Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
Lamaran Zakir


__ADS_3

Zakir sampai kafe miliknya akan menelpon Ana, adiknya untuk menanyakan kabarnya dengan suaminya apakah sudah tiba di tempat tujuan. Namun, begitu Zakir akan menelpon, dia tidak menemukan ponsel miliknya di saku celananya. Tentu Zakir begitu panik. bagaimana tidak semua nomor telpon penting ada di ponsel itu.


"Ada apa, pak, kok kelihatan panik?" Tanya Marni yang merupakan karyawan Zakir.


"Sebelum tadi pagi aku keluar, apa aku membawa ponsel?"


Marni pun mencoba ingat-ingat. "Tadi pagi anda datang, duduk sebentar dan menelpon, lalu pergi, pak." Marni juga lupa apa bosnya bawa ponsel atau tidak.


"Itu artinya aku bawah ponsel. lebih baik memeriksanya di mobil," ujar Zakir akhirnya melangkah menuju parkiran.


Namun, langkah itu terhenti ketika suara terdengar memanggilnya. Zakir menoleh dan tersenyum.


"Tuan, anda pemilik kafe ini, kan?" Zakir bingung dengan pertanyaan ibu-ibu gaul yang lagi nongkrong di kafe miliknya.


"Iya benar, aku pemilik kafe ini, ada apa ya?" tanya Zakir dengan ramah.


"Masih cowok kan?" tanya pelanggan itu.


Zakir merasa lucu pertanyaan yang dilontarkan pengunjuk kafe itu. kenapa pertanyaannya mengarah ke sana.


Marwa yang baru saja datang untuk mengembalikan ponsel Zakir ikut menyimak.


"Mau tidak, menikah dengan anak aku, kali kamu mau menjadi menantuku. habis kamu tampan, iya kan jeng?" tawar ibu gaul pada Zakir.


"Iya, apa lagi mas ini ganteng," puji mereka mendukung apa yang ditawarkan oleh temannya.

__ADS_1


'Apa dunia sudah tua ya, seorang ibu menawarkan putrinya padanya. Zakir tidak habis pikir, atau karena umurnya yang sudah cukup.'


Zakir tersenyum mendapatkan tawaran emak gaul yang sering nongkrong dikafe miliknya. "Maaf Bu, Sayaβ€”" ucapan Zakir berhenti Saat suara memanggil namanya.


"Zakir?" panggil sapa Marwa.


otomatis emak-emak gaul ikut menoleh siapa yang memanggil pemilik kafe itu. ibu gaul yang menawarkan putrinya sedikit kecewa.


"Marwa, kamu di sini?" Keterkejutan Zakir membuat emak-emak gaul sedikit penasaran.


"Ini ponselmu, tadi ketinggalan di kantor." Marwa memberikan ponsel Zakir.


ketika Zakir menerima ponsel itu ibu Dora kembali bersuara. "Tuan, dia istrimu?" tanya emak gaul itu yang bernama ibu Dora.


Zakir dan Marwa menoleh. "kirain tuan Zakir masih jomblo. kelihatan sih muka kalian jodoh. Maaf tuan. Aku pikir tuan ini masih jomblo, Habis mukanya tuan ini masih terlihat belum beristri deh," timpal ibu Dora.


"Zakir lepaskan. kau mau menarik ke mana?"


Zakir terus menarik tangan Marwa agar ikut dengannya. ternyata Zakir membawanya di bagian pojok Kafe. yang kemudian meminta Marwa untuk duduk.


"Aku mau bicara serius denganmu." tatapan Zakir memilih Marwa menuruti permintaan Zakir untuk duduk.


Setelah melihat Marwa duduk, Zakir pun ikut duduk berhadapan dengan Marwa.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Marwa.

__ADS_1


"Menikahlah denganku, Marwa? jadilah istriku, Maaf atas kekancanganku," ungkap Zakir penuh harapan.


Deg! jantung Marwa berdengup cepat mendapati permintaan Zakir yang melamarnya langsung.


"Apa aku salah, jika ingin menikah denganmu? Toh masa iddah kamu sudah selesai, iya kan?" ucap Zakir lagi melihat Marwa terdiam kaku.


Marwa diam seribu bahasa, mencoba mengatur ritme dengup jantungnya. Apa yang dikatakan Zakir benar masa iddahnya sudah lama berakhir.


"Marwa, apa salahnya jika kamu seorang janda, aku tidak peduli. kenapa mesti minder jika kamu seorang janda. memangnya salahnya di mana? apa keinginan kamu menjadi janda? tidak kan?" Marwa sampai detik ini aku masih memiliki perasaan padamu." Zakir berharap marwa mau menerima lamarannya.


"Zakir, kenapa mesti harus aku kamu pilih? ada masih banyak gadis di luar sana dan lebih baik dari aku," kata Marwa menatap Zakir.


"Aku tahu, Marwa, Tapi kamulah yang terbaik di mata aku, kamulah yang aku pilih. Aku mau kamu, bukan yang lainnya," jawab Zakir yang membuat Marwa diam.


"Marwa, jadilah istriku, aku tidak peduli kata orang. Bukan mereka yang menjalani rumah tanggaku, tapi aku dan kamu. Marwa, menikahlah denganku." Zakir menatap Marwa penuh harap Natwa mau membuka hatinya untuk dirinya.


"Apa aku tidak bisa memikirkan dulu?" ujar Marwa.


Mendengar hal itu, Zakir tersenyum. ada harapan untuknya.


"Aku akan menunggu jawabanmu."


...BERSAMBUNG...


...cinta adalah ketika kamu katakan, Aku pergi, aku akan melupakanmu, tapi kamu tidak melakukan itu. mengapa? karena kamu masih mencintainya. ...

__ADS_1


...Cinta tidak akan menuntut kesempurnaan, cinta akan memahami, menerima dan rela untuk berkorban. Karena cinta seharusnya membuatmu bahagia bukan terluka....


...Hai, maafkan Author baru Up lagi. Author sebisanya menyeledsiksn cerita ini. sekali lagi Author minta maaf baru Up. Terimakasih sudah bersabar. β˜Ίβ˜Ίβ˜ΊπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™...


__ADS_2