Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
Permintaan Marwa


__ADS_3

Kandungan Syakira kini memasuki 8 bulan. Syakira seringkali mengalami keram pada pinggul dan betis kanannya. Syakira berharap semuanya baik.


Tiap bulan rutin kunjungan ke dokter. terkadang denyut jantung anaknya sulit di temukan. Hal inilah yang membuat semua keluarga panik lebih pada Rama calon sang ayah.


Syakira yang kerap merasa kurang sehat, memilih untuk lebih banyak untuk beristirahat apalagi stelah pulang dari kampus mengurus hari wisudanya.


Namun syukurnya, nafsu makan tetap baik bahkan ia rajin mengkonsumsi sayu-sayur hijau yang disiapkan asisten rumah tangga karena perintah ibu mertua.


Ibu mertua tidak pernah lengah memperhatikan menantu selama kehamilannya. Bahkan ibu mertua dan Marwa yang sibuk menyiapkan perlengkapan bayi Syakira, karena bahagianya akan menyambut cucu pertamanya. mengenai jenis kelamin penerus keluarga itu, sengaja mereka tidak mau tahu agar menjadi kejutan buat keluarga besar tersebut.


"Ibu, apa salah jika misalkan aku memberitahu hal ini pada Syakira?" ujar Marwa yang begitu antusias dengan niatnya.


"Ibu juga tidak tahu, nak,"ujar ibu Rama yang merapikan baju-baju bayi tersebut yang sebelumnya mereka sudah cuci.


"Andai suamiku masih hidup, mungkin kami sudah melakukan bayi tabung," Marwa ikut merapikan baju-baju bayi itu dengan tersenyum. Sesekali ia memeluk baju bayi itu serta menciumnya berulang kali.


Tidak sengaja Syakira mendengar perkataan Marwa. "Apa maksud Marwa?" gumam Syakira yang kini berdiri di depan pintu.


Marwa dan ibu mertua terus merapikan baju- baju bayi yang lucu-lucu. Sesekali Marwa tersenyum melihat model baju bayi dengan warna seperti lebah.


"Ini pasti sangat lucu, jika di kenakan pada bayi Syakira kelak," Ujarnya. "Aku akan berbicara dengan Syakira. Semoga saja dia mau mengabulkannya."


"Apa yang akan aki kabulkan, kak. aku bukan Tuhan."


Ibu mertua dan Marwa menoleh. mereka cukup terkejut melihat kehadiran Syakira.


"Ibu, kak Marwa, katakan padaku ada apa?"


Marwa terlihat gugup. begitu juga dengan Ibu mertua. Mereka tidak tahu memulai dari mana. "Kak, katakan ada apa?"


Syakira duduk di samping Marwa. lalu, menggenggam tangannya. "Ada apa, kak?"


"Dek, maafkan kakakmu ini. Sebelumnya aku pernah berbicara pada Rama dan memintanya untuk tidak mengatakan padamu."


Syakira tidak mengerti maksud kakak iparnya.


"katakan saja, kak, sebenarnya ada apa?" Syakira mengejar arah pembicaraan yang belum dimengerti.


"Kakak menginginkan kelak kau melahirkan untuk aku adopsi anakmu."

__ADS_1


Kalimat itu mampu mengguncang perasaan Syakira, sekaligus memberatkan detak jantungnya.


Syakira tidak percaya dengan apa yang di dengar olehnya. Kepala seakan pening memikirkan Jawaban apa yang pantas di utarakan.


"Syakira?" Marwa menggoyang tubuh Syakira.


Syakira melepaskan genggamannya dan berdiri. Permintaan Marwa datang tak terduga olehnya. Syakira memang iba dengan keadaan kakak iparnya, akan tetapi permintaan Marwa sangat tidak menyenangkan untuk Syakira.


Syakira hendak pergi ditahan oleh Marwa. "Ra, Aku tidak akan memisahkan kamu darinya. Kelak dia lahir kamu masih bisa melihatnya." Marwa meraih tangan Syakira dan berkata, "Ra, mungkin dengan hadirnya kelak anak-anakmu, kebahagiaan kalian akan lengkap, sedangkan aku? Aku hanya seorang janda tulen. Tidakkah kau merasakan penderitaan ku, Ra?"


Air mata Syakira lolos begitu saja mendengar kalimat yang terlontar dari bibir sang kakak ipar. Sejenak napas tersengal. Syakira kembali melepas tangannya dari Marwa. Dia berlalu tanpa satu kata.


Marwa mendudukkan tubuhnya di atas kasur menyesali perkataannya. Marwa sangat paham perasaan Syakira. Ibu Ratna memeluk putrinya. "Tidak ada yang salah, sayang."


Sementara Syakira sendiri, duduk melamun di kursi meja rias sambil mengelus lembut perutnya. Dia mengingat tiap kata yang tersirat dari bibir Marwa sebelumnya.


"Ujian apa lagi ini?"


Ada rasa tak bisa digambarkan dalam dirinya. Tatapan Syakira kosong. Syakira meraih MP3 berwarna merah dan langsung meng-klik tombol of. Terdengar lantunan surah Al Baqarah


'Allah tidak membebankan seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.'


Rama yang baru pulang dari kantor memberi salam, mendapati istrinya tertidur di jam 16.00.


Rama mengecup kening istrinya, tetapi tidak ada pergerakan dari Syakira. lalu beralih menatap bibir merah seperti mawar. Rama mengecup tanpa izin. dari sang empunya. Melihat istrinya bergerak Rama melepaskannya.


Mata indah itu terbelalak seketika, melihat siapa pelakunya. "Kak, kapan pulang?" terdengar suara serak Syakira.


" Baru, sayang. Kamu sudah ashar belum?" timpal Rama tersenyum menatap dua mata indah itu dengan bulu mata yang melantik.


"Ini sudah jama berapa?" Syakira mengikuti telunjuk suaminya ke arah jam dinding.


"Astagfirullah, Aku ketiduran." Syakira akan beranjak.


"Tenangkan dulu dirimu, jangan terburu-buru."


Syakira pun kembali mengumpulkan nyawanya, kemudian beranjak dan mengambil air wudhu.


Usai kegiatannya, Syakira duduk di atas kasur menunggu suaminya keluar dari kamar mandi. Sambil menunggu, Syakira membaca buku seputar ibu hamil.

__ADS_1


"Kata ibu, kamu belum makan siang, kenapa?"


"Tungguin kak Rama," ujar Syakira berdiri. "Kak, sebentar pakai baju ya?"


"Sayang, kamu kenapa? kok manja begini?"


"Akun ingin mencium aroma sabun-mu," Syakira berbohong padahal hatinya masih diliput rasa tak tega.


"Sayang, jangan seperti ini dong, aku geli!" Rama menegur Syakira yang terus menggosok wajahnya di dada bidan milik suaminya.


"Biarin." jawab Syakira.


Rama pun mendekam istrinya yang di balas oleh Syakira dan Rama langsung **** di balas oleh Syakira.


"Sayang, kamu baik saja, 'kan? Gak biasanya lho, kamu seperti ini."


"Iya, aku baik."


Rama geleng kepala melihat tingkah aneh istrinya dengan perut yang sudah membuncit. Syakira kembali mengantungkan tangannya dileher suaminya dan terus menggoda suaminya hingga Rama tidak bisa lagi ***, tapi karena kondisi janin akhir-akhir ini menghawatirkan, Rama pun menepis ***** untuk **** istrinya.


Tiada lain niat Rama agar diberikan kemudahan istrinya melahirkan dan dijadikan anak sholeh. Bahkan Rama selalu memutarkan bacaan ayat suci Al-Quran pada calon buah hatinya per juz tiap bulannya.


Hingga makan malam tiba, Syakira dan Rama ikut bergabung bersama dengan keluarga tak ada percakapan. Hening. selesai makan baru mereka saling menanyakan kabar.


Marwa tampak selalu merasa bersalah pada Syakira hingga Marwa mendekati Syakira yang tengah duduk bersantai bersama suaminya.


"Ini buah untuk ibu hamil. Ini sangat baik untuk kesehatanmu dan janin mu." Marwa duduk tepat di samping Syakira. "Lupakan yang tadi. Aku minta maaf. Tidak seharusnya aku menyakitimu dengan berkata seperti itu."


Shakira hanya terdiam. Rama penasaran dan bertanya, "Ada apa, kak?"


"Tidak, dek. Aku hanya tidak ingin dengan permintaanku menyakiti kalian." Marwa tersenyum dan beralih mengusap perut buncit adik iparnya, kemudian memeluknya.


"Aku juga minta maaf, kak," ujar Syakira


"Baiklah, silahkan kalian lanjutkan. kakak mau ke pesta teman kakak."


Marwa berlalu masuk kamarnya berganti. kemudian menuju pesta temannya yang acara kan di sebuah gedung ternama.


Turun dari mobilnya seseorang menabrakkannya dan seketika keduanya saling terkejut.

__ADS_1


__ADS_2