Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
25. Rindu


__ADS_3

"Aku selesai. Tolong kalian bantu aku, lelaki yang baru duduk itu. Jika ia mengikuti aku? Singkirkan dia jauh dari ku! Kita bertemu di pintu keluar sebelah utara. " Bisik Steffi lalu ia berdiri untuk berjalan keluar..


"Lindungi aku dari kejaran lelaki itu. Kalian mengerti. " Steffi menunjuk Samuel Johnson dengan bola matanya. Kedua orang nya mengerti keinginan Steffi.


Tak lama Steffi melangkah dan di tutupi kedua pelayan nya sehingga Samuel Johnson tak melihat posturnya yang tengah berbadan dua. "Steffi." Desis Samuel Johnson mengikutinya.


Carey wanita yang bersama nya menahannya. "Sayang.. Tunggu dulu, kau mau kemana? " Tanya nya mencoba menahannya pergi.


"Pergilah! Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau! " Usir nya menatap manik Carey. Wanita itu tergedik ngeri melihat sorot mata Samuel Johnson yang tajam dan dingin ekspresi nya.


Rangkulan tangannya melonggar dan detik itu Samuel Johnson mengejar Steffi. Wanita itu sudah di depan lift saat Samuel melihat nya bersama para pengunjung Mall.


Brukk. Seorang lelaki menjatuhkan paper bag saat Samuel tak sengaja menabrak nya. "Hei Tuan perhatikan jalan mu! " Tegur lelaki itu yang tak lain adalah sopir Steffi.


Samuel Johnson membantu menata barang-barang nya. Yang di buat untuk menghambat pengejaran Samuel Johnson terhadap Steffi.


"Tenang lah Steffi. Jangan panik, jangan tegang, tarik nafas. " Steffi berusaha menenangkan hati agar tak berimbas pada kandungan nya.


Akhirnya ia sampai pada tujuannya. Kemudian Sopir nya muncul juga Queen masuk belakangan setelah Steffi. Mobil meninggalkan parkiran halaman Mall, Steffi melihat Samuel Johnson di depan pintu masuk Mall berjalan ke segala arah mencarinya.


"Biar saja, lagi pula kita tak memiliki komitmen apapun. Namun aku sendiri tak terima jika dia bersama dengan wanita lain. " Batin Steffi sedih.


Begitu masuk mansion di sambut Steven Gerrard yang baru turun dari lantai atas. "Kau habis bersenang-senang? Apa saja yang kau beli? " Tanya Steven Gerrard.


"Hanya ini dan itu untuk si kecil. Kau ada pertemuan? " Tanya Steffi sedih. "Iya, aku ada makan malam untuk acara amal. Kau mau menemani ku? " Tanya Steven Gerrard.

__ADS_1


"Apakah kau tak keberatan di temani oleh ku wanita gendut dan hamil? " Tanya Steffi ragu menatap kakak kembarannya.


"Pergilah ke atas tadi aku menyuruh seseorang untuk membeli beberapa gaun bumil yang bisa kau kenakan saat di samping ku. " Perintah Steven Gerrard menatap Steffi.


Steffi bersorak girang wajahnya yang kusut kala datang berubah berseri.


"Awas hati-hati, aku tunggu di sini. Queen, bantu dia bersiap! " Steven Gerrard memberi peringatan pada adik kembarannya yang sedikit ceroboh. Juga memerintah pada pelayan yang lainnya.


Steven Gerrard memilih duduk di sofa ruang tamu dengan berselancar dengan ponsel pintar nya. Begitu masuk kamarnya Steffi langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari debu dan keringat yang nempel di badannya.


Tak lama ia keluar dari kamar mandi dengan bathrob memilih pakaian yang ada di paper bag di atas ranjang. Ia memilih dress putih dengan shoulder rendah, tak lupa ia menggulung rambutnya dengan aksesoris rambut ia selip kan.


Dengan riasan make up natural tak lupa ia kenakan gelang dan kalung emas putih berbatu berlian. Lalu flatshoes berwarna senada.


"Kau terlihat menggemaskan Sayang. " Steven Gerrard menyambut nya saat melihat Steffi turun di anak tangga. Di kecup nya puncak nya dengan kasih sayang.


Mereka menuju pinggiran kota memasuki villa yang penuh dengan pengaman. Memeriksa seluruh tamu yang masuk mereka menuju pintu masuk dengan pengawalan.


Ini sudah biasa bagi Steven Gerrard karena masalah persaingan bisnis apapun bisa terjadi.


Bangunan megah dengan gaya eropa klasik nampak ramai dipadati tamunya. Karena dapat dilihat mobilnya berderet dari luar villa. Steffi melihat nya.


Baru saja melangkah beberapa langkah memasuki ruangan bisa di bilang lobby terdengar suara lantang.


"Welcome, Steven Gerrard ini kejadian langka kau membawa seorang wanita. Dan dia sepertinya.. " Seorang lelaki dengan outfit jas hitam mahal dengan rambut cepak dengan mata biru safir.

__ADS_1


Langsung merangkul Steven Gerrard dan menepuk punggung nya pelan. Berbincang basa basi sedikit berbisik. "Dia cantik, dan menggemaskan. Dimana kau bertemu dengan nya? " Tanya nya penuh minat.


Dave Robinson lelaki yang tengah merangkul dan menyapa Steven Gerrard saat ini. Mata biru safir itu tak berkedip ke arah Steffi. "Awas pandangan mu! Dia amat beharga bagiku, ia membawa keturunan Gerrard. " Steven Gerrard memperingatkan.


"Aku tahu kau beruntung memiliki nya. " Sahut Dave Robinson kesal masih melirik nya. Mereka berjalan bersama menuju ke tempat pelelangan. Mereka duduk di deretan depan sebagai VVIP. Di layar utama telah memunculkan gambar-gambar barang yang di lelang. Steffi menatap ke depan penuh minat, ini kali pertama dia mengikuti acara seperti ini. Dia lebih menyukai kegiatan sederhana pada umumnya seperti masyarakat.


Tidak seperti Steven Gerrard yang melakukan hal yang diperintahkan sang Ayah. Dia lebih banyak diberikan kebebasan karena hanya anak perempuan.


"Makan lah. Aku menyuruh mereka menyediakan makana untuk mu. " Bisik Steven Gerrard. Steffi menganggukkan dan langsung menyantap kue dan jus di depannya.


Tak sengaja ia mata nya beradu dengan milik Dave Robinson yang memperhatikan nya dari samping. Bahkan lelaki itu mengedipkan matanya ke arah Steffi. "Ternyata di mana-mana juga masih bertemu dengan lelaki mesum. " Umpat Steffi.


Dalam hatinya ia mengutuki dirinya sendiri, "Kenapa juga kau melihat sekeliling mu seperti orang udik. Dasar bodoh! Sekarang kau malah di isengin lelaki mesum. "


"Apa kau mau perhiasan itu? " Tanya Steven Gerrard pada Steffi, dan hanya di jawab gelengan kepala. "Aku tak minat pada perhiasan, kau saja yang tentukan. " Steffi memilih bersandar di bahu kakak nya.


Steven Gerrard hanya mengelus surainya yang hitam, sedangkan tangan satunya melingkar di pundak Steffi. Ekspresi Steven Gerrard sendiri sama dengan Dave Robinson yang terlihat tenang. Tenang dan acuh tak acuh. Menatap ke depan melihat barang yang di gelar.


"Kalung ini milik keluarga Theodor. Sengaja di lelang ... " Suara dari juru lelang tak dihiraukan Steffi yang mengusik Steven Gerrard. " Ada apa? " Tanya nya menatap manik mata Steffi.


"Tidak usah membelinya, buang uang mu untuk kegiatan sosial. Tak ada gunanya membeli kalungnya dengan harga fantastis jika hanya di pajang. "


Steven Gerrard terkekeh kecil menyatukan ke-dua jidat mereka. "Aku tahu kau pasti akan melarang ku membeli apapun yang ada di sini. Karena itu aku membawa mu. Aku rindu omelan mu yang berisik. " Bisik nya.


Orang lain akan berfikir bahwa mereka melakukan hal intim selayaknya pasangan. Namun bagi Steven Gerrard ia sangat merindukan kemanjaan Steffi adiknya. Ini kali pertama mereka menghabiskan waktu bersama-sama setelah sekian lama berpisah dengan nya.

__ADS_1


Di lain tempat Samuel Johnson hanya menatap kosong di teras balkon nya. Ia sangat terkejut melihat Steffi ada di NY dan lebih dari itu wanita nya menghindari nya.


"Aku merindukan mu baby. Di mana kau tinggal? Di mansion Gerrard atau di apartemen atau.. " Samuel Johnson menggeram karena ingat kehilangan jejak nya tadi siang.


__ADS_2