
"Kak?" lirih Syakira.
Rama menutup bibir istrinya dengan jari telunjuknya dan berkata, "Aku sudah katakan padamu tadi siang, 'kan? aku akan memberimu hukuman," Sela Rama dengan senyum yang dapat membuat hati jatuh cinta bagi siapa yang melihatnya.
Syakira kembali jatuh cinta pada kasih halalnya. Tak hanya itu, wajah Syakira merona dengan memalingkan wajahnya karena Rama yang terus menggodanya hingga memberi tanda merah pada tempatnya.
"Setelah begitu banyak ujian yang sudah kita lewati dan hari ini aku kembali merasakan bahwa kau benar-benar miliki," ungkap Rama dari lubuk paling dalam.
Dalam sekejap di dalam keheningan keduanya larut dalam perasaan masing-masing. jari keduanya saling terpaut merasakan dinginnya malam ditengah riak ombak yang saling kejar mengejar.
Hingga pada akhirnya malam yang panjang di tengah terdengarnya suara ombak, mereka pun kembali menyatukan cinta mereka. Hening, senyap, tak ada lagi suara diantaranya.
ke duanya hanya bisa berharap apa yang mereka tanam membuahkan hasil.
**
Subuh tiba, setelah malam panjang sepasang pengantin lama itu terlewati, keduanya tidak ada canggung atau pun jarak di antara keduanya untuk menunjukkan kemesraan mereka.
Bahkan tanpa malu keduanya memutuskan untuk mandi bersama. Saling ***uk dan tawa bersama di dalam bathtub yang dipenuhi dengan busa.
Berlanjut keduanya shalat berjamaah, berdoa bersama untuk dijaga pernikahan mereka dan dijadikan keluarga mereka sesuai dengan pengharapan tentunya keluarga yang bahagia dan harmonis dan harapan besar dalam doa mereka Tuhan berkenang menggantikan sebuah hal yang pernah hilang. Lepas dari itu, Syakira meraih tangan Rama. keduanya saling meminta maaf.
Setiap orang memang memiliki cara tersendiri membahagiakan pasangannya, punya cara tersendiri memperhatikan pasangannya dan punya cara tersendiri memberi cinta pada pada pasangannya.
Pagi menjelang siang, mereka menyiapkan seluruh perlengkapan untuk kembali berkumpul dengan keluarga.
"Andai bisa, aku ingin rasanya membawamu pergi lagi di suatu tempat," Rama duduk dibelakang Syakira, memeluk dari belakang mengamati istrinya memasukkan pakaian kami dalam koper. "Menurutmu bagaimana?"
Sambil terus memasukkan pakaian kami aku pun menjawab, "Sayang, kita kembali dulu. InsyaAllah lain kali kita rencanakan. Bukankah kamu harus masuk kerja?"
"Tapi, aku masih ingin berdua denganmu. Bagaimana itu?" ujar Rama yang kemudian membantuku memasukkan barang-barang kami ke dalam koper lainnya.
"Tidak boleh begitu dong. sayang, cukup sudah perjalanan kita selama tiga hari ini. Akun juga sudah baik kok.
"Siapa suruh dia hanya memiliki satu anak laki-laki. Jadinya ya aku juga harus sibuk," Rama mengecup **pi Syakira.
Entah ia bercanda atau serius dalam ucapannya. Tapi apa yang dikatakan mungkin ada benarnya. Rama sebagai tulang punggung keluarganya memang lah cukup melelahkan.
"Sayang, Tuhan itu percaya denganmu bahwa kamu pria yang mampu hingga memberimu ujian."
"Yang aku dengar kala itu, saat ibu hamil kan aku ibu sempat hampir keguguran hingga divonis tidak bisa hamil lagi. Dan benar saja saat aku lahir ibu tidak bisa lagi hamil lagi hingga ayah menemui ajalnya melalui perbuatan Tante Melly.
__ADS_1
"Hei, kenapa suamiku jadi mellow"
"Aku hanya bayangkan andai saat itu ibu keguguran itu artinya tidak ada Rama dan Syakira seperti ini." Rama mengangkat tubuhku dan membaringkan aku di atas kasur. "Jika Allah mengizinkan, aku ingin memiliki banyak anak. Menurutmu bagaimana?"
Aku tampak malu mendengar kejujuran suamiku. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
"Bagaimana menurut kamu, sayang?"
"Jika Allah menitipkan ruh itu di rahimku apa aku bisa menolak? Aku punya suami. Tentu aku siap. Berapa pun yang Allah percayakan padaku InsyaAllah aku siap. Selama suamiku juga menginginkannya," jawabku.
Kami pun kembali bersiap. Setelah semua beres aku dan kak Rama bersiap untuk terbang kembali berkumpul bersama keluarga.
"Apa tidak ada ketinggalan, sayang?" Rama mengingatkan istrinya sebelum mereka pergi meninggalkan tempat itu.
"Sepertinya tidak ada," ucap Syakira yang kemudian barang mereka dibawah oleh supir yang akan membawanya menuju bandara.
Rasa lelah terlihat bercampur bahagia di wajah keduanya. Rama menatap wajah istrinya yang tertidur. Dia mengusap wajah itu.
Hingga terdengar gemuruh yang membuat seluruh isi penumpang pesawat panik. "Apa yang tejadi ayah? kata Naka kecil itu."
"Tenang sayang semu akan baik saja. Tutup mata kamu. Jangan buka sampai ayah memintanya. kau dengar?"
"Anak, pintar." Bapa itu mengusap kepala putranya dengan lembut.
"Ayah aku merindukan ibu? aku ingin bertemu dengan kakak."
"Kita pasti bertemu."
Suara bunyi pesawat semakin membuat jantung berdebar. "Ayah, aku takut!" teriak anak kecil itu.
Semua pramugari tampak terlihat sibuk menenangkan setiap penumpang pesawat itu. Semua mata saling menatap antara penumpang satu dengan lainnya. ada yang saling berpegangan, bahkan ada yang sudah pasrah.
"Kak? panggil Syakira.
Rama menggenggam dengan erat tangan istrinya tanpa keluar suara. Rama beharap masih di berikan kesamaptaan bersama istrinya kehidupan yang ke dua kalinya.
"Maafkan aku, sayang."
"Aku juga minta maaf, kak."
"Aku, mencintaimu," ungkap Rama.
__ADS_1
"Aku juga, sangat."
***
Beda dengan Maura yang sekarang sudah berada dibalik jeruji besi dengan Tante Melly mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ia menghabiskan waktu mereka dibalik jeruji itu. Tak ada yang banyak mereka lakukan selain menyesali perbuatannya.
kebencian istri dari suaminya, ibunya Rama tidak sampai tega ponakannya, Anak Tante Melly ikut menderita akibat perbuatan ibunya.
Putri Tante Melly kini harus menjadi wanita lumpuh. mendengar kabar ibunya ia ikut bersedih juga menyesali ibunya sekejam itu. "Kak Rama pasti menderita ya tante?" ujarnya dibalik telpon.
"Tidak juga, nak. walau awalnya menang sulit."
"Lalu bagaimana dengan kak Syakira tan?" tanya Rania.
"Mereka pergi berlibur. dan hari kemungkinan pulang. Kamu, apa tidak pulang?" tanya ibu Rama dibalik telpon.
"nantilah dilihat, tante."
hingga akhirnya percakapan mereka berakhir.
"ibu apa Rama sudah ada kabar?" tanya Marwa pada ibunya yang baru keluar dari kamar."
"Dua jam lalu mereka mengatakan, jika sudah menuju bandara," jelas ibu Rama cukup khawatir kara cuaca tampak tidak mendukung.
"Ratna, ada apa denganmu? kenapa kamu terlihat khawatir?"
"Ibu, entah mengapa perasaanku tidak enak." Ibu Rama terus berdoa agar anak dan menantunya selamat sampai tujuan.
"Kamu berdoa saja, semoga mereka selamat," ungkap nenek yang sebenarnya juga khawatir, krena cuaca semakin tidak mendukung.
Begitu juga dengan Marwa, ikut khawatir. "harusnya mereka sudah sampai jam ini, ibu."
suara telpon milik ibu Rama kembali berdering. terlihat di sana nomor baru entah nomor siapa. Dengan tangan sedikit ragu ibu Rama menjawab panggilan itu. Tentu Marwa dan nenek penasaran. siapa yang memanggil dan ada apa?
"Apa?" pekik ibu Rama."
Bersambung....
simak ya ... jangan lupa beri LIKE, KOMEN dan VOTE ya....🙏🙏🙏🙏😍😍😍Love-love buat pembaca TERLANJUR SAYANG jangan pernah kecewa karena ada kejutan yang lebih membuatmu akan baper.... 😉😉😉😉😉
Saking mendoakan sehat terus... ya.... semoga Author terus diberi ide cemerlang... serta kesempatan banyak biar terus untuk Up Up Up...
__ADS_1