
Rama kembali mengulang pertanyaannya dengan Syakira yang masih memeluk dirinya.
"Iya kak, aku hamil!" Syakira memperlihatkan dua garis merah pada sebuah benda kecil seperti lidi yang sedari tadi di bawahnya.
Dengan wajah bingungnya Rama mengambil benda tersebut dari tangan istrinya. Berulang kali Ia melihat benda itu dengan dua garis merah yang ada di sana.
Andai bukan keadaannya mungkin Rama sudah menggendong istrinya berkeliling satu komplek dengan berteriak bahagia. Namun, itu harus Ia kubur.
bisikan seakan datang memberi obat pengaruh. Sebisanya menepis pikiran negatifnya dengan berfikir positif ke pada istrinya. Rama berusaha menenangkan pikirannya. Akan tetapi tetap saja Ia mengeluarkan kata,
"Ini tidak mungkin Syakira. Ini tidak benar," Sanggah Rama. "bagaimana bisa kamu hamil?" pertanyaan tidak masuk akal membuat Syakira hampir shock.
Syakira melepas pelukannya sendiri. Kemudian menatap wajah suaminya, "Apa maksudmu, kak? Kau menganggap aku wanita apa, kak? Bagaimana bisa kakak seperti menyangkal atas kehamilanku. Kenapa kakak membuatku kecewa."
Rama menatap istrinya. "Kau tidak akan pernah paham dengan keadaanku. Syakira, maafkan aku! Bukan seperti itu, hanya saja aku masih tidak percaya dan bahkan kau pasti akan...."
"Pasti akan apa, kak? jelaskan padaku, kak! Bagaimana aku bisa paham, jika kakak tidak menjelaskan padaku," Sela Syakira meminta penjelasan pada keluarga lainnya.
Ibu Rama memilih diam. Ada rasa was-was dalam dirinya menyaksikan keadaan sekarang. Begitu juga dengan nenek. Rasa serba salah dalam diri mereka mulai muncul. Bingung harus bagaimana. Tidak percaya anak menantu perempuannya hamil dan Rama putra mereka tak bisa memiliki keturunan.
"Nenek, ibu, kakak. Katakan pada Ira, apa yang kalian sembunyikan pada diriku? Mengapa kalian tampak tidak bahagia dengan ke kehamilanku? Katakanlah!" Rengek Syakira melihat keluarga secara bergantian.
Semua diam dengan melihat ke arah Rama. Mereka berharap Rama mau buka mulut. Rama mengusap wajahnya berulang kali. Mengapa tidak ada keberanian untuk jujur. Ia benar-benar menyalahkan dirinya sendiri.
"Ayo jawab, kak! Ada apa ini? mengapa kau tampak tidak bahagia degan kehamilan istrimu sendiri? Bukankah kabar ini yang sedang kita tunggu? Bukankan kehamilan ini adalah impian kita bersama, kak? Apa kakak menganggap ini lelucon?"
"Ini tidak mungkin, Syakira. Bagaimana aku percaya pada diriku sendiri sementara aku pria ma_" perkataan Rama tidak sampai dengan suara yang tiba-tiba terdengar.
"Bagaimana mau percaya, anak dalam kandungan kamu bisa jadi anaknya Leon!" tuduh Maura yang tiba-tiba datang bersama tante Melly dengan suara memenuhi satu ruangan.
Semua menoleh ke arah sumber suara. Rama mendengar nama Leon disebut tidak tahan dan berteriak. "Diam, Maura!"
"Rama! Kenapa kamu berteriak seperti kerasukan!" teriak balik Tante Melly.
"Sudah cukup!" teriak kakak Rama yang tidak suka kehadiran Maura dan Tante Melly pagi-pagi.
__ADS_1
"Apa kalian tidak percaya dengan yang barusan aku katakan? Anak menantu-mu Syakira bisa jadi sudah berselingkuh dengan Leon, ketika Rama masih di New York!" tuduh Tante Melly yang mengetahui Fakta tentang Rama.
Maura ikut bingung papar Tante Melly. Ia melihat Rama tampak tidak baik. Maura mendekat memegang lengan Rama di depan Syakira yang terdiam.
"Hei, wanita selingkuhan Leon! bilang saja kamu selingkuh! Mana ada orang percaya itu anaknya Rama. Tapi ya, mana ada pencuri mau mengaku."
"Tutup mulutmu, Maura!" bentak Rama. "Ia menarik tangan Maura untuk keluar dari rumahnya.
Semua kaget melihat sikap Rama tak biasanya. Maura Ia tarik paksa keluar dari rumah itu.
"Rama, lepaskan Maura! Mengapa kamu memperlakukan Ia seperti bukan manusia!" teriak tante Melly yang melihat keponakannya terseok-seok akibat ulah Rama. "Harusnya Syakira yang kamu usir bukan Maura!" teriak Tante Melly.
Rama mendorong tubuh Maura cukup keras yang membuat Maura tersungkur ke lantai. Rama mendekat ke arah Tante Melly dengan tatapan tajamnya.
Tante Melly mundur beberapa langkah melihat raut wajah ponakan suaminya itu yang tak biasanya.
"Coba ulangi! kalian meminta aku mengusir Istriku? Baiklah!" Rama berteriak di depan wajah Tante Melly
Keluarga Rama mendengar barusan tidak percaya. Maura yang yang tadi tersungkur segera berdiri merasa kemenangan akan Ia gapai.
"Kalian meminta aku mengusir istriku bukan?" Rama melangkah menghampiri istrinya. "Aku akan mengusirnya menjauh dari nyamuk seperti kalian." tunjuk Rama pada Tante Melly dan Maura.
"Rama, kenapa kamu mengusir tante seperti itu. Kamu masih mempertahankan istrimu yang jelas-jelas selingkuh darimu?"
"Melly! jaga ucapan mulutmu sedikit. Kalau kau tidak tahu apa-apa, jangan menuduh sesuatu hal yang bisa menimbulkan fitnah. Seribu kali kamu membunuh, dosanya jauh lebih besar dari Fitnah, Melly!" bentak nenek pada anak nantinya Melly. Kemudian, nenek mendekati Syakira, lalu merangkul cucu menantunya itu.
Bersamaan dengan itu Syakira sudah tidak bisa menahan tangis. air matanya sudah lolos begitu saja. Ia pun menoleh kearah Rama. Tante Melly dan Maura saling menatap satu sama lain.
"Hei, tukang selingkuhannya Leon! Kamu pikir dengan kehamilannya kamu, bisa mengembalikan kepercayaan Rama? tidak!" tukas Tante Melly.
"Melly, tutup mulutmu! Biarkan Rama yang menjelaskan." Tegur nenek lagi.
"Kenapa menunggu Rama yang berbicara kalau mulutnya saja Ia tidak mau jujur. Apa kalian masih mau mengakui anak yang dikandung Syakira adalah anak dari Rama, iya?"
"Tante Melly stop memojokkan aku. Mengapa kalian menuduhku seolah-olah anak yang dalam rahimku bukan anaknya Kak Rama. kenapa? Kak Rama berikan aku sebuah alasannya! Mengapa diam?" pinta Syakira yang masih dalam pelukan nenek.
__ADS_1
Bibir Tante Melly ingin rasanya berteriak. Hanya saja, nenek terus memberikan kode agar fakta yang Ia tahu biarkan Rama yang menjelaskannya.
Maura kembali memegang lengan Rama, seketika ditepis kasar oleh Rama. Ibu yang mengetahui keadaan mengapa Rama tidak ingin buka mulut, segera meminta dengan baik agar Maura kembali ke rumahnya.
"Ratna, Kenapa kau mengusir ponakan ku? Apa salahnya Ia di sini?"
"Ini urusan Rumah tangga Rama, dek Melly. Jika dek Melly tidak suka terserah! bila perlu dek Melly juga boleh pulang. Aku tidak ingin rumah tangga anak saya diganggu oleh orang lain. ini keluargaku, dek. Aku berhak menjaga privasi keluargaku. Jadi tolong, jangan memperkeruh keadaan." Usir Ibunya Rama pada Melly yang merupakan adik ipar dari ayahnya Rama dan Maura.
"Kak Ratna ini bukan kamu! kamu berubah Ratna. O ... apa karena kamu terlalu bangga dengan menantu-mu yang sok alim ini?"
"Tante!" teriak Rama. "Dia istriku, jangan pernah tante atau kamu Maura merendahkan dirinya. Aku hanya butuh ketenangan sekarang, jadi tolong, keluar!"
"Ok. silahkan kalian selesaikan masalahmu, tapi aku tidak yakin anak yang ada dalam rahimmu, Syakira. Adalah keturunan keluarga ini. Cih!"
"Tante, tak mengapa kau menuduhku dengan hal yang tidak pernah terjadi atas apa yang di tuduhkan padaku. Tapi, mungkin baiknya tante mengoreksi diri tante sendiri. Dan kau Maura, silahkan terus berharap dengan suami orang lain, maka kau tidak akan pernah merasakan bahagianya dunia," Maafkan saya. saya hanya membela sebuah kebenaran," Sela Syakira yang melepaskan pelukannya dari nenek.
Tante Melly begitu garang mendengar perkataan Syakira. Ia menoleh ke arah Maura. "Ayo Maura, kita pulang."
Syakira mendekati suaminya yang terlihat sedari tadi amarahnya tertahan. Rama mengangkat kepalanya. Syakira kembali berkata, "Kebenaran apa yang kamu sembunyikan dariku, kak. Sebisa mungkin aku akan bersabar, tapi tidak untuk kamu ragukan aku," kekeh Syakira meminta Rama untuk buka mulut.
Rama berdiri melangkah menuju lemari yang ada. Lalu, Ia membuka laci lemari itu. kemudian, Ia mengambil sebuah amplop panjang yang merupakan hasil diagnosa beberapa dokter. Mulai dari diagnosa beberapa dokter di New York sampai hasil diagnosa beberapa dokter di kota itu.
Syakira cukup bingung melihat ada beberapa amplop yang diberikan Rama untuknya.
"Buka semua amplop itu, maka kamu akan tahu apa yang menjadi kekurangan suamimu. Itulah yang selama ini aku pikirkan bagaimana caranya aku mengatakannya padamu." Rama kembali duduk di sofa.
Syakira dengan tangan gemetar mengambil satu amplop. Sebelum Ia membuka amplop itu ia melihat semua keluarga yang ada di sana. Nenek sendiri sudah duduk di sofa dengan Air mata yang tak terbendung lagi.
"Bismillah." Syakira mulai membuka amplop pertama. Dari atas Ia membaca pelan-pelan hasil diagnosa itu. '95% Di nyatakan Mandul'.
Deg!
Tubuh Syakira seakan lemas. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dibacanya. Syakira kembali membuka amplop berikutnya dengan gerakan cepat, hingga sampai semua amplop yang ke sembilan Ia buka. Kemudian kembali Ia mengambil amplop terakhir yaitu amplop yang kesepuluh dengan dokter yang berbeda tetap saja hasil yang sama.
"Ini tidak mungkin! tidak! kakak tidak man ... tidak!" pekik Syakira dengan kepala dunia seakan berputar-putar hingga akhirnya Syakira pingsan.
__ADS_1
"Syakira!" teriak Rama.