
bagaimana itu bisa terjadi, Nad? Aku jatuh cinta pada pengamen! dan tentunya, dia berada jauh dibawah kita! tapi... Wulan rasa belum tentu, Siapa tahu dia ngamen cuma karena ingin memperdengarkan suara Merdunya atau sekedar mencari kepuasan.
“nggak makan, Lan?" Nadia baru menghilang ketika Muncul lagi yang lain. Mama.
bakal di kuliahin lagi, nih, gerutu hati Wulan kesal. kalau terus-terusan begini, kapan dong aku menghayal membayangi pengamen pujaanku.....
“makan, yuk." Mama memukul pelan kakinya.
__ADS_1
“nggak lapar, Ma, udah ngebakso di kantin," takutnya menolak.
“tapi ganti baju dulu dong kalau mau tidur. belum sholat Dhuhur, kan?"
sholat? ya, Wulan harus sholat, lalu berdoa seperti biasanya, berdoa agar kembali dapat menikmati senyum manis pengamen itu, juga berdoa agar dia dapat Wulan miliki.
siang yang panas itu, kembali tubuh Wulan terhimpit desakan orang-orang yang berjajal di dalam bus. bau keringat serta farfum yang berbaur, begitu menyengat hidungnya hingga ia ingin muntah. dalam keadaan seperti ini, Ia sering membenarkan ucapan Nadia. tapi tidak begitu andai saja ia bertemu....
__ADS_1
“Aduh!" Wulan memekik.
tubuh mungilnya terdorong keras ke depan. Untung saja ada sebuah tangan kekar yang menyambar lengannya tadi. kalau tidak, Iya tentu sudah terjungkal.
Wulan menoleh ke pemilik tangan yang masih mencengkram lengannya itu. dan.. hey! apa Iya tak salah lihat? cowok itu kan... dikerjakannya matanya, untuk meyakinkan hatinya, bahkan dialah cowok yang selalu dirindukannya akhir-akhir ini. jantungnya berdecat kacau, ia bahkan khawatir gemuruhnya terdengar oleh semua penumpang bus.
“kok ngeliatin gitu? aneh ya Tampang Saya?"cowok manis itu tersenyum hangat.
__ADS_1
Wulan menarik tangannya Jengah. “eh, Ng.. Makasih, "ucap Wulan malu.