Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
21. Sedikit harapan


__ADS_3

Di belahan benua lain. Seorang lelaki memasuki ruangan besar bernuansa hitam dan putih. "Apa yang kau lapor kan tentang semuanya benar adanya? " Tanya lelaki yang duduk di kursi singgah sana nya menatap bawahan nya yang baru saja masuk menghadap nya.


"Semuanya benar adanya. Mata-mata kita sudah melakukan tugasnya dan melaporkan lewat surel. Foto-foto sudah di sertakan juga. " Jelasnya dengan menundukkan wajahnya.


Lelaki yang duduk tersebut tak lain adalah kakak Steffi. Steven Gerrard pimpinan DSG Company.


"Berani mereka mempermainkan perasaan adikku. Sudah bosan hidup? Bereskan keluarga Ario Prasetyo. Juga siapa pun yang menyakitinya. Dan jemput dia pulang." Titahnya.


"Untuk apa bersusah-payah untuk menggapai mimpi mu sayang. Jika kau dapat mendapatkan sesuatu dengan mudah, mengapa kau lebih memilih untuk bersakit-sakit ria, jika kau dapat menggapainya dengan mudah, " Gumaman Steven Gerrard menatap foto close up sang adik.


Steffi menutup minimarket bersama Robin. Mereka bersama membersihkan area minimarket lebih dahulu sebelum keluar dan menguncinya. Biasanya Robin yang mengambil dan mengembalikan kunci ke rumah sang pemilik.


Wanita itu memutuskan mampir ke tempat penjual buah yang ada di ujung blok kawasan itu. Dia memilih berjalan karena itu bagus untuk kehamilannya. Nahasnya ternyata dia di begal oleh sekelompok orang di ujung gang yang sepi.


Ia memilih jalan pintas untuk pulangnya, namun sepertinya mereka sudah menunggu nya. "Bersenang-senang lah bersama kami cantik. Toh kau juga sudah pernah melayani dia! " Teriak sang lelaki bertato seraya berjalan mendekat.


Yang lainnya ikut tergelak dan bercuit menyambut seloroh omongan nya. Tubuh Steffi gemetar keringat dingin timbul di kedua pelipis nya. "Jangan mendekat! Pergilah! Aku hanya memiliki sedikit yang! " Ucapnya gemetaran seraya melemparkan dompetnya dan buah yang di belinya barusan.


"Kami hanya mau tubuhmu! " Celetuk yang ada dibelakang. Ha... Ha... Ha... Suara tawa riuh berderai membuat bulu kudu Steffi meremang. Braak. Sebuah serangan dari belakang Steffi menyerang ke arah mereka.

__ADS_1


Baku hantam terjadi, perkelahian dia lawan lima, Steffi beringsut lari kembali ke jalan awalnya, tanpa menoleh kebelakang.


Akhh.. Steffi berteriak kala ada yang menjambak rambutnya. Namun hanya sesaat karena sudah terkapar orang yang menarik rambutnya itu. Ia sempat terhuyung kehilangan keseimbangan. Namun di tolong dengan sigab, bahkan dalam keadaannya itu ia mampu menangkis serangan para preman.


"Pergilah! " Seru salah satu sang penolong. Steffi pun menurut ia pergi meninggalkan tempat kejadian. Namun baru beberapa langkah sudah di sergap dan di bius di masukkan ke dalam mobil minivan.


"Kau sudah bangun wanita murahan! Beraninya kau goda kekasihku! " Suara melengking nyaring membuat Steffi tersadar juga rasa nyeri pada kepalanya.


Rambutnya yang ditarik kuat membuat kepalanya berdenyut. "Perempuan kotor! Kau gunakan tubuhmu untuk memikat nya! " Maki nya lagi.


"Britney jangan keterlaluan! Dia sedang hamil. " Seru Alex. Wanita itu mendengus kesal, "Lalu aku harus mengucapkan selamat karena itu! " Sahutnya ketus. "Ingat, hanya memberi peringatan saja tak lebih! " Sekali lagi Alex menegaskan.


Steffi meringis kesakitan menatapnya memohon. Britney meninggalkan nya sendiri di gudang, Alex membuka ikatan kedua tangannya dan berlalu mengikuti wanitanya. Steffi meringis kesakitan dan menangis sesegukan. " Apa salahku? Kenapa semuanya jahat padaku? " Tertatih ia berjalan keluar dari gudang tersebut. Matanya meredup menatap lingkungan sekitarnya yang tak ada tanda kehidupan. Sepi dan terbengkalai.


"Di mana aku? Lapar. " Wanita itu berjalan perlahan meninggalkan tempat tersebut. Melihat jejak ban mobil yang sudah membawa dirinya ke tempat itu Steffi berpikir itu jalan keluarnya. Hanya mengandalkan instingnya saja. Langkah nya terhenti saat sampai ke jalan raya utama. Dari jejaknya mobil berbelok ke kiri.


Dia mengikutinya terus.. " Semoga ada orang baik menolong ku. " Batinnya, letih, haus dan lapar menyergap nya. Namun ia harus bergerak terus meninggalkan tempat itu.


Dari arah berlawanan. Agam Darmawan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia ada keperluan pekerjaan di luar kota. Karena ada masalah dengan pihak pengembangan maka ia tanpa direncanakan akan melihat nya secara keseluruhan. Laju mobilnya diperlambat saat melihat ada orang di pinggir jalan bebas pemukiman yang ada hamparan tanah kosong.

__ADS_1


"Mayat atau korban penodongan? " Pikirnya, dari penampilan nya seorang wanita. Ia melihat tak ada CCTV-nya. Ia pun turun saat menghentikan mobil satu meter dari tempat orang itu tergeletak. "Steffi? " Gumamnya, lebih lagi wanita itu hamil, ia mengangkatnya dan memasukkan ke dalam mobil.


Dia mengambil botol air dan memercikkan sedikit. "Steffi? " Panggil nya. Steffi meringis kesakitan dan membuka matanya. Wanita itu ketakutan mundur di pojok mobil. "Tenang lah, aku Agam. Lihat baik-baik. " Kata Agam pelan. Steffi meringis dan menatapnya.


"Ada yang menculik ku. Perutku sakit dan aku haus, lapar. " Keluh Steffi masih meringis. Agam menyodorkan air dan mengambil roti yang di bawanya tadi, kemudian di berikan pada Steffi.


" Tenanglah, aku akan membantu mu.. Kita akan mencari rumah sakit untuk mu. " Hibur nya. Ia pun beralih duduk di kursi kemudi. "Kita berangkat sekarang untuk memeriksa keadaan mu dan bayi mu. " Ucapnya menenangkannya.


Agam mampir di toko baju wanita untuk membeli beberapa pakaian wanita lengkap. Ia juga membawa nya ke tempat mandi umum. Karena kondisi Steffi yang berantakan. Seusai itu mereka ke rumah sakit yang dilalui oleh perjalanan Agam.


"Semuanya baik-baik saja pak. Mohon jangan terlalu sering olahraga malamnya, Ibu jadi keletihan dan hampir dehidrasi. " Ucap sang dokter sambil menuliskan resep vitamin. Steffi menundukkan wajahnya dan Agam Dewangga hanya membuang muka karena tak tahan ucapan sang dokter.


Mereka terdiam saat berjalan beriringan ke parkiran rumah sakit. "Sebaiknya kau ikut aku dulu, takutnya mereka mencari mu lagi. Aku keluar kota nanti kau akan ku carikan tempat. Dan jangan khawatir tentang apapun. " Ucapan Agam Dewangga membuat Steffi terhenyak dari lamunan. Ia hanya mengangguk pelan. "Semoga kali ini aku dapat tenang bersama bayiku. " Batin Steffi sambil ngelus perut buncit nya.


Agam membawa nya jauh keluar kota dan menempatkan di rumah nya. "Clathria tak tahu tentang rumah ini juga Kevin. Kevin anak kakak ku yang meninggal dunia karena kecelakaan. Aku sudah dipanggil nya Papa saat pertama ia dapat bicara."


" Karena itu ia terdaftar sebagai putraku. Dan anak kami dulu tak dapat dilahirkan. Kandungan Clathria bermasalah. Ku harap kau jaga kesehatan mu. Ada yang membersihkan rumah dan kebun, mereka ku perkerjakan di sini. Dan tinggal di belakang rumah utama. " Jelas Agam Dewangga.


Steffi mengangguk paham dan tersenyum. "Terimakasih, Agam. Aku tak menyangka akan seperti ini hidup kita. " Ucap nya. Agam Dewangga hanya mengangguk paham.

__ADS_1


__ADS_2