
Waktu terus berlalu. Semenjak Ia menginap penyakit juga dalam keadaan hamil bukanlah suatu hal mudah melawan semua kegalauan Syakira.
Pagi tiba, Syakira pun berniat akan ke kampus menyelesaikan semua urusannya. Rama yang melihat istrinya tampak bersemangat merasa lega melihat wajah itu menampakkan senyumnya kembali.
Rama memeluk istrinya dari belakang, lalu mengecup lehernya. "Kamu akan ke kampus?"
Syakira hanya mengangguk sambil terus melihat pantulan mereka lewat cermin. Rama terus menatap istrinya lewat pantulan cermin dan berkata, "Apa mual kamu sudah berkurang?"
"Sedikit," jawab Syakira.
"Lalu, kenapa kamu harus ke kampus, sayang?"
"Aku jenuh, kak. Juga aku harus menyelesaikan kuliahku tahun ini. sebelum ...." Ucapan Syakira terhenti.
"Sebelum aku ....,"
"Stop, syakira. Aku tidak ingin mendengar itu!" Rama melepaskan pelukannya, lalu menatap keluar lewat jendela.
Syakira berbalik, lalu memeluk suaminya dari belakang. "Maafkan aku, kak. Bukan bermaksud membuatmu bersedih. Tak ada yang pernah tahu hidup dan mati seseorang."
"Tapi, bukan berarti kamu terus mengucapkan kalimat itu," Rama berbaik memeluk erat istrinya. Bukan hanya memeluk istrinya, keduanya seolah-olah melepaskan kerinduan yang selama ini tertahan.
Cukup lama mereka saling ***t. ketika Rama hendak mengakhiri itu, Syakira kembali bersuara, "jangan menyiksa dirimu, kak. Aku serius aku tidak mengapa bahkan aku bahagia bisa memenuhi kewajiban aku sebagai istrimu. Justru aku yang akan merasa tak berguna ketika kamu menolak aku. Aku menganggap diriku sebagai barang yang bekas yang akan siap terbuang.
"Jangan berkata seperti itu, sayang."
Rama maupun Syakira yang sudah sama saling menginginkan akhirnya terlepas juga. cukup lama keduanya saling memadu kasih di pagi hari hingga akhirnya kegiatan itu berakhir. Rama maupun Syakira yang tadi sudah rapi akhirnya harus mandi kembali dan bersiap.
"Kau tak mengapa?" tanya Rama yang Syakira tersenyum menatapnya. Rama sangat takut istrinya kesakitan karena ulahnya. Penolakannya berulang kali karena suatu alasan yang pada akhirnya pertahanan itu runtuh juga di sebabkan ucapan istrinya.
Sebagai seorang istri Syakira Ridho selama Ia masih mampu. kecuali jika sudah ia benar-benar tak mampu melaksanakan kewajibannya. Mungkin saja tidak akan memberikan lampu hijau buat suaminya.
"Kak, kamu antar aku?"
"Tentu dong, sayang. kenapa?"
"Kupikir aku bisa kok bawa mobil sendiri. Apa kamu tidak ada rapat hari ini, yang?" tanya Syakira membantu suaminya memasang dasinya.
Rama mengelus wajah istrinya. "Jangan, sayang.Lebih baik aku yang terlambat dari pada istriku pergi seorang diri ke kampus. Aku akan mengantarmu," lanjut Rama yang kemudian memasang jas kantornya."
__ADS_1
Syakira terus tersenyum menatap wajah tampan itu. Seakan ia baru merasakan jatuh cinta pada sosok pria yang kini sudah halal untuknya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu, sayang?" tanya Rama yang menyisir rambutnya sambil melihat istrinya lewat pantulan cermin.
"Aku jatuh cinta pada seorang pria," ungkap Syakira.
Rama mengerutkan keningnya. kemudian syakira melanjutkan perkataannya, "Aku suka menatap matanya, hidungnya yang mancung, bulu mata yang hitam, juga alis yang tebal. Aku mencintaimu. Ayah calon anakku."
Rama berbalik merasa tersanjung dengan kalimat istrinya. "Terimakasih. Karena istriku mencintaiku," Rama mengusap wajah mulus itu.
"Kamu sudah siap? apa tidak ada ketinggalan? jangan lupa bawa obatnya untuk siang," Rama mengingatkan istrinya.
"Semua sudah siap. Ayo kita berangkat," ajak Syakira.
Rama pun menggandeng tangan istrinya. Ibu serta nenek melihat dua sejoli itu turun ke lantai bawah menyambutnya dengan pertanyaan.
"Nak, kamu ke kampus?" tanya Nenek.
"Iya nek, ibu. Syakira harus menyelesaikan urusan kampus agar bisa ikut wisuda tahun ini," jelas Syakira.
"Rama, apa tak mengapa istrimu dalam keadaan seperti ini?" tanya ibu Rama melihat kearah putranya.
"Iya, ibu. Tenang saja aku dan calon cucu ibu INSYAllAH baik saja. jika aku misalkan tidak sehat nantinya aku pasti akan menelpon suamiku," Imbuh Syakira.
"Ya sudah kalau begitu. Ayo, kita sarapan dulu bersama," ajak nenek menggandeng tangan Syakira.
Keluarga itu pun sarapan bersama. Tak lupa ibu mertua menyiapkan susu ibu hamil untuk anak menantunya.
"Kapan juga aku bisa seperti syakira, ibu? Aku juga ingin rasanya merasakan seperti apa ibu hamil," Ujar Marwa mengelus perutnya penuh harapan."
"Suamimu masih dalam masa tugas. berdoa saja begitu dia pulang langsung cetak gol dan tembus tiga sekaligus ruh di dalam rahimmu. Amin," ibu mertua menimpali ucapan kakak ipar dengan candanya.
"Sudah 10 tahun pernikahanku, tapi kapan aku diberikan kesempatan itu. Apa Allah belum percaya padaku?" Kata kakak ipar lagi terlihat penuh harap.
Ini mertua mengelus rambut putrinya. "teruslah berdoa dan berusaha."
"Kak, tak ada yang tak mungkin ketika Allah sudah menghendakinya. Bukan Allah tak percaya, kak. Hanya saja mungkin memang belum waktunya. Kita tak pernah tau apa yang Allah rencanakan buat kita. Sama dengan penyakit yang bersamaan aku mengandung si janin. Aku tak pernah tau apa maksud Allah memberiku ujian seperti ini. Intinya tetap syukuri. Apa pun itu," ujar Syakira. "keturunan, harta, bukanlah jaminan seseorang akan merasakan kebahagiaan, kak." papar Syakira panjang lebar.
"Menurut Aam Amirudin yang pernah aku baca, 'jiwa syukur dan sabar adalah kunci yang membuat seseorang bisa bahagia. Sejatinya, kebahagiaan bukan terletak pada apa yang sudah dimiliki secara materi, melainkan pada apa yang sudah dimiliki oleh hati. Boleh jadi kalau dilihat dari lahiriah itu bergelimang, tapi mungkin saja dia merasa kurang,' tutur Syakira menyampaikan.
__ADS_1
Marwa tersenyum mendengar pemaparan adik iparnya. usai makan Mereka pun duduk sebentar.
"Terimakasih sudah membuatku sudah merasa tenang kembali. M emang mungkin aku masih di uji untuk bersabar," lanjut Mawar.
Syakira pun tersenyum dan akhirnya pamit menuju kampus. Sepanjang perjalan Syakira tampak begitu bahagia.
"Kamu bahagia?" tanya Rama.
"Sangat. Aku sangat bahagia akhirnya bisa ke kampus juga."
"Jangan lupa mengabari aku, jika sudah selesai urusan kampusnya," kata Rama.
"Baik, bos ku. Tenang saja," Syakira menaikkan jempolnya yang dibalas senyum oleh Rama.
Sampai di kampus Syakira kembali merasa sakit bagian perutnya. namun, sebisanya ia menahan rasa sakit itu sampai Syakira menyembunyikan wajahnya dari Rama. Dia tidak mau urusan kampusnya gagal hari itu juga.
"Sayang?" panggil Rama.
"Ya." Sahut Syakira yang berusaha tersenyum.
"Suaminya tidak di salim?" Rama mengulurkan tangannya.
ketika tangan Syakira hendak akan mencium punggung tangan suaminya, Rama justru mengecup pucuk kepala istrinya.
Syakira pun akhirnya turun dari mobil. namun rasa sakit itu kembali menyerang. 'Ya Allah mampukan aku.'
"Sayang, kamu baik saja?"
"Iya, kak. Aku baik saja. Tenang saja. hijab aku hanya tersangkut," bohong Syakira padahal ia menahan rasa sakitnya.
Ana yang baru sampai di kampus dan melihat Syakira menahan sakit, ia pun hendak akan menegur Syakira, secepatnya Syakira memberinya kode. Syakira pun berdiri tegak dan melambaikan tangan pada suaminya agar Rama melanjutkan perjalanannya.
'Maaf, kak. Aku harus berpura-pura kuat.'
πππAuthor baru up. Makasih dukungannya. Terus berikan like dan komentarnya ya... jangan lupa beri vote dan favoritkan agar terus mendapatkan pemberitahuan update terbaru terlanjur Sayang.
Author juga terlanjur sayang pada pembaca setia yang terus memberikan dukungannya.πππ Jangan juga lupa follow aku ya... love-love buat pembaca setiaku. ππππ
Jangan lupa mampir di karya aku yang lain; Yang Membolak-balikkan Hati, Diam Ku Mengagumimu, dan Takdir Cintaku juga yang baru akan rilis Menemukan Hatiku Yang Hilang.
__ADS_1