
diumur kehamilan Syakira yang sudah menginjak lima bulan membuatnya semakin merasa tubuhnya semakin melemah. Tiap bulan rutin memeriksakan kandungannya tentu selalu di temani oleh Rama, suaminya.
Syakira kembali melanjutkan tulisannya di buku diary miliknya. "kak, seandainya suatu saat aku pergi. Aku titip anak kita. jika dia perempuan Aku beri nama Aniyah yang artinya Rahmat. Semoga kehadirannya memberikan Rahmat. Dan jika dia sorang laki-laki aku beri nama zakir yang artinya yang mengenang, yang berzikir. Semenjak menjadi istrimu aku sangat bahagia. Terimakasih, Suamiku."
Usai menulis buku diary itu, Syakira menyimpan dengan rapi di laci meja di dekat kasur. Syakira keluar dari kamarnya menunggu suaminya dari joging.
Wajah Rama tersenyum melihat istrinya di taman belakang sedang olahraga ringan sambil berjemur. Diam-diam Rama memeluk istrinya dari belakang yang membuat Syakira merasa geli.
"Kak, entar dilihat ibu dan ayah lho. ih... lepaskan, kak, ini geli." Syakira tertawa lepas karena Rama terus mengulanginya.
"Ayah mertuaku tidak akan lihat. Mau tahu kenapa? karena ayah dan ibu ada keluar dan hanya kita berdua disini."
Rama terus memeluk istrinya. Keduanya terus menikmati momen mereka di pagi yang cerah itu di bawah sinar matahari yang masih baik untuk tubuh.
Sampai Syakira memejamkan mata menikmati pelukan hangat suaminya. Rama semakin penuh kasih memberikan pelukan terhangat pada sang istri.
"Sayang?" bisik Rama
"hmmm....," Sahut Syakira.
"Apa kau tahu aku ingin rasanya terus seperti ini. Aku tidak mau jauh dirimu
andai dengan tidak bekerja aku tetap dapat penghasilan, aku mau selalu seperti ini."
"ih... mana ada, kak. Tanpa usaha dapat hasil. Kita itu hidup di dunia ini harus selalu ada sebab akibatnya. Meninggal karena apa? sembuh karena minum obat apa? begitu, kak," ujar Syakira.
Rama membalikkan tubuh istrinya kemudian keduanya saling berpandangan cukup lama. Syakira tersenyum menatap wajah suaminya. "Aku tidak tahu apakah esok atau lusa aku masih memandangi wajah suamiku?"
"Sayang, jangan berkata seperti itu. Aku yakin kau akan sembuh."
"Tapi, bagaimana jika tidak."
"Jangan menyiksaku dengan ucapan seperti itu, sayang. Aku akan berusaha agar kamu sembuh dan kita akan merawat anak kita bersama. Mereka akan tumbuh mejadi pribadi anak yang sholeh. Jadi, berjanjilah padaku kau akan sembuh." Rama memeluk istrinya kembali dengan penuh hangat dan kasih.
"Kak, kita ke pondok yuk. Aku ingin bersilaturahmi dengan guruku di sana. aku ingin meminta doanya."
"Baiklah kita ke sana," ucap Rama.
"Tapi, aku maunya kita berangkat sekarang. mumpung kamu tidak masuk kerja."
"Baiklah. kita pergi sekarang," ujar Rama yang kemudian menggandeng tangan istrinya masuk dalam rumah.
Melihat ayah dan ibunya Syakira datang Rama pun menyampaikan pada ayah mertua keinginan Syakira untuk pergi ke pondok.
__ADS_1
"Kami tidak bermalam ayah, ibu. Saya hanya ingin pergi sebentar berkunjung di sana. semoga dengan doa mereka aku dan bayiku selamat kelak nanti," Sela Syakira.
"Baiklah, kalian yang hati-hati. hubungi kami jika kalian sudah sampai," kata ayah.
"Rama, jaga istrimu dengan baik, nak." Ibu Syakira menimpali.
"Tentu ibu."
Rama dan Syakira pun bersiap menuju pondok al-muhajirin. Tak lupa Syakira membawa baju ganti karena perjalanan mereka cukup jauh. Tak lupa juga mereka membawa buah tangan untuk guru-guru di sana.
Di tengah jalan mobil Rama diikuti oleh beberapa mobil yang Rama tak mengenal sama sekali.
"Ada apa, kak?" tanya Syakira melihat kecemasan diraut wajah suaminya.
"Sepertinya ada mobil yang mengikuti kita."
"Mengikuti kita? maksudnya?" Syakira menoleh dan benar saja ada dua mobil yang terus mengikuti mereka.
"Aktifkan GPS ponselmu sayang dan kabari Fajri dan ayah." kata Rama. "jangan takut semua akan baik saja, sayang. Rama berusaha menenangkan istrinya sementara dirinya sendiri begitu cemas.
'Siapa mobil itu? Apa tujuan mereka mengikuti kami?' Rama membatin
Syakira sendiri terus berdoa memohon keselamatan.
'Apa yang harus aku lakukan?' batin Rama melihat Syakira tampak takut.
"Kak, apa yang akan kita lakukan?"
"Tenang saja sayang. kita pasti akan selamat." Rama terus melajukan mobilnya hingga di perkampungan. Rama menepikan mobilnya ditempat keramaian.
Melihat mobil itu tak terlihat, Rama dan Syakira kembali melanjutkan perjalanan mereka. Namun tepat dari arah depan, sebuah mobil hitam menghadang perjalanan mereka.
"Kak, ada apa ini?" Syakira begitu terkejut melihat dua laki-laki turun dari mobil hitam itu menuju mobil mereka.
Rama pun hendak memutar balik mobilnya, namun mobil putih dan mobil merah menghalangi jalan mereka.
"Kak, aku takut." Syakira mulai panik. "Jangan turun, kak."
Syakira berharap suaminya tidak turun. tidak sengaja ponsel milik Syakira tertindih panggilan ke Fajri.
"Kak, aku mohon jangan turun."
"Sayang, kalau kita hanya diam di sini kita tidak tau apa maunya."
__ADS_1
Dua pria besar menghampiri mobil mereka. "Buka!"
Syakira geleng kepala. " jangan, kak. Aku mohon. Aku takut mereka akan berbuat jahat padamu."
Begitu Rama keluar tanpa ia sadari seorang memukulnya dari belakang. dan mobil Rama pun di bawah pergi.
Samar-samar Rama melihat istri beserta mobilnya dibawah pergi dan ia melihat seorang pria mengangkat tubuhnya.
Sementara Syakira sendiri terus melawan di dalam mobil agar mobil itu di berhentikan. "Maura apa mau-mu?"
"Diam-lah Syakira, dan nikmati saja hari terakhirmu di dunia ini." Maura tertawa lepas.
Maura semakin melajukan mobil Rama. ia membawa Syakira di sebuah daerah terpencil. Maura menelpon Tante Melly tentang alamat akan ia bawah Syakira pergi.
"Maura kau Benar-benar wanita tak punya hati. Apa sih sebenarnya mau kamu, Maura?" kata Syakira yang meronta agar pria disampingnya melepaskan dirinya.
"Diam lah, nona! Jika kamu dan bayimu masih mau selamat ikuti saja perintah bos kam!"
"Bos?" ulang Syakira. "Jadi, ini semua adalah rencana busuk darimu Maura?"
"Iya! kenapa?" jawab Maura membentak Syakira sambil fokus Menyetir.
"Aku tak habis pikir jalan pikiranmu Maura." kata Syakira yang kedua tangannya di pegang oleh orang suruhan Maura.
"Tak usah kamu pikir. Yang kamu pikirkan sekarang bagaimana kematian kamu nanti." Tawa Maura menggema.
Syakira tersenyum. "Aku tidak perlu memikirkan seperti apa kematian aku Maura, karena kematian seseorang sudah ditentukan bagaimana kematian kita, di mana, dan kapan?"
"Kau ternyata masih bisa banyak bicara, Syakira. Ok. Kau akan berhenti bicara sebentar lagi!" bentak Maura.
Sementara itu, Rama yang baru tersadar melihat sekelilingnya berada di sebuah tempat yang cukup asing baginya. Suara tak asing terdengar. Rama menoleh kearah suara itu.
"Selamat datang ponakan tante. Tapi sayangnya tante sangat membencimu. bahkan semua keluargamu aku benci!"
"Apa maksud Tante Melly?" tanya Rama dalam keadaan tangan dan kakinya teringat di kursi.
"Apa kau ingin tau sesuatu?" tanya balik Tante Melly mendekat kearah Rama.
Bersambung
Jangan lupa follow aku. Jangan lupa tinggalkan komentar kalian biar author tau seberapa greget kalian baca kisa Rama dan Syakira. AYo berikan komentarnya. Kira-kira bagaiman nasib Rama dan Syakira?
Jaman lupa juga like dan vote serta favoritkan agar terus dapat pemberitaan update terbarunya. Makasih semaunya love you...😘😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1