Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
23. Pulang


__ADS_3

Sudah hampir tiga hari Steffi berada di villa Agam Dewangga. Wanita itu melakukan aktivitas ringan membantu sepasang suami-istri yang dipekerjakan Agam Dewangga di villa tersebut.


Agam sendiri merasakan seolah-olah ia suaminya Steffi. Pasalnya wanita itu selalu menyambut nya pulang. Tepat nya Steffi selalu berdiri di depan rumah menyambut kedatangan nya dan mengantarkan ia pergi ke kantor.


"Tuan bahagia ya, Pak. Wajahnya selalu berseri-seri bersama nya. Agak nya istrinya kali ini benar-benar mencintai nya. Tak seperti dulu setiap kemari selaluu... murung. " Surti berceloteh membantu sang suami di kebun belakang villa.


Di belakang villa ada taman dan kebun buah-buahan. "Aku yakin istrinya ini di sembunyikan dari Nyonya pertama. Mana dia cantik, ramah dan tak sombong. Tuan baik pasti akan mendapatkan istri yang baik. " Lanjut Surti.


Steffi berdiri tak jauh dari sana di salah satu pilar villa. "Tuan sangat baik, pasti dia akan mendapatkan kebahagiaan itu cepat atau lambat. " Lanjut Teja sang suami. Steffi merasakan sesuatu yang membuat hati nya tak nyaman.


Saat hendak beranjak ia melihat sepasang sepatu di depan nya. Ia menengadahkan wajahnya. "Agam? Kau sudah pulang? " Tanya nya tersendat. Antara terkejut, malu dan tak enak karena kepergok menguping pembicaraan pribadi.


Ekspresi muka yang dapat di pahami Agam Dewangga. Lelaki itu menariknya dalam pelukan nya. Begitu intim, menempelkan tubuh mereka Agam Dewangga sengaja menyusup di lekukan lehernya Steffi. " Diam lah sesaat. Mereka sudah selesai dan hendak kemari. "


"Nanti jika kepergok rasanya akan tidak menyenangkan. Jadi lebih baik begini. Aku bukan lelaki mesum atau sebaliknya. Ini demi kita. " Bisik Agam Dewangga. Steffi kaku tak bergerak.


Ia melihat yang dikatakan Agam benar adanya. Mereka masih berbincang mengenai mereka berdua. Dan Kehadiran mereka di dekat pilar itu tak mereka sadari karena asyik berbincang.


Agam menarik dirinya dan ia melihat Steffi yang salah tingkah juga dia merasakan hala yang sama. "Maaf." Ucap Agam Dewangga melirik nya. Ia pun berbalik badan masuk ke dalam villa.


Steffi justru kebalikannya, wanita itu menuju taman dan duduk di bangku dekat tanaman. Jantung nya berdetak kencang dengan perasaan bercampur aduk.


"Apa sekarang kau menjadi wanita murahan Steffi. Wanita yang biasa di belai dua pria sekaligus. Dan sekarang kau jauh dari mereka. Jadi kau haus belaiannya. " Gumam nya dalam hati.


"Dasar wanita murahan. " Ia mengumpat dirinya sendiri. Steffi menyandarkan tubuhnya di kursi seraya mengelus perutnya.

__ADS_1


Sementara di tempat lain. "Kau sudah menemukan nya? " Tanya Steven Gerrard. Sang asisten hanya menundukkan wajah. "Kami semua sedang mengawasi mereka. Hanya... Saya menduga bahwa ada kemungkinan dia bersama dengan Agam Dewangga. Tuan. "


"Apa yang membuat mu beransumsi itu? " Steven Gerrard menatap anak buahnya. "Tuan, Agam Dewangga berpisah dengan istrinya. Walaupun mereka tidak bercerai secara syah. Namun istrinya memiliki banyak kekasih dan sibuk dengan dunia nya sendiri. Sedangkan Kevin dia berupaya mencari keberadaan Nona. Selain ia sibuk dengan usaha barunya. "


"Semuanya belum mendapatkan hasilnya. Dan saat ini Agam ada di kota S dan hingga sendirian. Namun kami mendapatkan info bahwa dia tinggal bersama seorang wanita hamil. "


"Kemungkinan dia adikku. " Seru Steven Gerrard. Jika benar, bawa dia pulang dan langsung hubungi aku. Aku yang akan bicara langsung. " Titah Steven Gerrard.


Lelaki itu undur diri begitu mendapatkan isyarat dari majikan nya. "Jika benar itu kau Steffi. Aku harap kau pulang segera mungkin. Kau sudah menderita di sana sendirian. " Gumam Steven Gerrard.


"Wanita itu hanya memandang mu sebagai sahabat saja Agam. Jangan berlebihan, wajar saja jika kau mengalami pergolakan. Karena sudah lama kau tak menyentuh wanita. " Agam Dewangga berdiri di bawah shower untuk memenangkan adiknya yang menggeliat saat tubuhnya menekan Steffi tadi di pilar belakang villa nya.


"Akhh.. mmhhmm.. " Ia berhasil menyemburkan nya dengan puas ia sudah tak tersiksa lagi. Menatap cairan itu yang menyatu dengan air yang mengalir.


"Nona.. Tuan ingin bicara dengan Anda. " Lelaki itu menyodorkan ponselnya yang sedang menghubungkan ke sebuah nomor.


Steffi mengernyit saat ada gambar Steven Gerrard membingkai di layar ponsel itu. "Haloo? " Steffi mendekat dan hanya terdiam.


"Steffi, sayang.. Hai ini kakak. "


"..... .. "


"Apa kabar mu sayang? Kakak kangen, pulang lah! Aku menunggu mu. "


"...... ... "

__ADS_1


"Aku sudah mengetahui semuanya. Tak perlu malu atau takut. Kakak akan menjagamu! "


"Kakak." Steffi menangis tersedu lagi. Menyerahkan ponsel tersebut, lelaki itu berbincang sejenak agak menjauh dari Steffi.


"Nona..? " Sapa nya setelah mematikan ponselnya. Steffi hanya mengangguk paham. Wanita itu mengikutinya dan masuk ke dalam mobil tanpa bertanya atau bersuara.


Mereka langsung menuju bandara naik pesawat pribadi menuju ke tempat kakaknya berada. Steffi sendirian naik pesawat itu hanya ada pilot dan pramugari dan seorang dokter. Kedua lelaki itu hanya mengantarkan dirinya ke bandara saja.


Di bandara internasional kota X Steffi melangkah kaki turun dari pesawat itu. Di sana sudah ada mobil dan dua pengawal dan sopir. "Silahkan Nona. "


Steffi hanya mengikutinya tanpa bersuara. Perjalanannya sangat jauh dan ia sangat lelah terlebih dia berbadan dua. "Tuan akan masih ada pertemuan dan nanti malam baru kembali. " Ucap salah satu pengawal tersebut.


"Terimakasih." Steffi hanya terdiam menatap pemandangan di luar lewat kaca jendela mobilnya. "Maafkan aku, kak. Selalu menyusahkan mu. Dan membuat mu cemas akan semua nya. " Gumamnya dalam hati.


Mobilnya memasuki kawasan pegunungan sepi dan hanya dua pemilik mansion di kawasan ini. Keluarga Gerrard dan Johnson. Kedua nya selalu bersaing dalam segala hal. Steffi tak mengerti kenapa dan apa sebabnya abangnya juga lelaki itu pertengkaran.


Ia bertemu dengan nya saat ia masih kecil. Dan dia memberikan liontin itu yang masih di simpan nya hingga kini di kamar nya.


"Kakak aku pulang" Gumamnya lirih saat mobilnya masuk ke halaman mansion. Kedatangan nya di sambut dengan dua maid dan seorang pria paruh baya yang berjajar di pintu masuk mansion.


" Paman Alfred. Apa kabar mu? " Sapa Steffi menyapa kepala pelayan di mansion nya. Dia kemudian menolehkan kepalanya " Queen? " Sapa nya pada pelayan wanita itu.


"Nona masih ingat padaku? Apa kabar Nona? " Sapa nya. Senyuman lebar Steffi ke arah mereka. Queen mengantarkan majikannya ke kamar nya. Steffi menatap sekeliling kamar nya masih sama saat ia meninggalkan nya waktu itu.


Tak ada yang berubah. Hanya dirinya yang berubah menjadi mengenaskan hamil di luar nikah dengan asmara yang berakhir berantakan.

__ADS_1


__ADS_2