
"Marwa, 'kan?" pria itu tidak sengaja menabrak Marwa.
"Ya, siapa ya?" ujar Marwa mencoba mengingat siapa pria di depannya.
"Zakir," ujarnya.
Denyut jantung Marwa berdebar mengingat Zakir pernah mengungkapkan perasaannya pada saat masih SMA dulu. Namun, Zakir mundur ketika mengetahui sahabatnya Irwan juga mencintai Marwa kala itu.
"Ini tasmu." Zakir memberikan tas Marwa yang terjatuh sebelumnya. sambil mencari seseorang.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Marwa basa basi.
"Seperti yang kamu lihat, masih sama seperti dulu." Zakir sedikit tidak enak dengan Marwa.
"Kamu, bagaimana kabar?" tanya balik Zakir.
"Baik," ujar Marwa tersenyum. "Sepertinya kamu makin sukses?" lanjut Marwa. Ia mencari pasangan Zakir yang tidak nampak dimata. 'Mana istri Zakir ya.' Batin Marwa tersenyum melihat Zakir.
"Aku masih sama seperti dulu, Marwa. Aku merintis usaha kafe peninggalan orang tua," ujar Zakir. 'Kemana Irwan, apa dia sedang bertugas, sampai Marwa datang seorang diri?' batin Zakir, ah lebih baik aku tanyakan. "Mana irwan?" tanya Zakir pada akhirnya.
Marwa terdiam, terlihat wajahnya menggambarkan raut kesedihan. zakir melihat itu mencoba kembali bertanya.
"Marwa, apa ada pertanyaan dariku yang salah?" ungkap Zakir melihat Marwa tiba-tiba saja diam.
Marwa menggeleng sambil berjalan masuk dalam gedung. Marwa pun menjelaskan keadaannya yang sekarang.
"Maafkan aku, Marwa. Aku tidak tahu hal itu."
"Tidak mengapa." ujar Marwa.
keduanya mengambil tempat duduk. Namun, saat Marwa akan duduk seorang wanita menghampiri Zakir dengan memanggilnya kakak.
'Apa wanita ini istri Zakir? Kalau iya, masih sangat muda, seumuran dengan Syakira.' Marwa membatin.
"Hai, kak. Kenalkan aku Ana. Adik kak Zakir, apa kakak teman kak Zakir?"
Marwa mematung menyabut uluran tangan Ana. "Ya, kami satu sekolah, dulu waktu jaman SMA." ujar Marwa yang kemudian pamit dengan Zakir untuk mengambil tempat duduk di tempat lain.
Zakir pun mengangguk, Dia paham posisi Marwa sekarang sebagai status seorang janda. Tak muda melupakan orang yang pernah mengisi kekosongan hati dan tiba-tiba pergi begitu saja takkan kembali lagi.
"Kak, kenapa?" tanya Ana yang melihat pandangan Zakir jatuh pada Marwa dari jarak jauh.
"Tidak, dek. mana sahabatmu?"
__ADS_1
"Mario?"
"Siapa lagi, memang sahabatmu ada berapa?" tanya Zakir.
"Ada dua orang. Tapi yang satunya perempuan. Udah nikah, kak."
Zakir gak jadi bertanya lagi. Mereka menikmati malam pesta itu. Ana pamit duluan dengan kakaknya Zakir setelah pesta usai.
Di parkiran, Marwa membuka pintu mobilnya yang kebetulan di samping mobilnya yang terparkir adalah mobil milik Zakir.
"Sudah mau pulang?" tanya Zakir.
"Iya." jawab Marwa sambil mengangguk.
Zakir tak bisa berbuat apa-apa. Ada rasa ingin menghibur Marwa, akan tetapi di urungkan, siapa dirinya, bukan siapa-siapa. Baginya bukan waktu yang tepat memperjuangkan kembali wanita yang pernah menggetarkan hatinya.
Marwa membuyarkan lamunan Zakir degan klakson mobilnya. Senyum itu seakan mengingatkan kembali Zakir ke masa lalu. 'Marwa tunggu saatnya. Aku tidak ingin melihatmu terpuruk, dan terus larut dalam kesedihan.'
Melihat mobil Marwa sudah hilang dari pandangannya, Zakir pun memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan, Zakir terus kepikiran dengan sahabatnya yang sudah pergi mendahului. Tidak menyangka seorang irwan harus pergi secepat itu. pikir Zakir. Nah, itulah ajal tidak ada yang pernah tahu kapan masanya tiba.
***
Rama yang melihat ibunya bolak balik mendekati dan berkata, "Ibu, kak Marwa itu sudah dewasa."
"Kenapa mau mau dengar kata orang sih, masa iddah kak Marwa kan, juga sudah selesai, ibu."
"Bukan hanya itu Rama, ibu mertua dan keluarga suaminya nanti akan berprasangka buruk, nak."
"Salahnya di mana sih, ibu. Masa iddah seorang istri ditinggal mati oleh suami adalah 4 bulan 10 hari. Sama halnya dengan wanita yang dicerai talak satu dan dua. Sementara itu, bagi wanita yang telah ditalak tiga oleh suaminya akan menjalani masa iddah selama tiga kali periode haid, sementara kak Marwa keluar, juga karena menghadiri undangan, ibu."
"Iya, tapi nak, orang akan beranggapan apa nantinya."
"Biarkan orang berkata, Ibu, jika pun suatu hari seorang pria datang melamar kak Marwa, aku pikir gak jadi masalah. Tidak ada dalilnya, ibu, yang melarang perempuan gak boleh menikah lagi dalam waktu dekat setelah masa iddah selesai." ujar Rama.
"Tidak ada bedanya wanita maupun laki yang ditinggalkan mati, ibu, jika orang mengatakan laki-laki dimaklumi secepatnya menikah setelah ditinggal istrinya atau setelah bercerai karena kebutuhan biologis, saya kira pendapat itu salah, karena sesungguhnya laki-laki maupun perempuan itu sama. hanya perempuan mampu menahannya," papar Rama lagi menatap ibunya.
Marwa datang tepat Rama usai memberikan pendapatnya. Marwa cukup bingung melihat ibu dan adiknya berdiri di di dekat tangga. "Kenapa, ibu?" tanya Marwa.
"Tidak, nak. ibu khawatir saja denganmu. Kenapa kamu lama sekali, sayang?"
"Tadi aku dan teman-teman berfoto bersama dulu, ibu. Memang kenapa sih, kenapa wajahmu begitu, dek?" tanya Marwa melihat raut wajah adiknya tak biasanya."
"Tidak, kak. ini hanya faktor mengantuk saja," sela Rama di bawah bercanda.
__ADS_1
"Ya sudah, dek, kenapa gak tidur saja. mau di nina bobokan sama ibu, iya? udah gak jaman. Sudah calon ayah masih mau bermanja-manja, ogah deh." tawa Marwa melihat Rama menyandarkan kepalanya di bahu ibunya yang membuat Marwa begitu gemas dengan Rama.
Sudah, pergilah kalian istirahat!" pinta ibu Ratna pada putra dan putrinya. Rasa khawatirannya berubah bahagia. dia kemudian mengecup kening kedua anaknya.
Marwa pun berlalu, sementara Rama menuju dapur mengambil satu teko air minum untuk di bawah ke kamarnya.
***
"kenapa lama sekali, kak?" tanya Syakira yang sedari tadi menunggu suaminya membawakan air untuk minum obat.
"Tidak, tadi di ajak ibu bercanda." jawab Rama sambil memberikan obat vitamin khusus ibu hamil.
"Ini obat apa kak?" tanya Syakira heran melihat obatnya yang baru lagi diberikan oleh dokter.
"Itu untuk penambah darah, sayang." jawab Rama yang dia tahu.
"Oh, kirain obat apa."
"Memangnya, kamu pikir ini obat apa?" tanya Rama yang mulai lagi dengan jaimnya.
Rama duduk di sisi istrinya, "Kamu pikir ini obat untuk membawamu ke dunia halusinasi, m....?" Rama tersenyum, lalu senyum itu berubah jadi tawa.
"Apaan sih, kak. Memangnya ada obat seperti itu?" tanya Syakira yang melihat suaminya terus tertawa.
"Ada dong sayang, kamu akan berubah jadi liar. Mau coba?" kata Rama yang masih tertawa melihat ekspresi istrinya. "Nanti kamu coba setelah melahirkan."
"Ih... apa sih, kak. Obat apa?!"
Rama bukannya menjawab malah tertawa sambil memberikan air minum pada istrinya untuk segera minum obat. Syakira hanya bisa memonyongkan bibirnya, karena Rama tidak juga menjawab pertanyaannya. Usai minum obat, Syakira kembali meminta jawaban dari pertanyaannya.
"Kak, kalau di tanya, ya jawab, dong!" Syakira mulai kesal hingga ia merajuk.
"Sayang, masa gak tahu?" Rama menarik tubuh istrinya agar Syakira mau berbalik melihat kearahnya.
"Ya mana aku tahu, di situ tidak kasi tahu." Syakira melipat kedua tangannya sambil berdiri.
Rama ikut berdiri, kemudian ia mendekati istrinya yang masih merajuk, lalu memeluknya dari belakang dan berbisik. "Obat per**"" ng, sayang."
"Kak!" Pekik Syakira langsung berbalik memukul suaminya yang tertawa terpingkal.
...BERSAMBUNG...
Maaf, author baru up lagi. beberapa hari Author kurang sehat.Makasi atas dukungannya. Terus beri dukungan untuk menumbuhkan karya Author. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa beri like, tinggalkan komentar, dan beri Vote. Masukkan dalam daftar Favorit biar dapat pemberitahuan update terbaru terlanjur Sayang." TERIMAKASIH 🥰🥰🥰🥰🥰🥰