
Rama membukakan pintu mobil untuk istrinya. Mereka lalu melewati dua pengawal berbadan tegap, tinggi besar dengan wajah yang nampak menyeramkan. Rama memegang tangan Syakira yang dingin, mengetahui kecemasan yang melanda wanita itu, dirinya pun merasakan hal yang sama. Mereka melihat ke arah pintu dengan sekelumit pikiran yang tidak menentu.
Para pengawal itu membungkuk penuh hormat pada semua anggota keluarga yang hadir. Salah satu yang hadir yaitu teman kakak iparnya, Pak Tamin, adalah anggota TNI yang bergabung dalam Komandan Pasukan Katak (Kopaska) merupakan pasukan khusus dari TNI Angkatan Laut.
"Apa yang terjadi, Pak," tanya Rama dengan mengernyitkan dahi.
Pak Tamin tak bisa berkata apa-apa selain diam serta mempersilahkan Rama masuk ke dalama rumah.
"Kak, apa yang terjadi?" Syakira cukup penasaran.
"Entahlah, Sayang," Rama sudah bisa menebak apa yang terjadi.
Suara tangis Marwa semakin ke sini semakin terdengar isak tangisnya. Rasa perih di dada tak bisa diungkapkannya. Rama dan Syakira sampai di depan pintu.
Mata Syakira membulat penuh melihat sebuh peti dengan bendera merah putih di atas menutupinya, sebuah Foto lengkap dengan seragamnya yang tersenyum terlihat gagah perkasa.
Melihat Rama dan Syakira datang, Marwa semakin terisak. Marwa tak bisa berujar selain memeluk Syakira yang menyentuh belakangnya.
"Dia pergi meninggalkan aku, ingkar dengan janjinya padahal dia sudah mengatakan akan datang di hari ulang tahunku? Katakan, apa salahku? Aku harus apa, Syakira? Jangan diam saja!" teriak Marwa dengan derai air mata. Rambutnya yang biasa rapi kini kusut terurai menutup sebagian wajahnya. Terlihat betapa depresinya Marwa dengan penampilannya.
"Kak, Kenapa kau pergi! Enam bulan aku menunggu kepulangan dirimu, dan hari ini, kau pulang memberiku air mata. Apa ini lelucon?"
Marwa yang penuh canda, hari ini harus berduka atas meninggalnya sang suami sebagai prajurit yang tangguh yang tak kenal hidup atau mati.
Semua impian harus terkubur, memiliki seorang anak dengan bayi tabung. ya... itu janji suaminya. Marwa mengenang kata suaminya 'Dek, kelak aku pulang, kita akan periksa dan melakukan bayi tabung. InsyaAllah.'
Marwa semakin terisak. Apalagi laporan dari komandan yang mengatakan, 'prosesi penguburan akan segera dilaksanakan esok hari.'
Ada rasa tak ingin melepaskan. ada rasa tak sanggup berpisah, akan tetapi takdir memaksakan dua insan harus terpisahkan.
"Kak Irwan, aku ingin kau hidup kembali, hidup di sisiku bersama sampai menua!" Marwa terus memegang peti suaminya.
"Kak, nyebut kamu. ini sudah menjadi ketentuan dari-Nya." Rama mengingatkan kakaknya yang kini dalam keadaan terpuruk.
"Tunggu sampai esok lusa," ujar Marwa meminta mayat suaminya untuk dikubur besok lusa.
"Kak, relakan, ikhlaskan," Rama kembali mengingatkan.
Marwa semakin histeris. Ibu Ratna semakin memperdalam memeluk putrinya. Semua yang ikut hadir merasakan kesedihan dan kepedihan menatap sendu wajah cantik Marwa yang terlihat sembab. Semua keluarga sudah hadir di tempat memberi bela sungkawa pada keluarga tersebut.
__ADS_1
Tangis Marwa pelan-pelan tak terdengar lagi. Melihat Marwa sedikit tenang, Rama mengajak Syakira istirahat. yang terdengar sisa anak-anak di sana yang melakukan yasinan.
"Tapi jak, Aku tak bisa meninggalkan kak Marwa.
"Kesehatanmu juga harus kamu ingat sayang," ujar Rama.
Ibu Rama mengelus anak mantunya. "Pergilah istirahat, sayang. kami ada untuk Marwa. Kasihan calon bayimu."
Syakira pada akhirnya berdiri dari tempatnya dengan Rama menggandeng istrinya. semua mata menatapnya. Termasuk salah satu anggota TNI di sana yang bernama Firman. Dia merupakan komandan suami dari Marwa yang masih singel. awalnya melihat pertama Syakira, dia mengira Syakira adalah adik kandung Marwa, ternyata bukan.
Melihat mata Firman menatap istrinya, Rama merangkul punggung sang istri dengan penuh kasih. Firman hanya tersenyum melihat kemesraan sepasang suami istri yang lewat di depan mata.
***
"Mangga-nya bagaimana, sayang? Apa mau di makan sekarang?" Tanya Rama.
"Maaf, seleraku sudah tidak ada." Syakira duduk di atas kasur.
"Aku paham. Tak ada yang pernah tau akan seperti ini."
"Benar sekali, kasihan kak Mawar. Semoga hatinya diberikan kesabaran serta keikhlasan.
"Apa para aparat akan berjaga sampai pagi?"
"Tentunya, Apa lagi Kak Irwan sangat dikenal dengan keberaniannya dalam melumpuhkan musuhnya sebagai Satuan Komando Pasukan Katak Armada I.
"Memangnya, tugasnya apa saja kak?" Syakira semakin penasaran.
"Tugas utama dari pasukan ini adalah melakukan penyerangan rahasia ke kapal lawan, sabotase pangkalan musuh, torpedo berjiwa, penghancuran instalasi bawah air, pengintaian, serta mempersiapkan pantai pendaratan untuk operasi amfibi yang lebih besar."
"Kenapa kakak bisa tahu?"
"Ya iyalah sayang, sudah berapa tahun kak Irwan dengan kami. Jelaslah kami tau. Hanya saja takdirnya belum dikaruniai seorang anak. Rama terlihat sedih. "Andai Kak Marwa punya anak darinya, ada yang akan menjadi pelipur lara untuknya.
"Semua sudah jadi bagiannya, kak."
"Benar, kita saja hampir. Semoga kandungan kamu sehat terus."
Rama menyelimuti istrinya. Lalu, mengecup kening sang istri.
__ADS_1
Malam itu, satu keluarga masih tak percaya dengan apa yang menimpa putrinya, Marwa. Suara tangis Marwa kembali terdengar setelah masuk subuh.
Sungguh pilu menyayat hati dan perasaan. Namun apa daya, jika sudah jadi takdirnya tak ada yang bisa menolak dari hal ini.
Pagi sekali semua keluarga sudah sibuk mempersiapkan diri, termasuk Marwa. Sekuat hati untuk bisa melepaskan kepergian belahan jiwa yang menikahinya sudah menginjak sepuluh tahun pernikahan.
Tak ada kata yang keluar dari bibirnya, hanya air mata yang terus menetes membasahi wajah gadis itu. Terlihat jelas untuk mencoba berdamai dengan hatinya untuk melepaskan kekasih halal yang selama ini memberi kehangatan.
Sangat jelas teringat di benaknya momen indah akhir pertemuan dengan sang suami yang mengatakan, 'Dek, andai aku belum pulang tepat hari ulang tahunmu, aku ingin kau tetap tersenyum.'
Tepat hari pemakaman suaminya adalah hari ulang tahun gadis itu. Ia berdiri melihat prosesi pemakaman suaminya dengan penuh rasa yang tak bisa ia ungkapkan.
Cinta yang selama ini di berikan oleh suaminya, Irwan. Meninggalkan sejuta kenangan manis yang membuatnya begitu sulit untuk dia terima, jika ternyata sang belahan benar-benar sudah berpindah alam.
"Kak, kamu yang kuat." Syakira merangkul begitu dalam kakak iparnya.
keduanya saling melepas, ketika terdengar penghormatan terakhir untuk sang pahlawan yang penuh keberanian di mata para pasukan TNI.
Usai prosesi pemakaman, satu persatu meninggalkan pemakaman itu. sedangkan Marwa, masih setia menyandarkan kepalanya di batu nisan sang suami sambil mengelus foto wajah tampan suaminya yang tampak sedang tersenyum.
"Selamat ulang tahun," Marwa berujar mewakili suaminya memberi ucapan selamat ulang tahun untuk dirinya sendiri.
Seorang ibu pasti akan merasakan sakit yang lebih dari sang anak. Marwa memang belum bisa mempunyai anak, tapi apakah itu sebuah dosa? Ini hanya takdir yang tidak bisa dicegah. Hal itu pun turut dirasakan oleh seluruh anggota keluarga, termasuk Rama dan Syakira.
Puas dengan menumpahkan kesedihannya, Marwa mengusap sisa air matanya, lalu berdiri. Bibirnya bergetar menahan tangisan.
"Aku tersenyum, kak." ujar Marwa terlihat kuat.
Syakira merangkul kakak iparnya mengajaknya untuk pulang. "Ayo kita pulang, kak!"
Marwa mengangguk. Namun, baru satu langkah kakinya terangkat tiba-tiba saja Marwa pingsan. Untung Rama dengan sigap menahan tubuhnya sehingga tidak sampai terjatuh.
"Bawa ke rumah sakit, cepat!" panik ibu Ratna melihat putrinya tak berdaya dengan di penuhi keringat dingin.
...Bersambung...
Terus berikan dukungannya buat Author biar semangat terus up up up juga up-nya bertambah. jangan lupa ya like, komen dan beri vote.... 😍😍🥰🥰 jangan malu-malu dong beri komentarnya wahai pembaca setia terlanjur sayang.
love you 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
__ADS_1