Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
20. Perubahan


__ADS_3

Merasa tak Terima diperlakukan seperti orang asing. Kevin menunggu Steffi hingga wanita itu usai waktu kerjanya. Di sergab lengan nya di seret Steffi ke mobilnya Kevin. Steffi memberontak, kesal karena ulahnya.


Entah mengapa dia mulai membenci lelaki ini. Seusai terakhirnya mereka bertemu, ia juga tak ingin bertemu Clathria apalagi berurusan dengan wanita itu.


Dalam ingatan Steffi Clathria bukan orang yang mudah menyerah dan sulit di ajak berdamai. "Sampai kapan kau perlakukan aku seperti ini? Apa kau akan menganggap ku sekedar pelampiasan nafsumu! "


Kalimat Steffi sinis membuat Kevin menghentikan pergerakannya. Pemuda itu menatap manik Steffi dengan urat-urat di pelipis nya menonjol.


Nampaknya ia terpancing emosi nya. Lalu menekan Steffi untuk memasang seat belt. "Kau diam saja nikmati selagi aku membanjiri air kenikmatan di lubang surgawi mu. " Jawabnya ketus. Steffi melengos menatap jalanan yang mereka lalui.


Ke rumah tempat mereka memadu kasih seperti biasanya. "Dan ku harap tak melihat nya apalagi untuk bertengkar dengan nya. " Batin Steffi, ia lelah di salahkan, lelah menjadi obyek seksual dari kedua lelaki itu.


Benar saja begitu memasuki rumah ia sudah di kukungi tepat di depan pintu masuk begitu pintu itu tertutup. Dengan brutalnya Kevin mencumbu Steffi. Wanita itu menahan suaranya karena ia juga lelah menjadi alat permainan kedua lelaki itu.


Kevin mengernyit di sela kegiatannya memompa di liang nya. Steffi memalingkan wajahnya, biarpun wajahnya bersemu merah dan di bawah sana berkedut berulang. Ia nampak tenang tak mengeluarkan sepatah suara.


"Sudah kan? Cepat cabut! Aku ingin mandi! " Salak Steffi, tak lama berlalu dalam keadaan telanjang naik ke atas. Tak menghiraukan barang-barang yang berserakan di pantai dasar itu.


Kevin memungut semuanya dan membawa ke kamar utama. Tempat mereka bersama lelaki itu masih mengenakan boxer tanpa bajunya. Rebahan menatap tubuh Steffi yang mengenakan bathrob saja.


"Kenapa kau berubah? Apa ibuku meneror mu lagi? " Tanyanya menatap pergerakan Steffi. Wanita itu hanya mengenakan skincare routine mengacuhkan Kevin lalu berbaring di samping nya.

__ADS_1


"Lihatlah lukamu. Seharusnya kau bisa menahannya. Kita sudahi saja kegilaan ini. Aku... " Kevin tak terima perlakuan Steffi dia membungkam nya dengan menindih nya dan melakukan hal itu lagi.


Wanita itu hanya terdiam dan memandang sinis.. "Apa kau sudah selesai? " Sindirnya. "Tak akan pernah dan jangan berisik! " Seperti maniak Steffi di gempur berulang kali. Dari cumbuan lembut hingga brutal. Lelaki itu kesal karena perkataan Steffi.


Steffi bangkit dari ranjangnya dan merasakan ngilu di area sensitif nya. Ia melihat bercak darah di sana. Dia masuk ke bath tube untuk berendam air hangat sesudah itu ia mengenakan pakaian, masih tertatih ia pergi meninggalkan Kevin dengan taxi online.


Ia mampir ke apotek membeli testpack dan beberapa obat untuk mengobati nya. Ia menuju ke rumah yang dibeli Samuel Johnson untuk nya. Dan mulai memeriksa seluruh tubuhnya juga melakukan testpack.


"Sial. Anak siapa yang ku kandung? Aku bahkan tak tahu ayahnya.. " Steffi meruntuki kebodohannya, menangis sesegukan. Kemudian dia tertidur di kamar seusai menuliskan surat pengunduran diri nya.


Di lain tempat Kevin kesal karena keletihan ia tertidur dan tak melihat Steffi di ruang manapun dalam rumahnya. Yang membuat dia semakin gusar adalah bercak darah yang banyak di sana.


Steffi pendarahan karena kebrutalan nya. "Steffi dimana kau sayang. " Katanya lirih sambil memgusap wajahnya. "Cari di mana pun dia berada. Tidak pakai lama". Perintah Kevin pada orang di seberang telepon.


"Apa yang terjadi? " Katanya pada dirinya sendiri. Ck. Berdecak ia masih mengerjakan semuanya, berkas di mejanya yang menggunung tiada habisnya.


Steffi memasak makanannya sehabis belanja tadi di minimarket, ia juga melamar kerja di sana karena ada lowongan kerja di sana. Ia mengerjakan pekerjaan rumah walaupun sudah ada dan di bayar langsung oleh-oleh Samuel Johnson.


Ia bertekad memulai dari awal lagi. Ia letih hanya menjadi obyek dari Kevin ataupun Samuel Johnson. "Mungkin lelaki itu tak mengira jika aku tinggal di sini. " Pikir Steffi sambil memasak makan malamnya.


" Bagaimanapun dia sudah memberikan ini padaku. Jadi sudah pasti milikku. " Batinnya. Kemarin ia sudah membuka brankas nya dan benar saja Samuel Johnson mengingat pertemuan mereka dulu.

__ADS_1


Lelaki nya? Dia anggap saja begitu, Steffi terkekeh kecil dengan pikiran nya sendiri. Wanita itu menata makanan dan menyantap sendirian. Anehnya ia menghabiskan banyak makanan padahal ia sendiri. Nasi ayam kecap, sayur lodeh dan bacem tahu tempe.


"Ini pasti karena adanya kamu kan? " Bisiknya sambil mengelus perut nya yang masih rata. Kemudian ia membaca buku sambil menonton berita di TV.


Keesokannya Steffi memulainya kegiatannya yang baru, sebagai penjaga kasir di minimarket yang tak jauh dari rumahnya. Wanita itu berpenampilan kasual juga mengikat rambutnya dan mengenakan topi agar wajahnya sedikit tertutupi dan tak diperhatikan orang.


"Selamat pagi... Selamat berbelanja di minimarket kami. " Sapaan nya pada setiap pengunjung yang datang. Sang pemilik merasa puas atas kerjanya hari itu.


Steffi ditemani pekerja lelaki satu orang. Jadi mereka hanya berdua, karena temannya terkadang mengantarkan barang pesanan. Dan berkat layanan itu Steffi terkadang menitipkan makanan yang diinginkan.


Mungkin sudah fasih ngidam kali ya, masa kehamilannya. Lagi ia hanya hidup sendirian di sini. Ada patner Robin maka ia tak sia-siakan kesempatan itu.


Steffi jujur pada pemilik minimarket jika dia berbadan dua dan orang tua tunggal. Ia tak mau menutupi apapun tentang dirinya. Takut menyakiti orang lain, sudah semestinya hidup jujur dan tak boleh banyak alasannya untuk itu.


Di lain tempat. Kevin masih mencari keberadaannya Steffi. Dia cemas tentang kejadian terakhirnya bersama Steffi. Apa wanita itu mengetahui bahwa ia sangat mencemaskan nya.


"Kevin kau akan bertunangan dengan salah satu wanita yang mama tunjuk. Tak ada negosiasi. Ini Final keputusan Mama. Mengertilah! " Ucap Clathria pada putranya.


Dan Kevin hanya memutar matanya jengah, apa yang di katakan ibunya tak di dengar nya. Dia berdiri membelakangi ibunya di depan kaca besar, ruang kantornya.


Lelaki itu hanya mencari keberadaan kekasihnya yang sampai sekarang belum di ketahui keberadaan nya.

__ADS_1


Apa penyebab Steffi pergi juga tak diketahui nya. Yang jelas Steffi marah terhadapnya. Dia tak tahu penyebab kepergian wanita nya. Solusinya adalah menemukan nya secepatnya dan bertanya sebabnya.


"Di mana kau sayang. Aku merindukan mu. Apa kau baik-baik saja? Bahkan kau juga meninggalkan dunia medis yang menjadi kebanggaan mu. " Gumam Kevin menatap pemandangan di luar jendela.


__ADS_2