
Steven Gerrard mengajari Steffi tentang bisnis dengan memberikan koleksi buku yang pernah ia pelajari. "Semua ada di sini. Kau tinggal membacanya. Laporan analisa keuangan, cara penyusunan, rancangan kerja, analisis pasar saham-saham. "
"Sungguh memusingkan. Lebih enak jika membedah organ tubuh. " Gumam Steffi.
"Jangan pernah katakan itu! Sangat menjijikkan! " Pekik Steven Gerrard dengan wajah jijiknya. Steffi hanya tersenyum melihat tingkah kakaknya.
"Makasih kak. Jika ada kesulitan aku akan bertanya kepada mu! " Ujarnya sambil keluar dari ruang kerja Steven Gerrard tak lupa bumil itu membawa bukunya.
Steffi memutuskan meneruskan usaha yang di tinggalkan Samuel Johnson demi anaknya. Walaupun ia sendiri tak yakin siapa ayah bayi nya. Ia juga tak menampik jika mencintainya.
**
Steven Gerrard berlarian di Koridor rumah sakit menuju ruang bedah. "Bagaimana keadaannya? " Tanya Steven Gerrard pada Queen pelayan nya.
Belum lah wanita itu menjawab terdengar suara bayi menangis kencang dan keluarlah suster. " Bayinya laki-laki dan ibunya sehat, selamat tuan. " Ucap nya memberi ucapan selamat.
Queen dan Steven Gerrard merasakan kebahagiaan membuncah apalagi saat melihat nya di ruang kaca. Begitu lucu bergerak bersamaan kedua tangannya yang mungil.
"Aku tak pernah menyangka ada rasa yang berbeda saat melihat ini. Ini sungguh menakjubkan. " Suara Steven Gerrard mengagumi keponakannya.
"Tentunya, apalagi jika dia bayimu sendiri, kau tak akan pernah jauh dari sisinya. " Sahut Queen. Mereka saling berpandangan. "Gadis ini terlihat cantik natural tanpa make up. " Batin Steven memperhatikan setiap inci wajahnya Queen.
"Tuan. Kita harus memberi selamat pada Non Steffi. " Ucap Queen menyadarkan Steven Gerrard. "Mhn." Lelaki itu hanya berdeham dan mengikuti gadis itu melangkah ke ruang rawat inap.
"Selamat sayang. Dia laki-laki dan tampan. " Steven Gerrard mencium kening sang adik.
"Terimakasih. Maafkan membuat mu terkejut karena itu. " Steffi mengusap lengan sang kakak yang tengah melamun. Steffi juga melihat ke arah Queen yang hanya diam menunduk setelah memberi ucapan selamat.
Dua pekan setelah kepulangan Steffi juga bayinya. Tengah malam Steven terjaga merasakan haus ia turun bermaksud mengambil air minum. Ia melihat ada bayangan ramping kecil tanpa alas kaki.
Matanya menyipit memindai, Queen? Wanita itu dengan rambut panjang tergerai dengan dress kaos sepaha tanpa alas kaki juga dalaman karena ia melihat di dada nya yang bergoyang setiap ia bergerak.
"Apa kau sedang menggoda ku Queen? " Bisik Steven saat dibelakangnya, lelaki itu sudah menguncinya. Queen tak dapat melarikan diri.
__ADS_1
"Tuan.. Saya hanya kelaparan. Tadi melewatkan makan malam. Karena si tuan kecil.. " Jawab Queen terbata dan menjatuhkan apel ditangan nya.
"Queen.. Kau sangat setia.. Maukah kau melahirkan penerus ku? " Tanya Steven, wanita itu hanya terdiam menatap sang majikan tak berkedip. Dan detik berikut nya wanita itu di angkat ala bridal style menuju kamar terdekat.
Steven kalap saat mencumbu wanita itu, karena itu kali pertama baginya. Steven hanya menduga, ditambahi gerakan nya yang kaku ia merasa lebih yakin. Lelaki itu merasa spesial karena nya.
Sejak saat itu Steven selalu mencari kesempatan untuk bersatu dengan Queen. Seperti saat ini ia sengaja ke rumah yang sepi dan masuk ke kamar baby yang jelas ada Queen seorang.
"Tuan?" Queen terkejut melihat nya mengunci kamar. Dan melepas pakaiannya berjalan cepat ke arah nya. Queen meletakkan baby yang baru saja diberi susu.
Sekejap mereka saling *******. Queen tak pernah menolak ajakan Steven, karena ia sendiri mengagumi majikannya. Entah cinta atau bodoh ia tak memikirkan itu.
****
" Ck. Kau masih saja tetap cantik. " Kerlingan mata Dave Robinson duduk di tunjukan pada wanita cantik di hadapan nya.
Ia berhadapan dengan Steffi, mereka ada pertemuan yang diatur oleh asistennya. Yang berkaitan dengan pekerjaan.
Steffi mengacuhkannya ia sibuk dengan penjelasannya asistennya Dave Robinson dan sesekali mereka berdiskusi bersama, beda halnya Dave Robinson hanya menatap paras Steffi. "Ok kita sepakat. " Steffi menyalami sang asisten dan saat Dave Robinson hendak menyalami nya wanita itu merapihkan berkasnya. Bukannya marah lelaki itu hanya tertawa kecil.
Awal nya satu kali proyek bisnis bersama kemudian bertambah lagi dan ini adalah kesekian kali perjanjian bisnis bersama mereka. Dan ia ingin Steffi tahu bahwa ia ada di setiap langkahnya.
"Agaknya sulit mendekati mu sweetie. " Gumamnya saat melihat Steffi menjauh.
Striing. Datang ke mansion akhir pekan ku tunggu. (Steven). Senyuman cerah secerah matahari terbit muncul di bibir lelaki itu. "Thanks, bro. Finally. " Batin Dave Robinson.
***
Mansion. Steven Gerrard asyik dengan aksi memanggangnya di sisinya Queen selalu membantu nya.
"Lemon tea?" Tawar Queen sambil menyodorkan minuman dingin tersebut. "Please? " Steven Gerrard hanya memajukan mulut nya dan wanita berjinjit karena tinggi mereka terpaut jauh.
Queen melayani bayi besar nya yang manja, sesekali ia minta di suapi kudapan. Kegiatan mereka tak begitu diperhatikan Steffi. Karena wanita sibuk mengelak rayuan Dave Robinson.
__ADS_1
"Mengapa tak kau berikan aku kesempatan? Kita berkencan dulu jika kau tak mau kulamar langsung. " Seru Dave Robinson. Lelaki itu menatap Steffi yang asik bermain dengan baby yang ada di stroller.
"Jika dia memanggilmu daddy maka aku akan menjadi istri mu detik ini juga. " Jawab Steffi jengah. "Benarkah? Kau yang bilang jangan menyesal? " Goda Dave Robinson.
"Panggil daddy boy." Dave Robinson ikut menoel pipi gembul si bayi, mendekati bayi tersebut.
"Ta.. Ta.. F.. " Celotehan nya. Steffi menahan tawa melihat setiap usahanya Dave Robinson. lelaki itu terus menerus berusaha mengajak bayinya bersuara. Hingga rasa frustasi sampai ke ujung penantian nya.
"Baiklah. Daddy ambil minum dulu. Daddy haus. " Pamit Dave Robinson pada bayinya. Baru selangkah terdengar suaranya.
"Da.. Da.. Dy... " Steffi tertegun, juga Dave Robinson. Lelaki itu menatap lekat Steffi yang kaku memandang nya.
"Da.. Da... Daddy.. " Gelak tawa nya yang ceria membuat Dave Robinson tersenyum bahagia di angkat nya dan ia tertawa lepas. Menciumi nya.
"Kita menikah minggu depan sweetie. " Ucap Dave Robinson memberi ciuman pipinya Steffi. Dan berjalan lebar ke arah Steven Gerrard yang sedang berciuman dengan Queen.
"Wow.. Tuan Gerrard. Kau memperbudak nya luar dalam? " Sakarse Dave membuat Steven Gerrard melotot.
"Jaga bicara mu. Dia ibu calon anak-anakku! " Jawab Steven Gerrard ketus.
"A.. Begitu. Maaf. Aku hanya ingin meminta restu padamu kakak ipar. Baby sudah merestui aku jadi daddy nya dan ibunya sudah menerima aku sepenuhnya. " Ucap Dave Robinson.
Steven Gerrard menatap Steffi, dan ia hanya bisa mengangguk. "Minggu depan aku akan mengatur pernikahan kami." Jelas Dave Robinson.
"Kalau begitu buat dua pelaminan dan satu pesta. Tak perlu orang banyak, sedikit lebih tertutup, kita tinggal berita tahu media setelahnya. " Ucap Steven Gerrard.
"Mengapa dua? " Tanya Dave Robinson bingung. " Tentu yang satu milikku. Kita kembar jadi sudah pasti harus bersama.. " Jawab Steven Gerrard santai.
Dave Robinson memberi tatapan sinis. "Dasar pemalas bilang saja. " Gerutunya. "Aku mendengar mu. " Jawab Steven Gerrard dengan nada penekanan.
Steffi dan Queen terkekeh bersama. "Aku tak mengira jika kau dengan kak Steven. " Bisik Steffi belum selesai kalimat nya Queen sudah meremas tangannya.
Wanita itu malu jelas terlihat di wajahnya. Dan dengan pesta simpel dan tertutup karena mereka mengundang tamu sedikit karena ke-dua nya sama-sama tak memiliki kerabat dekat. Dan intinya hanya pengesahan negara dan masyarakat.
__ADS_1
yang paling utama kehidupan rumah tangga mereka kedepannya bahagia hingga maut memisahkan.