
Sepanjang perjalanan, Rama tidak menyahut sedikitpun, sementara Syakira menundukkan wajahnya dengan tangannya Ia saling gosokkan.
Hati dan perasaan Rama berkecamuk mengingat tentang dirinya. Ia tidak percaya dengan beberapa dokter yang ada diluar negri mengatakan Ia mandul. Ditambah lagi pemandangan yang ia lihat di depan matanya.
Rama tidak langsung pulang ke rumah mereka. Ia membanting stir mobilnya menuju sebuah pantai yang sering Ia kunjungi bersama Fajri dan Ramli, sahabatnya dulu.
turun dari mobil Ia langsung menuju bibir pantai dan berteriak. "Akh".
Syakira pun berlari dan memeluk suaminya dari belakang. sangat erat. sedari tadi Ia ingin memeluk tubuh pria itu. cukup lama Syakira memeluk suaminya dari belakang. Dan Rama memegang tangan istrinya. mereka sama-sama menikmati momen itu.
"Maafkan aku, Abi," ucap Syakira.
Rama berbalik dan langsung memeluk istrinya sangat erat, sangat erat. berulang kali Ia serbu dengan kecupan di seluruh wajah istrinya. Keduanya saling melepas rindu lewat pelukan dengan angin laut yang bertiup.
"Maafkan aku, sayang. Aku telah menyiksamu. Tapi keadaan yang membuatku tidak pulang tepat waktu."
Syakira teringat perkataan Sarmin, juga Ia ingat tentang Maura. Ia langsung mendorong tubuh Suaminya.
"Katakan padaku, Abi. Mengapa kamu begitu lama dan ada urusan apa? kata sarmin waktumu di sana hanya 3 minggu, Lalu mengapa kau baru kembali hari ini? Apa benar kau bersama Maura di sana? Dan mengapa panggilanku kau tidak jawab? katakan dan jelaskan!" kata Syakira yang tidak sadar suaranya begitu keras di depan suaminya.
"Sayang, apa yang dikatakan Sarmin memang benar. Tapi, seperti yang aku katakan ada sebuah urusan yang mengharuskan aku tinggal," jelas Rama yang melihat wajah istrinya terlihat begitu kecewa.
"Apa? Ada urusan? Urusan dengan Maura, Iya kan?" kata Syakira cukup menekan.
"Sayang, kamu menuduhku selingkuh dengan Maura?" tanya Rama tidak habis pikir istrinya begitu cemburu dengan Maura.
"Iya. ini buktinya." jujur Syakira dan memperlihatkan Foto yang dikirim Maura beberapa hari yang lalu.
"Astaghfirullah, sayang. Itu tidak benar. Mana ada Maura di sana. ini foto sudah lama, sayang. Jauh sebelum aku mengenalmu," kata Rama mendekati istrinya dan kembali memegang kedua pinggang istrinya.
"Apa benar, Abi tidak selingkuh? Tapi, mana ada orang selingkuh mau jujur," kata Syakira lagi.
"Kau tidak percaya pada suamimu? Atau percaya pada orang lain. Seperti Leon mungkin."
"Apaan sih, Abi. kok bahas Leon." Syakira kembali cemberut dan memalingkan wajahnya ke arah laut biru dengan kedua tangan suaminya masih setia memegang kedua pinggangnya.
Rama meraih dagu istrinya dan berkata, "Tatap kedua mataku. "Apa hubunganmu dengan Leon?"
"Kenapa Abi menanyakan itu? Abi curiga padaku? Abi jahat!" kata Syakira berbalik membelakangi suaminya.
"Hei, aku hanya tanya." Rama membalikkan kembali tubuh istrinya berhadapan dengannya dan kembali meraih pinggang istrinya. "Bukankah kamu juga menuduhku dengan Maura?"
"Maura jelas suka sama Abi. Wajar kan aku curiga. Tapi, aku dan Leon hanya teman satu kelas dan itu tidak ada hubungannya dengan aku....," jelas Syakira.
"Ya kan, abi hanya tanya, sayang. Kok marah?"
__ADS_1
"Siapa yang marah. Abi-nya aja yang nuduh."
"jadi benar, kamu dan Leon hanya teman? Tapi, Leon sepertinya suka sama kamu?"
"Iya. Dia suka sama aku, tapi aku tidak." Puas!"
Rama pun memeluk istrinya dengan erat. "Maafkan aku. Aku merindukanmu. sangat merindukan dirimu."
"Aku juga, Abi. Abi jangan pergi lagi. Aku tidak mau Abi pergi lagi. Aku sendiri, aku tidak punya teman bicara. aku tidak mau jauh lagi darimu."
Keduanya pun saling memeluk seakan tidak ingin saling melepas satu sama lain. Hingga Rama pun mengajak istrinya untuk mengisi perutnya.
"Abi belum makan? Terus, Abi ke kampus naik apa? Siapa yang jemput Ani di bandara? Dan mengapa aku tidak tahu Abi akan pulang. kan bisa aku masak kan makanan kesukaan Abi."
"Nanya itu satu-satu sayang." kata Rama dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Rama pun menyusul masuk kedalam mobil. lalu Syakira menoleh. "Jawab dong Abi."
"Pagi tadi, ada tidak telpon aku masuk?" tanya Rama yang mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Tidak ada." cetus Syakira.
Rama tersenyum dengan Fokus menyetir. "Apa benar?"
"Maaf." hanya itu kata yang keluar dari bibir Rama.
"Iya, dimaafkan," kata Syakira.
"Terimakasih," ucap Rama lagi.
"Iya, sama-sama," jawab Syakira dengan ketus. "Tadi pagi aku cuek panggilannya, karena aku masih marah." kata Syakira melihat suaminya.
Rama pun menoleh sebentar dan berkata, "Tadi pagi aku ingin mengabari jika aku sudah pulang, tapi teleponku tidak di jawab. Dan Aku di jemput Fajri. karena Sarmin sakit."
"Apa? itu artinya tadi pagi kak Fajri sudah tahu dong, kalau Abi akan pulang? Dasar kak Fajri awas saja." Syakira geregetan dengan kakaknya yang pagi tadi meledeknya.
"Tidak boleh begitu dong," kata Rama.
"Biarkan saja. Akan aku berikan pelajaran untuknya nanti siapa suruh dia main rahasia denganku."
Rama sedikit diam mendengar kata 'Rahasia' ia juga merahasiakan sebuah fakta besar dari istrinya. "Maafkan aku, sayang," batin Rama.
"Lho kak, kok kita ke hotel bukannya kakak lapar?"
"Kita makan disini."
__ADS_1
"Makan, disini?"
"Iya. makanannya enak disini. Apa lagi ada kamu bersamaku." goda Rama.
Kini Syakira mengerti maksud. suaminya. Dengan wajah malunya Syakira menatap suaminya.
"Kenapa? kamu tidak lapar." ledek Rama.
Syakira sudah tidak menjawab dan Rama pun hanya tersenyum melihat wajah istrinya terlihat malu. mereka pun masuk dalam hotel dengan bergandengan tangan.
Namun, sebelum booking atau check in hotel. Syarat pertama yang harus dipenuhi tentu saja mengisi data diri dengan lengkap, mulai dari nomor KTP, nama lengkap, alamat, tanggal lahir, jenis kelamin, hingga nomor telepon yang bisa dihubungi. Usai mengisi syarat itu, mereka pun diberi kunci kamar untuk satu orang.
Cukup luas kamar yang mereka booking bahkan pemandangannya berhadapan langsung dengan lautan lepas. Syakira takjub melihat pemandangan itu. "Anggap saja kita bulan madu," bisik Rama.
"Abi, apa Ayah dan ibu dan semua keluarga sudah tahu kalau abi sudah pulang?"
"Iya," jawab Rama.
"Apa? jadi, cuma aku yang belum tahu?" syakira tidak percaya.
"ini ... kamu sudah tahu. Buktinya kita sudah disini bersama. Apa lagi?" Rama menatap sendu wajah istrinya. ia mengusap lembut wajah yang selama ini dirindukannya.
Hembusan angin begitu terasa menyaksikan kehangatan itu. mereka saling melepas rindu dibawah selimut putih. Tak ada lagi satu kata pun dari keduanya kecuali saling menatap.
Namun, dibalik kebahagiaan yang dirasakan. Rama terus terpikir akan perjalan rumah tangganya ke depan. Ada rasa takut Syakira akan meninggalkan dirinya, jika tahu Fakta tentangnya.
"Abi kenapa?" Tanya Syakira yang memainkan dada suaminya dengan keduanya masih berbalutkan selimut putih.
"Tidak. Aku bahagia bisa bersamamu lagi. Berjanjilah padaku untuk tidak pergi dariku, Syakira."
"Kenapa Abi bertanya seperti itu? memang aku mau pergi kemana? ke hongkong?"
Rama menarik hidung istrinya, lalu menggelitiknya. Dan kembali keduanya masuk dalam selimut. Syakira berteriak minta ampun. Namun Rama tidak peduli. Mereka tertawa.
"Makanya kalau orang bicara serius, itu dijawab dengan serius."
"Yang ajar siapa?" cetus Syakira
"O ... Jadi disini ada tukang foto kopi ya," Kata Rama lagi.
Rama kembali memberikan pelajaran bagi istrinya hingga hal itu kembali terulang.
keluar dari kamar mandi melihat istrinya sudah tertidur. Rama pun ikut membaringkan tubuhnya di samping istrinya yang sudah pulas.
"Aku bukan pria sempurna untukmu." Kata Rama.
__ADS_1