Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
Waktu berputar


__ADS_3

Waktu yang berharga membuat kita tersadar betapa pentingnya setiap kesempatan. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang pasti akrab dengan yang namanya waktu.


Bagi sebagian orang, waktu itu sangat berharga karena waktu terus berjalan dan tak akan bisa terulang. Setiap waktu yang ada begitu berharga dan rugi untuk dilewatkan.


Kunci utama dari kehidupan yang bahagia terletak pada tiga perkara yakni bersyukur dalam keadaan apapun, bersabar atas kesulitan dan ikhlas menerima segala ketetapan (takdir) Tuhanmu.


Tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak bersyukur. Karena pada dasarnya terdapat banyak hal yang membuat manusia patut mensyukurinya, dan itu menjadi lebih baik dari pada harus mengeluh


Anak-anak Rama duduk termangu mendengar Ceramah singkat Sang bunda, Syakira usai shalat ashar. Ya, itulah tugas Syakira. sebagai seorang ibu. Menanam Ilmu agama pada putra-putra dan putrinya.


Rama duduk di belakang Syskira ikut menyimak tanpa Syakira sadari, jika sedari tadi Rama di sana. Arju dan Arja terkekeh melihat abi-nya duduk sila dengan serius di belakang sang bunda.


"Arja, Arjun, kenapa tertawa?"


Arja menutup mulutnya menutupi giginya yang sudah mulai ompong. Sedangkan Arja yang yang terlihat datar langsung diam, Sementara Adina yang begitu cerewet langsung menunjuk abi-nya.


"Abi di belakangnya bunda!" tunjuk Adina berdiri dan langsung memangku-kan tubuhnya pada sang ayah yang kerap mereka panggil, Abi.


Syakira menoleh dan melihat Rama di belakangnya. Spontan Syakira begitu terkejut mendapati Rama masih lengkap dengan pakaian kantornya.

__ADS_1


"Kamu tidak menyambut kedatanganku?" Rama berbisik menghindari Adina yang kini duduk memangku pada sang ayah sambil memainkan dagu Rama yang hampir sudah di tumbuhi rambut halus.


Syakira tidak menjawab, Justru menoleh pada putra-putra dan putrinya. "Anak-anak, dakwah singkat sore ini kita akhiri ya, ingat, hafal kalian di setor usai shalat magrib sebentar.ok!"


Adina langsung beranjak dan berkata dengan girang. "Beres Bunda, Adina sudah hafal kok. Bunda tenang saja," Putri kecil itu pun mengecup punggung tangan Rama dan Syakira secara bergantian.


Berlanjut Arja, Arja berdiri dan melangkah ke arah Rama dan Syakira duduk. Arja langsung memberi hormat. "Siap, Abi, Bunda. Tenaga saja, Arja juga sudah selesai hafalannya. Lihat saja nanti."


"Benar? Tidak ada lagi alasan lapar saat menyetor hafalan?" Syakura memastikan. Mengingat hari sebelumnya, Arja menghindari hafalannya dengan alasan lapar.


"Benar, dong. Bunda. Kali ini Arja serius, kok."


"Iya, bunda, aku tidak mau masuk neraka. Aku tidak mau berteman dengan ... Arja takut. Nanti Allah marah sama Arja."


Syakira tersenyum begitu juga dengan Rama. Rama mengelus lembut kepala putranya. Arja pun meraih tangan Bunda dan Abinya lalu mengecup punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian. Kemudian berlalu masuk ke kamar masing-masing.


Kini giliran Arju. Arju yang masih setia membaca buku, beranjak setelah mendengar panggilan dari Syakira, sang bunda. Diantara anak-anak syakira dan Rama, Arjalah yang terlihat datar, kurang senyum, akan tetapi sangat jenius.


"Arja, baca apa, Sayang. Ayo sini!"

__ADS_1


"Arja baca buku, Bunda."


"Ya, sudah. Arja mandi dulu, ya."


"Iya, Bunda," jawab Arja. Begitu Syakira mengulurkan tangan untuk di salim, justru Arja mengecup pipinya yang membuat Syakira membulatkan matanya tidak percaya dengan yang barusan Arja lakukan. Begitu juga dengan Rama.


"Assalamu'alaikum, bunda, ayah. Arja masuk, kamar.


Rama hanya mengusap kepala putranya. Sementara Syakira masih terdiam.


"Sifat siapa tuh? Jangan-jangan sifat turunan dari ayahnya!"


"Sifat bunda nya, mungkin.


"Fotocopy kita berdua, Abi. Syakira malas berdebat dan masuk kamar untuk membersihkan diri, karena jam sudah menunjukkan 15:26.


...END...


Maaf, ya. sekian cerita Rama dan Syakira. Makasih.

__ADS_1


__ADS_2