Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
terlanjur sayang 2


__ADS_3

Wulan tidak pulang ke rumah seusai sekolah siang itu, tapi mampir ke rumah Hendra, sepupunya.


sejak dulu, Wulan memang selalu merasa lebih enak bicara dengan Hendra daripada Nadia.


"Kok nggak bawa mobil?" sambut Hendra seraya mengajak masuk.


"Pengen naik bus. Ada yang menarik di sana," katanya ceria, lalu dia duduk di sebelah Hendra.


“Apa?"


Wulan menggeleng. “ nggak deh, pokoknya ada."


“ Jangan main rahasia-rahasiaan, dong," desak Hendra penasaran.


“Nggak, Hendra, aku cuma belum ingin menceritakannya sekarang. Nanti saja, deh."


“Apaan, sih?"


“pokoknya ada."

__ADS_1


“Iya deh nggak maksa."


“Kamu nggak suka main gitar lagi, Hendra?" tanya Wulan tiba-tiba.


“Jarang"


“kenapa? Padahal saya kangen loh, pengen dengarin."


"A..apa?! Hendra bertanya kaget. Bagaimana tidak? Selama ini, tiap kali Hendra sibuk dengan gitarnya, Wulan selalu mencak-mencak sewot.


"Berisik, Hendra!" teriaknya selalu.“kamu harus tau kalo kamu punya selera musik tinggi, dan petikan gitar kamu bisa membuat pecah gendang telinga saya." Omelnya Tampa ampun.


Tapi petikan gitar pengamen di Bus kemarin telah mengubah segalanya. juga selera musiknya.


Wulan tidak menyahut, ia hanya tersenyum tipis


“Maukan ambil gitarnya sekarang?" Hendra tersenyum. “Lagi naksir cowok yang pintar gitar, ya" tebak nya


Wulan melebarkan senyumnya. manis sekali.

__ADS_1


“Ketahuan, deh. Cowok mana, sih?"


“Rahasia dulu deh, baru ngincer, belum tentu berhasil, kok," elak Wulan.


“ nggak bakal, dong. kamu kan nggak kenal cowok itu."


“Cowok mana sih?"


“ada, deh."


“ketemu di bus, kan?"


Wulan menggeleng gugup.


“Kondektur?" terka Hendra disertai tawa.


“enak aja."


“Abis apa, dong?"

__ADS_1


“udah dari tadi aku bilang ini rahasia, masih aja maksa," Wulan kembali berusaha menghindar.


“penasara, Lan, soalnya belum pernah sih dengar kamu jatu cinta. jadi agak aneh juga."


__ADS_2