Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
Teringat Kembali


__ADS_3

Maka lengkaplah kebahagiaan itu yang dirasakan oleh Rama dan Syakira dengan lahirnya bayi-bayi lucu yang diberi nama, Arju dan Arja Ghufroni Hadi. Makna anak-anak mereka adalah laki-laki yang mengharapkan petunjuk. sedangkan yang perempuan Syakira dan Rama sepakat memberi nama Azkadina dimana makna dari putri cantiknya itu adalah wanita shalihah dan taat pada agama.


"Wow nama yang indah," puji Marwa yang terus mengecup silih berganti buah hati Rama dan Syakira.


"bayi kalian mirip ayah dan ibunya. si putri cantik ini hidungnya lebih mirip dengan ibunya ya?" ujar ibu Mertua memperlihatkan pada ibunya Syakira.


"Iya. dan kedua putra mereka ini hidungnya lebih mirip dengan ayahnya."


"Saya yang tanam." Sahut Rama dengan polosnya.


"Astaga Rama! ibu mertua dan ayah mertua serta kakak ipar-mu di sini, Rama!"


Salahnya di mana ibu, benar kan, Sayang?" Rama berbalik melihat Syakira yang kini duduk bersandar sambil di suapi oleh Laila, kakak iparnya.


Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa mendengar jenaka Rama yang dianggap ayah polos apa adanya.


"Sayang, kamu kok diam? Memang benar kan apa yang aku bilang?"


"Aby, malu sedikit dong! Di sini banyak orang bukan cuma ayah dan ibu, semua keluarga besar-mu pun ada! bagaimana sih!" bisik Syakira melototi suaminya.


Rama langsung mengecup kening istrinya. seketika Syakira diam. Malaikat-malaikat kecil itu menjadi rebutan membuat Rama dan Syakira hanya geleng kepala dan tersenyum. keduanya terlihat bahagia.Begitu juga semua keluarga yang hadir.


Seketika Baby Arju menangis dalam gendongan Marwa. Marwa jadi panik tidak tahu harus menenangkan malaikat kecil itu bagaimana caranya. Zakir yang sedari tadi berdiri di samping Marwa segera mengambil dari gendongan Marwa. Seketika, Baby Arju diam.Tatapan Marwa dan Zakir bertemu.


"hem ...." Rama berdeham.


Tatapan keduanya seketika putus.


"Nak Zakir sepertinya pengalaman menggendong Baby Arju." sahut nenek melihat Zakir.


"Tidak juga nek, sedikit. Aku sering menggendong ponakan jadi mungkin belajar dari sana." timpal Zakir melirik Marwa.


'Apaan coba melirik ke arah saya.' batin Marwa membuang tatapannya dari Zakir.


"Nak Zakir sudah punya istri?" tanya Tante Mia keluarga dari ibunya Rama dan Marwa.

__ADS_1


Zakir kembali melirik Marwa. Marwa kembali mengangkat wajahnya. Zakir menjawab.


"Belum, tante, tapi sudah menemukan calonnya." jawab Zakir.


'Siapa calon Zakir?' batin Marwa. baguslah dia sudah menemukan calonnya semoga saja kalian jodoh.' doa Marwa dalam hati.


"Sudah ada calon?" ulang Tante Mia. "Sayang ya ... padahal Tan Mia baru mau kenalkan kamu sama putri tante." Canda Tante Mia yang melirik Marwa.


"Apaan sih Tante, anak mana? Tante saja anaknya seorang laki-laki, pisang makan pisang dong!" jawab Marwa yang kemudian beralih menggendong baby Azkadina.


"Ya kan ponakan Tante banyak, ponakan Tante itu putri dan putra Tante juga, kan? bisa saja kan Zakir naksir dari salah satu ponakannya Tante?" ujar Tante Mia menatap Zakir yang tersenyum.


Zakir tersenyum menanggapi maksud Tante Mia yang seperti paham maksudnya.


'Apaan coba Tante Mia berkata begitu. kan cuma aku dan anak Tante Melly yang perempuan, bukan? sementara anak Tante Melly sudah menikah di luar negri, lalu apa maksudnya?' Marwa merasa tersindir dengan perkataan Tante Mia.


'Aku benar-benar merasa malu Tante Mia berkata seperti itu.' batin Marwa.


"Sudah, Tante Mia itu hanya ngawur." Sahut Nenek. "Jangan dengar Tante Mia." senyum nenek ke arah Zakir dan Marwa yang kini sama-sama menggendong baby-nya Rama dan Syakira.


"Coba lihat, kalian cocok tuh jadi ayah dan ibu." ujar Tante Mia lagi yang membuat semua orang yang ada di sana tertawa.


"Kenapa kamu menatap aku seperti itu Zakir? lirih Marwa.


"Apa yang mereka katakan itu benar, Marwa." jujur Zakir dengan suara terdengar di telinga Marwa.


Sekejap Marwa menegang. jantungnya seakan lepas. 'Itu tidak mungkin Zakir,' batin Marwa mengingat statusnya.


'Andai kau mengatakan IYA, Marwa detik ini juga aku akan melamar-mu di hadapan mereka.' Zakir ikut membatin.


Usai canda itu, satu persatu keluarga pulang. Tinggal menyisakan keluarga inti.


"Kau belum mau pulang? biar aku antar." tawar Zakir pada Marwa setelah pamit.


"Tidak perlu, Zakir. ada mobil Rama aku pakai nanti. Terima kasih. dan aku juga berterima kasih sudah mengantar pulang hingga sampai di rumah sakit ini." lanjut Marwa.

__ADS_1


"Iya, nak. Terimakasih ya atas semuanya," sahut ibunya Marwa. kami nanti akan pulang dengan mobil Rama.


Zakir pulang setelah kembali pamit pada semua keluarga yang tersisa. ia berbuat akan berjuang kembali meruntuhkan hati Marwa yang beku. Dia tidak peduli dengan status Marwa. entah di mana cintanya akan berlabuh. Zakir hanya berusaha. Dia yakin jodohnya sudah di siapkan. sisa dirinya yang berusaha.


"Hati-hati di jalan." ujar Marwa yang mengantar Zakir sampai di luar pintu kamar rawat Syakira. Marwa hanya ingat kejadian sebelumnya.


Zakir tersenyum. Perhatian kecil Marwa membuat Zakir semakin bersemangat mengejar cinta yang masih ada untuknya. Zakir yakin rasa itu masih ada walau sudah hampir puna.


"Tidak ada usaha mengkhianati hasil, bukan." ujar Zakir meninggalkan sejuta tanda tanya bagi Marwa.


Zakir tersenyum dan berlalu mengangkat tangannya keatas. perlakuan Zakir mengingatkan Marwa pada suaminya saat terakhir akan pergi bertugas.


Seketika Marwa berlari mengejar Zakir. "Zakir tunggu!"


Marwa yang tidak fokus langsung menabrak dada bidan mulik Zakir. Zakir menangkap tubuh Marwa agar tidak terjatuh.


"kamu mau sakit kalau kau jatuh, hah? kenapa mesti harus lari, sih?!" ujar Zakir terkejut menangkap tubuh. arwah hampir terjatuh.


"Aku hanya ingin mengatakan, jangan ngebut mengemudi dan kabari aku jika kamu sampai di rumah. Semoga kamu selamat sampai tujuan. Pulanglah! Dan aku mohon jangan memakai senyum itu, aku tidak suka!" Satu tetes bening putih itu lolos keluar dari mata indahnya.


"Marwa kamu baik saja?" Ujar Zakir yang hendak mengusap air mata Marwa.


Marwa kembali teringat dengan masa lalunya. "Jangan lakukan itu Zakir." Marwa menepis tangan Zakir.


Seketika, Zakir tersadar dengan apa yang hampir ia lakukan. "Baiklah maafkan aku, kamu—"


"STOP! cukup, Zakir berbalik-lah!" pinta Marwa dan lebih dulu meninggalkan Zakir.


Zakir terpaku. Dia ikut bingung dengan tingkah Marwa. hingga dalam kebingungan, Zakir pun meninggalkan tempat itu menuju tempat parkir dan masuk dalam mobilnya.


"Ada apa denganmu Marwa?" apa ada yang aneh denganku?"


Zakir ingat sesuatu hal, ia ingat sebuah amplop coklat yang diberikan Marwa. katanya dari suami Marwa, Irwan.


"Aku harus pulang segera, apa isi amplop itu?" Zakir menancap gas mobilnya dan berlalu.

__ADS_1


Sementara Marwa sendiri, duduk di taman rumah sakit menumpahkan semua air matanya.


Mengapa perlakuan Zakir harus kembali mengingatkan dirinya dengan almarhum suaminya. "Kenapa bayanganmu harus kembali, Mas Irwan?


__ADS_2