Rama." Ibu Ratna begitu bahagia.
Ibu Ratna langsung memeluk putra serta menantunya kekhawatiran berubah menjadi bahagia melihat anak dan mantunya baik-baik saja.
"Apa sebenarnya yang terjadi, nak?"
"Pesawat kami tiba-tiba saja tersambar petir, menyambar bagian tepi pesawat yaitu ujung sayap, untungnya hanya mengenai area bagian luar pesawat, tidak sampai mengenai bagian dalamnya, sehingga kerusakan dapat diminimalisir sebaik mungkin. Semua penumpang pesawat seketika panik. Aku dan Syakira tinggal pasrah."
"Kami tidak mengira akan selamat dan bertemu dengan kalian." Syakira menangis memeluk ibu mertuanya.
"Belum ajal, nak. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Tidak ada yang tahu pasti mengenai waktu kedatangannya. Syukur kalian selamat."
"Iya ibu, Sang pemilik napas masih memberi kami kesempatan untuk memperbaiki diri. Takdir kematian seseorang adalah hak prerogatif Sang pemilik jiwa yang tidak dapat diganggu gugat. Namun, Dia berkehendak untuk memberikan tanda-tanda kematian tersebut kepada hamba-Nya."
"Sudah dong sayang, ayo kita istirahat, jangan pikirkan lagi kejadian tadi." ujar Rama pamit untuk istirahat.
***
Pagi tiba, Syakira akan kembali ke kampus mengurus kembai urusan kampus yang beberapa bulan lalu tertunda.
"Ibu, Kak Rama mana?" Syakira mencari suaminya di lantai bawah.
"Ada ke kantor polisi, dek? Marwa tiba-tiba menyahut. " Biasa, dek. Tante Melly. dapat karma dia."
__ADS_1
"Hus.. jaga ucapan kamu Marwa, tidak baik berkata-kata seperti itu, biar bagaimana dia juga tante kamu istri dari paman kamu," tegur ibu Ratna.
"Ada hal apa, ibu?" tanya Syakira spontan terkejut juga belum paham.
"Tante Melly berteriak-teriak tidak jelas dan di bawah ke rumah sakit jiwa untuk diperiksa lebih lanjut. ya wajar saja dia. Itu pantas untuknya." tukas Marwa lagi.
"Marwa, gak baik seperti itu, berkata hal tidak enak di dengar di hadapan adik ipar kamu." pungkas ibu Ratna sibuk membantu Pelayan di sana memasak.
"Apa yang aku katakan itu benar, ibu. kalau bukan karenanya, Syakira adikku ini sudah melahirkan pastinya dengan baby yang lucu."
Syakira kembali diam mengingat momen di mana ia pernah mengandung. 'Kapan itu kembali?' batin Syakira.
Ibu Ratna yang sadar, melihat menantunya diam, langsung memberi kode pada Marwa.
"Apa sih, bu. Memang benar apa yang aku katakan. Tante Melly pantas mendapatkan itu."
Ibu Ratna terus memberi kode pada Marwa yang mulutnya tak henti mengoceh seputar ibu hamil. ingin rasanya wortel yang dia pegang melayangkan ke kepala putrinya itu.
"Kenapa sih, ibu? Ibu juga lalu, pernah kan hampir keguguran? tapi bisa diselamatkan."
Marwa baru sadar ketika ibunya memberi kode untuk tutup mulut. 'oh astaga, mulutku memang tidak bisa di ajak kompromi.' batin Marwa melihat raut wajah sedih Syakira yang kini mengambil air minum.
"Ibu, kak. Aku pamit untuk ke kampus."
"Kau tidak sarapan dulu?" tanya ibu Mertua mendekati menantunya dan marwa mendapat cubitan kecil bagian pinggang dari ibunya.
"Aku akan sarapan di kampus ibu." jawab Syakira tersenyum.
"Gak perlu, ibu. Syakira rindu sarapan di kampus bareng teman-teman," tolak Syakira. "Aku pamit ya ibu."
"Ya sudah, kamu yang hati-hati bawa mobil." pesan ibu mertua.
"Aku saja yang antar kamu, dek. gimana?" sahut Marwa yang merasa bersalah. "Ayolah! aku bosan di rumah. ini faktor rindu dengan suami juga." Marwa mengedipkan matanya niat menghibur adik iparnya.
"Baiklah," Syakira menyetujui permintaan kakak iparnya.
Sepanjang perjalanan, Marea akhirnya meminta maaf. "Maafkan kaka ya. jangan masukin ke hati omonganku tadi. Aku hanya kesal saja sama nenek jadi-jadian itu."
"Gak boleh gitu, kak. Apa yang dikatakan ibu benar, Tante Melly itu keluarga kakak, istri dari paman kakak sendiri." ulang Syakira.
"Iya, sih. tapi namanya juga orang tida baik seperti itu sekali-kali jangan kasi hati. Kasih hati mau jantung. heran aku."
60 menit kemudian, Syakira sampai di kampus. Melihat Syakira masuk di kampus, marwa melanjutkan perjalanannya.
"Syakira!" pekik Ana melihat Syakira datang juga ke kampus.
"Kenapa Ramai aula di sana?" tanya Syakira.
"Ada pertemuan anak fisik."
__ADS_1
"Pertemuan apa?"
"entah, itu urusan mereka. Kantin yuk!" ajak Ana.
duduk di kursi panjang sambil menunggu pesanan mereka. seorang pria datang menghampiri Ana.
"Ana?" tegur pria itu pada Ana.
Ana dan Syakira menoleh pria tinggi berkulit sawo matang. "siapa ya?" sahut Ana.
"Kamu tidak mengenalku?" kata pria itu lagi.
"Tapi kamu pasti kenal Mario, kan?"
"Mario? maaf, yang gendut itu? Apa kamu tau kabarnya?" tanya balik Ana yang ingat Mario teman SD-nya dulu sering di buli dan Ana sebagai pahlawannya.
"Apa aku boleh duduk?"
Syakira menyahut." Silahkan."
Mario menatap pada Ana. Syakira yang paham situasi pura-pura pamit menuju toilet.
"Ke toilet, kenapa bawa tas?" sahut Ana yang sejujurnya merasa tidak enak pria yang duduk di depannya serta tidak di kenalnya terus menatapnya.
"Aku bawa tas, takutnya kak Rama menelpon. uda deh kebelet nih," alasan Syakira mengukir senyum melihat sahabatnya yang selama hidupnya belum ada pria sama sekali hinggap di hatinya.
"Ya sudah deh, sana-sana! awas saja kami lama!" teriak Ana merasa grogi terus dilihat oleh pria tinggi yang sekarang duduk pas di hadapannya.
"Kenapa kamu melihat aku? ingat kita bukan mahram. Awas saja itu mata."
"Kamu mengingatkan aku pada seseorang."
"Maksudnya?"
"Kau benar-benar melupakanku, Ana." Ujar pria itu.
"Ya mana aku ingat kamu, kamu siapa dan darimana dan anak siapa?"
"Aku Mario."
Deg.
"Mario si gendut?"
Mario mengangguk sambil tersenyum mengingat anak dulu sering memanggilnya gendut, jika Ana marah.
"Kenapa wajahmu, Berubah Mario?"
"Terlihat tampan atau jelek?" goda Mario.
__ADS_1
"Tampan dikit sih," jawab Ana malu-malu."