
Ibu Rama berlari naik ke lantai atas, suara yang barusan dia dengar berasal dari kamar Rama.
"Tok!" Ibu mengetuk pintu dengan perasaan cemas. "Rama, apa Syakira baik saja?"
Tidak lama kemudian, pintu kamar milik Rama terbuka. Syakira menampakkan diri. "Iya ibu, aku berteriak karena ada kecoak."
"Syukurlah, nak. kamu baik saja." ibu mertua menepuk bahu menantunya. "Lalu, mana Rama?"
Mendengar namanya di sebut, Rama bersembunyi di balik pintu kamar mendengar semua ocehan ibunya. Bahkan Rama memberi isyarat pada istrinya untuk tidak memberi tahu keberadaannya.
"Syakira, Rama mana?"
Syakira terlihat gugup. Sebenarnya Syakira berterima bukan karena kecoak, akan tetapi karena ulah suaminya. sebelumnya Rama sedang akan masuk kamar mandi, namun tiba-tiba saja handuk yang dikenakan suaminya melorot.
Mengingat hal itu, Syakira ingin terbahak. Ibu Mertua heran melihat anak mantunya senyum-senyum sendiri. Ia bisa menebak ada sesuatu yang anak mantunya sembunyikan.
"Ya sudah, ibu turun ke bawah sepertinya ada tamu."
"Ibu ada om Beni!" teriak Mawar. Om Beni merupakan pimpinan panti asuhan yang dipanggil Marwa
untuk datang mengambil makanan yang akan dibagikan pada anak panti.
"Siapa om Beni, ibu?" tanya Syakira.
"Oh itu, keluarga jauh almarhum ayahnya Rama. dia pimpinan Panti Asuhan Permata Bundaku. Tadinya mau suruh Rama suruh antar ke sana makanannya
"Memangnya sudah mau di antar sekarang, bukannya besok?" Rama tiba-tiba muncul dari belakang pintu.
Kamu darimana Rama?" pertanyaan ibu mertua membuat Rama garuk-garuk kepala tidak jelas.
"Ibu, Om Beni menunggu nih!" Teriak Marwa lagi dari lantai bawah.
"Ibu tinggal dulu. ibu juga tidak mengerti, mengapa pegawai kateringnya tidak mengantar langsung ke panti. Justru mengantar ke rumah.
Ibu Rama berlalu. Syakira berbalik melihat penampilan suaminya masih mengenakan handuk. Syakira spontan menutup matanya.
"Sayang, pakai baju sana!"
"Kenapa matanya ditutup."
"Bagian tidak ditutup, joni milikmu begitu!"
"Apa tadi ibu tadi lihat ya?"
"Ih memalukan, kalau tadi ibu sampai melihatnya." Syakira memukul lengan suaminya.
"Lepas, kak. jangan peluk aku."
__ADS_1
"Bibirmu mengatakan jangan, tapi bibir ini mengatakan peluk. iya kan, ayo ngaku!"
"Kak, ini sudah larut, berhenti menggodaku!" syakira minta dilepaskan.
"Ya sudah, ayo kita istirahat!"
Keduanya pun menuju kasur untuk merebahkan tubuh yang sudah minta di istirahatkan. lampu di matikan dan digantikan dengan lampu kamar yang agak redup, karena syakira tidak bisa tidur tanpa pencahayaan.
Fobia yang aneh. Emang sih aneh, tapi apa boleh buat. Syakira pernah berusaha untuk melawan fobia itu, namun tatap saja tidak bisa.
Melihat istrinya duduk terdiam, Rama mendekati. "kamu kenapa, sayang?"
Rama cukup bingung melihat istrinya yang kembali terbangun. "Apa cahaya lampunya terlalu gelap ya?"
"Aku ingin makan mangga muda yang kriuk-kriuk," Wajah Syakira terlihat cemberut.
"Apa, mangga muda?" Hal yang ditakutkan Rama datang juga. ia ingat cerita Ramli sahabatnya. istri sahabatnya mau makan mangga muda tengah malam. untungnya tidak sampai dia yang diminta untuk memanjat.
'Untung mangga muda sudah aku pesankan tadi sebelum buat nasi goreng,' pikir Rama tersenyum merasa tidak perlu khawatir.
"Mau mangga muda? tunggu di disini aku ambilkan." Rama berujar begitu bersemangat.
"Ambil di mana, kak?" Syakira menatap heran suaminya. Perasaan tidak ada pohon mangga di dekat rumahnya.
"Ambil di kulkas, sayang
aku udah siapkan untukmu." berbalik melihat istrinya dengan dagu terangkat.
"Iya, itu mangga baru dipetik dari pohonnya, sayang." lutut Rama mulai lemas, takut istrinya akan memintanya memanjat.
"Aku mau, kak Rama yang pa jatuh langsung dari pohonnya." Ungkap Syakira berdiri memohon.
Apa yang ditakutkan Rama benar-benar terjadi juga. menutup mulutnya dengan tangan. "Sayang, kamu serius?"
Syakira mengangguk, matanya melengkung membentuk bulan sabit. Bibirnya terangkat ke atas. wajah gemas istrinya membuat Rama tak dapat lagi berkata-kata selain menuruti keinginannya.
mengacak rambut istrinya dan berkata, "kami tidak kerjain aku lagi?"
"Mana ada, gak lah. Mau gak ambilkan?" wajah Syakira diketuk. "Ayolah!" rengek Syakira.
dengan wajah pasrah Rama pun mengangguk. Spontan, Syakira ***t bibir suaminya sekejap. Setelahnya, Syakira terkekeh-kekeh melihat suaminya mematung.
"Apaan sih, kak. mematung begitu, seperti baru saja dapat begituan. Udah dek, kak. berhenti candanya. Aku mau mangga muda.
"Tambah lagi dong! Biar suamimu ini tambah semangat."
"Kak, jangan begitu dong. Aku udah ngiler nih ingat mangga mudanya.* Syakira menelan salivanya sendiri mengingat mangga muda di baut seperti rujak.
__ADS_1
"Yasudah, kamu tunggu disini aku akan cari." Rama dengan sabar menuruti keinginan istrinya.
"Tidak. Aku ikut," Syakira merengek.
"Sayang, ini sudah tengah malam. kalau kamu ikut, takutnya kamu akan masuk angin."
"Pokoknya aku ikut!"
Mendengar Kegigihan istrinya, Rama sudah tak bisa lagi menolak. Meraih kunci mobil yang tergantung ditempatnya. lalu, mengambilkan jaket untuk istrinya.
Rama nampak gusar sendiri. Dia tidak tau kemana akan mencari mangga muda sesuai keinginan istrinya. matanya terus mencari pohon mangga setiap rumah yang dilewati.
pohon mangga tidak jauh dari kompleknya. namun, sayang pagar rumah tersebut terlalu tinggi.
"Oh Tuhan, ujian apa ini?"
"Kak, kamu diam. kenapa, gak bisa ya?"
"Bukan begitu sayang. ini lagi mencari."
Rama terus melajukan mobilnya. wajah Rana berseri-seri, ketika melihat pohon mangga dengan buah yang lebat. juga kebetulan penghuni rumah septi baru datang.
segera Rama memarkirkan mobilnya. ketika Rama menghampiri pemilik rumah itu, dia lebih terkejut.
"Tuan zakir?" tegur Rama yang mengingat Zakir.
"Tuan Rama, kan?" begitu juga zakir. Dia juga terkejut mendapati Rama tengah malam masih berkeliaran.
"Iya, benar," jawab Rama.
"Maaf, tengah malam begini, dari mana?" tanya Zakir melihat tampak ada seorang wanita di dalam mobil Rama.
Tentu Zakir sedikit curiga dan tidak percaya, jika Rama selingkuh. ia sangat tau bagaimana Rama begitu sangat mencintai istrinya, sedangkan Maura yang Jelas-jelas mengejarnya mati-matian ia tolak, bahkan nyawa sekalipun ia pertaruhkan.
Rama merasa malu sendiri. "Begini, istri saya mengidam mangga."
Zakir tertawa, ia bisa menebak maksud dari Rama. Rama akhirnya dipersilahkan untuk memanjat mangga. Zakir tertawa melihat Rama memanjat mangga tengah malam.
Usai memanjat mangga, Zakir mempersilahkan Rama untuk masuk dalam rumahnya, namun Rama menolak. juga karena situasi tidak memungkinkan.
Syakira yang bosan menunggu di dalam mobil, ikut turun menghampiri suaminya. "Kak, sudah?"
"Sayang, kenapa turun? yasudah kita pulang.
Sebelumnya Rama maupun Syakira tak lupa mengucapkan terimakasih pada Zakir. Zakir cukup salut dengan Rama yang begitu setia dengan istrinya. sebagai cowok seakan Zakir juga bermimpi mendapatkan pasangan hidup seperti Syakira.
Pengharapan Nya pada Maura seakan pupus seiring berjalannya waktu. Maura tetap menganggap dirinya sahabat.
__ADS_1
Sementara Syakira dan Rama kini menuju kembali ke rumah. begitu mobilnya memasuki pekarangan rumah ada begitu banyak polisi serta beberapa anggota TNI di sana. Rama dan Syakira cukup terkejut mendengar suara tangis dalam rumah tersebut.
Terus berikan dukungannya, buat Author semangat terus up up up.... jangan lupa ya like, komen dan beri vote.... 😍😍🥰🥰🥰