
" Paman Alfred. Apa kabar mu? " Sapa Steffi menyapa kepala pelayan di mansion nya. Dia kemudian menolehkan kepalanya " Queen? " Sapa nya pada pelayan wanita itu.
"Nona masih ingat padaku? Apa kabar Nona? " Sapa nya. Senyuman lebar Steffi ke arah mereka. Queen mengantarkan majikannya ke kamar nya. Steffi menatap sekeliling kamar nya masih sama saat ia meninggalkan nya waktu itu.
Tak ada yang berubah. Hanya dirinya yang berubah menjadi mengenaskan hamil di luar nikah dengan asmara yang berakhir berantakan.
Setelah membersihkan diri Steffi memilih mengenakan gaun tidur satin selutut kemudian beristirahat tiduran di ranjangnya. "Kurasa aku harus mendekorasi ulang kamar. " Pikir Steffi setelah beberapa kali menguap tak lama ia pun terlelap.
Steffi mengerjapkan mata saat indera penciuman menangkap aroma parfum khas yang dikenali nya. "Steven? " Seru nya. Lelaki itu tersenyum menatap wajah bantal adiknya.
"Apa kabar mu cantik? Senang kau kembali. " Bisiknya seraya memeluk wanita itu.
"Aku kangen kamu, Steven. Maafkan aku membuat mu susah. " Gumamnya. "It's okay. Jangan pikirkan lagi, yang lalu. Fokus pada kamu sayang. Ini bukan salah mu. Aku akan membuat perhitungan dengan mereka. " Balas Steven Gerrard mengusap surainya Steffi.
Lelaki itu sudah bergerak membalas kembali satu persatu luka hati Steffi. Dengan memenjarakan ibu nya Aryo dan membuat bisnis keluarga itu hancur. Juga kekasih Kevin, lelaki yang mengencani adik kembar nya.
Sekarang tinggal melihat identifikasi bayi Steffi anak siapa Samuel Johnson atau Kevin. Semua masih tanda tanya.
"Kau marah. Aku hafal ekspresi mu Kak. " Steffi berkata lirih dengan menundukkan wajahnya.
"Hei.. Lihatlah kepada ku. Aku hanya sedikit kesal dengan beberapa pekerjaan yang sedikit berantakan. Bukan kamu. " Jawab Steven dengan mengangkat kedua tangannya membingkai di wajah cantik adiknya.
"Jangan kau pendam sendirian! Katakan saja jika kau marah. Aku memang salah dan naif. Kau benar di dunia ini hanya uang dan oleh kekuasaan yang utama. " Steffi berkata kasar dengan penuh kemarahan.
Steven Gerrard tak menjawabnya hanya mengelus puncak kepala Steffi. Lalu ia mengajaknya berjalan keluar dari kamarnya.
Mereka makan bersama, menu sarapan pagi yang sangat di sukai Steffi. Wafel buah dan pancake dengan syrup fla. Sedangkan Steven menikmati kopi nya dengan asyik memainkan benda pipih ukuran 17cm dengan simbol apel di gigit.
__ADS_1
"Jadilah anak manis di rumah. Hingga bayi itu lahir baru kau kerjakan apa yang ingin kau lakukan. Bekerja di rumah sakit atau ikut aku di kantor. " Steven Gerrard memulai pembicaraan mereka.
"Baiklah. Apa aku boleh pergi keluar sesekali? " Steffi bertanya menatap Steven Gerrard ragu. "Tentu, namun kau tak sendirian. Ada yang menemanimu agar kalian aman tentunya. " Jawab Steven Gerrard santai.
"Aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu, sayang. " Steven Gerrard bangkit dan mencium puncaknya Steffi dan berlalu.
"Aku ingin merombak kamar agar dapat bersama dengan si kecil nantinya. " Seru Steffi saat Steven Gerrard melangkah dia langkah dari nya.
"Tentu. Lakukanlah, mereka akan membantu mu. Kartu mu dan semuanya ada di laci meja. Gunakan saja! " Ujarnya sambil lalu.
Sesuai membersihkan diri Steffi mengenakan pakaian yang muat untuk nya, dan turun menuju ruang makan. Alfred dan Queen sudah menunggu nya.
"Maaf, aku terlambat. " Kata Steffi seraya duduk di kursi yang di bantu Alfred sang ketua pelayan.
"Jika Nona tidak turun dalam 20 menit maka kami akan mengantarkan sarapannya ke atas. Nona masih saja di waktu yang sama jika sarapan. Berbeda dengan Tuan. " Jawab Queen sopan dan hormat.
"Sudah kewajiban kami. " Jawab keduanya serempak. Steffi hanya tersenyum kecil.
"Queen, nanti temani aku periksa dan membeli keperluan untuk baby ku." Steffi menatap Queen dengan sorot memohon.
"Tentu Nona, dengan senang hati. " Jawab wanita itu dengan wajah berseri.
"Saya permisi, Nona. Akan meminta sopir untuk mengantarkan dan menemani kalian. " Alfred memohon diri untuk menghubungi sopir pribadi dengan ponselnya. Steffi hanya menganggukkan kepala.
Seusai sarapan Steffi memilih ke klinik pribadi yang ia ketahui. Seusai memeriksakan kandungan nya ia menuju ke mall terbesar di sana.
"Sungguh ini lebih menarik dari terakhir aku kemari. " Gumamnya. Queen hanya tersenyum melihat binar mata si bumil.
__ADS_1
Mereka menuju baby store. Steffi memilih stroller, lalu bed baby lengkap dengan kelambu. Juga bajunya yang lucu. Ia belum menanyakan jenis kelaminnya. Karena ia hanya fokus pada kesehatan dan keselamatan baby nya.
"Nona hanya membeli sedikit baju, sepatu dan kaos kaki? " Tanya Queen sambil mengerutkan dahinya.
"Baby biasanya cepat besar, jadi beli seperlunya saja. Nanti beli lagi. " Jawab Steffi memilih sepatu baby. Semuanya warna kuning dan biru.
"Warna ini yang bagus untuk ke-dua jenis kelaminnya. Aku tak bertanya jenis kelaminnya. Nanti saja jika sudah mendekati akhir lahir saja. " Jelas Steffi pada Queen.
"Kita beli baju ku ya? Rasanya tak nyaman memakai pakaian yang pas di badan. " Celetuk Steffi. Queen hanya tersenyum mengikuti majikannya.
Demikian juga sang sopir yang ikut membawa paper bag belanjaan Steffi. Saat memilih pakaiannya di seberang butik nya adalah store perhiasan.. Steffi melihat Samuel Johnson dengan seorang wanita berpakaian seksi, dengan rambut ikal berwarna pirang.
Sesekali mereka berciuman. Steffi melihat saja seperti patung. Air mata hendak turun sudah dia hapus. Dan berpaling dari nya, tak ingin melihat ia buru-buru membayar ke kasir dan berlalu sesegera mungkin.
"Untung saja tak berpapasan, entah apa yang ku katakan pada nya. " Batinnya bermonolog. Steffi menuju ke food court dan memilih duduk dan menyuruh sopir dan Queen untuk menemani ia makan.
Ayam grilled dengan saus BBQ, pudding potato panggang dan jus dia pilihannya. Ia langsung melahap semuanya saat mereka sampai dan menata makanan itu di depan nya. Queen dan sopirnya yang memesan juga membawakan makanan mereka bertiga.
Duduk bersama di meja kecil mereka melahap makanan tanpa perbincangan.
Mata Steffi melebar saat melihat Samuel Johnson ada di pintu masuk food court yang hanya berjarak beberapa meter tempat Steffi duduk.
Terlihat juga Samuel Johnson melihat nya tak berkedip. Memindai semuanya yang ada padanya. Samuel tak mengetahui jika Steffi dalam keadaan hamil.
Karena dia dalam keadaan duduk dan di tutupi kedua bawahannya. Steffi memilih memutuskan pandangannya, mengunyah makanan nya.
Seolah-olah tak melihat Samuel Johnson di sana. "Sayang. Kita duduk di sana yuk. " Kata sang wanita yang bergelayut di lengannya. Mereka berjalan melewati Steffi dan duduk di sebelah barat nya.
__ADS_1
"Aku selesai. Tolong kalian lelaki yang baru duduk itu. Jika ia mengikuti aku. Kita bertemu di pintu keluar sebelah utara. " Bisik Steffi lalu ia berdiri untuk berjalan keluar.