
Semua kelurga mengetahui kondisi Syakira memilih untuk tidak memberitahukan. kedua orang tua Syakira tampak begitu khawatir dengan putrinya.
Sementara, Syakira yang belum mengetahui kondisinya terlihat bahagia saja. Ia berulang kali mengusap perutnya yang masih rata.
Sudah berapa jam Ia tidak melihat suaminya bersama keluarga di sana dan akhirnya Ia pun bertanya. "Ibu, di mana kak Rama?" tanya Syakira.
ibu mertua pun mendekat ke arah menantunya. "dia ada urusan sebentar."
"Jadi, kapan aku bisa keluar ibu? Aku sudah merasa bosan di rumah sakit ini."
"Kita tunggu dulu sampai dokter mengijinkan pulang," sela ibunya Syakira.
"Ibu, apa kata dokter mengenai diriku. Apakah janin dalam rahimku baik saja?"
"InsyaAllah, semua baik saja, nak," papar Ibunya Syakira lagi yang saling menatap dengan ibunya Rama.
"Maksud ibu, itu artinya janinku dan aku dalam keadaan tidak baik?" tanya Syakira yang menanggapi perkataan ibunya.
Ia terlalu cerdik dalam menganalisa setiap jawaban yang terpapar.
"Bukan seperti itu sayang," Sahut ibunya Rama.
"Jangan ada yang menyembunyikan lagi sesuatu dariku. Aku tidak suka. Apa pun hasilnya katakan saja padaku," kata Syakira.
Ibunya Rama dan Ibu Fatimah hanya bisa diam. Mereka belum berani mengatakan sesuatu, karena hasil diagnosa Syakira belum keluar.
Namun, dibalik kekhawatiran mereka masalah Rama yang di vonis oleh dokter sebagai Pria Mandul ternyata tida benar.
"Apa maksud dokter, jika hasil kemarin salah?" tanya Rama menatap dokter di depannya.
"Begini, ada yang sengaja manipulasi hasil diagnosa anda, tuan."
"Apa tujuan mereka melakukan ini?" Rama cukup terkejut mendengar fakta itu dan berfikir siapa pelakunya?
"Bisa saja karena kepentingan pribadi, tuan. Apakah tuan memiliki musuh?"
Rama pun berfikir sejenak. "Sepertinya tidak ada, dok," ujar Rama.
Dokter itupun mengangguk dan memberikan hasil diagnosa milik Rama.
Setelah mengambil hasil tersebut Ia pun menuju laboratorium untuk mengambil hasil diagnosa istrinya.
kemudian, Rama kembali memberikan hasil itu pada dokter yang menangani Syakira. Tampak wajah dokter itu menggambarkan hasil yang tidak baik. Rama bisa menebak hal itu.
"Katakan saja, dokter. Apa hasilnya?" tanya Rama yang sebenarnya tidak mampu mendengar kejujuran dokter.
"Maaf, hasilnya mengatakan benar adanya. Istri anda mengidap penyakit kanker rahim. Dan besar kemungkinan perkembangan bayinya akan terganggu," papar dokter tersebut.
Rama hanya bisa tertunduk apa yang ia dengar dari dokter. Seakan dunianya kembali berputar. Ujian tak berhenti datang menimpanya. Ia benar-benar terpukul kembali mendengar kenyataan yang harus di derita pada orang terkasih.
"Aku sarankan Nona Syakira diberitahu, karena biar bagaimana pun Nona Syakira pasti akan tahu seiring dengan berjalannya waktu. Apa lagi ini menyangkut dua nyawa, tuan."
"Apa masud, Dokter?" Rama kembali mengangkat wajahnya. "Dua nyawa, apa maksudnya?"
"Tuan, dengarkan dulu penjelasan dokter," asisten dokter itu meminta Rama untuk tenang.
"Begini tuan, ketika umur janin sudah bisa dilakukan USG baru bisa kita menentukan apakah keduanya sehat atau bagaimana. Berdoa saja tuan, semoga janin dan ibunya sehat saja." jelas Dokter tidak yakin. "Kita manusia biasa hanya bisa berusaha. Terlepas dari itu Tuhan yang menentukan.
__ADS_1
Usai penjelasan Dokter. Rama pun diberikan resep untuk istrinya. juga disarankan Agar Syakira rutin dalam setiap bulan memeriksakan dirinya.
Rama seakan tak mampu untuk mengatakan pada istrinya. Namun sebelum mengambil keputusan, Ia baiknya berdiskusi dengan semua keluarga.
Rama menyandarkan bahunya di tembok Ia rasanya tak sanggup mengatakan di depan istrinya.
"Akh!" teriaknya kembali perasaan itu Sama Ia rasakan saat Ia divonis pria tidak sempurna yang nyatanya tidak benar. Rama juga geram siapa dalang dibalik semua ini? dan apa tujuannya?
Degan pelan Rama membuka pintu kamar rawat inap istrinya. Semua mata menoleh kearahnya. Rama berusaha tegar di hadapan istrinya.
"Rama, apa hasil pemeriksaan kamu, nak?" tanya pak Ikhsan pada menantunya yang mengetahui kondisi Rama.
Mereka tidak menyangka berganti ujian berat menimpa rumah tangga anak dan menantunya.
"Alhamdulillah, ayah. kondisiku tidak seperti apa yang selama ini yang kita tahu."
"Apa maksudmu, Rama? Jadi, maksudnya hasil yang kemarin salah? Bagaimana bisa dokter seperti itu." cerca Ibunya Rama yang merasa kecewa dengan analisa dokter.
Bagaimana tidak. Putranya hampir gila karena diagnosa yang salah. "ini Keterlaluan." geram ibu Rama lagi.
"Ibu, jangan salahkan Dokter. Semua Dokter yang pernah memeriksa saya sudah minta maaf." jelas Rama.
"Rama, apa maksudmu?" panik ibunya Rama yang masih merasa marah pada dokter.
Rama pun duduk didekat istrinya. Syakira mengusap bahu suaminya. "jelaskan sayang, apa yang sebenarnya yang terjadi."
"Ada orang yang sengaja manipulasi hasil diagnosa dokter, sayang."jujur Rama di hadapan istrinya.
"Apa?" pekik semua orang di dalam ruangan itu termasuk ibunya Rama yang terima.
"Iya." jawab Rama.
Syakira menatap suaminya. tampak seperti Rama masih menyimpan rahasia. "Lalu, apa hasil diagnosa tentang aku, kak," Atanya Syakira membuat Rama salah tingkah.
Hening.
.
.
.
Semuanya diam.
.
.
.
"Jawablah, karena aku bisa merasakan kekhawatiran mu, kak. Apa pun hasilnya jalani saja kenyataan yang ada. Aku yakin Allah memberiku ujian punya maksud tertentu. Bisa jadi sebagai penggugur dosa untukku. Bisa jadi sebagai tanda kasih sayangnya untukku. Atau inilah cara Allah memelukku," Sela Syakira.
Rama memeluk istrinya. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Syakira melepaskan pelukan suaminya. "hei, kenapa kamu laki-laki semakin lembek." Canda Syakira.
"Aku lembek?" tanya Rama.
"Iya. seperti adonan kue," Jawab Syakira terkekeh menghibur dirinya sendiri.
__ADS_1
"Benarkah?" goda Rama. "kamu mau mencobanya kembali?" ujar Rama yang berusaha juga menghibur dirinya.
"Boleh. tapi, ada ayah dan ibu disini," bisik Syakira bercanda.
Ibu mertua serta kedua orang tua Syakira pun keluar dari ruangan itu pindah keruangan sebelah. Mereka paham Rama dan Syakira berusaha menguatkan hati masing-masing.
"kak, aku mencintaimu," ungkap Syakira lagi. "jangan melow dong, kak," ucap Syakira lagi.
Rama menatap dalam kedua bola mata istrinya. Syakira terlihat tegar. padahal di dalam Syakira menahan rasa sakit.
Rasa sakit yang sangat menyiksa. sebisa mungkin Syakira menahannya.
"kak, jangan menyembunyikan lagi sesuatu dariku. Seperti yang aku katakan jalani saja kenyataan yang ada.
"Aku pasti akan mengatakannya yang penting kamu janji padaku untuk kuat demi aku dan calon anak kita."
"Apapun itu aku ikhlas, kak. Aku ridho. yang penting suamiku selalu ada untukku. Aku tidak bisa berdiri sendiri tanpamu.
"Kita akan melewati semu ini sama-sama." Kata Rana yang kemudian memberikan hasil diagnosa milik Syakira.
ketika Syakira hendak akan membuka amplop coklat itu, Rama kembali menyitanya.
"kak, kenapa di ambil lagi?"
"Udah bismillah gak?" Rama mengulur waktu.
"Sudah, kak. Ayo sini."
Degan pelan Rama kembali meletakkan amplop coklat itu di atas telapak tangan istrinya.
Syakira pun membuka Amplop coklat itu. Ia membaca kata demi kata hingga menemukan kalimat 'KANKER RAHIM'
Seketika Amplop itu lepas dari tangannya. Air mata lolos begitu saja. Ia mengangkat wajahnya.
"katakan padaku apa ini benar? katakan, kak!" histeris Syakira.
Ayah dan ibu serta ibu mertua kembali masuk di ruangan tersebut melihat Rama memeluk erat istrinya.
"Kamu sudah janji padaku, sayang. untuk kuat menerima kenyataan."
Dengan segera Syakira menenangkan dirinya sendiri. Suaminya benar Ia harus bisa menerima kenyataan.
"Kita akan melangkah bersama menghadapi semua ini," Kata Rama lagi.
"Tapi aku tidak ingin kehilangan janinku. Biarkan dia lahir melihat dunia ini," pinta Syakira. Andai sesuatu terjadi padaku rawat anak kita dengan baik."
"Sayang, jangan berkata seperti itu. Kita bisa berusaha dan berdoa. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan," Sela Rama dalam kesedihannya.
"Kak, aku yang sakit kenapa kamu yang sedih? cengeng tau gak?" ujar Syakira lagi yang mute nya tiba-tiba baik lagi.
Rama kembali memeluk istrinya kemudian menyerbunya ciuman di bagian wajahnya. dan berakhir di **** ranum milik istrinya. cukup lama mereka saling **** untuk menghilangkan rasa lelah di dalam dada masing-masing.
ibu Syakira tak sanggup mendengar kata-kata Syakira. Ia pun keluar dari ruangan itu dan diikuti oleh suaminya.
"ibu, jika Syakira bisa kuat. Mengapa kita tidak," Ujar pak ikhsan pada istrinya.
...Mohon terus dukungan kalian. Maaf baru bisa Up lagi. sebisa mungkin Author bagi waktu untuk terus bisa Up. jangan lupa beri like dan komentarnya ya. 😍😍😍😍😍🙏🙏🙏🙏...
__ADS_1
.