
Sinar pagi mulai menyapa, masuk ke dalam celah-celah tirai kamar yang masih tertutup. Dengan gerakan malas, Syakira membuka matanya melihat keadaan di sekelilingnya.
"Hmm ... ini sudah pagi, waktunya untuk bangun." Netranya masih terasa pedas akibat semalaman menjaga si dedek bayi yang terjaga, karena kehausan meminta susu.
Kembali netra itu tertuju pada pantulan wajahnya di cermin. Sudah cukup lama dia tidak memperhatikan dirinya. Selalu terburu-buru jika melakukan sesuatu, bahkan tidak punya waktu untuk sekedar mematut diri di depan cermin. Padahal dulu, dia bisa berlama-lama berdiri di depan benda persegi itu.
Syakira memegang pipinya yang yang bertambah berisi membuat wajahnya yang dulu lancip kini terlihat lebih bulat. Lehernya pun kini terlihat berlapis dua. Alisnya mulai menyatu, membuat kerutan tiga garis diantaranya.
Dia lantas bangkit, berdiri di depan cermin. Membuka sedikit kaosnya ke atas, melihat bentuk perutnya yang kini mulai bergelambir dari bayangan di dalam kaca.
"Ini tidak mungkin, tidak!" gumam Syakira.
Kembali dia menatap yang kedua kalinya bayangannya di cermin. Mulutnya terbuka lebar. Lalu berputar untuk meyakinkan dirinya jika itu memang dia.
Dia menurunkan bahu dan menunduk. Mengambil alat timbangan yang ada di bawah tempat tidur untuk mengecek berat tubuhnya sekarang. Membelalakkan matanya lebar tatkala melihat jarum di alat itu menunjukkan angka 85.
"Apakah timbangan itu salah? Sepertinya, iya," karena biasanya tubuhnya hanya 45 kilo kalau bertambah mungkin hanya jadi 50 kilo saja. Syakira turun dan naik lagi untuk memastikannya. Namun, tetap saja jarum berada di angka 85. Dia ingin menjerit dan menangis keras karena bobot tubuhnya yang lebih. Tidak menyangka jika perubahan yang terjadi pada badannya akan sedrastis itu.
"Tidak, saya tidak boleh gemuk." Utami mulai melompat-lompat kecil.
Rama yang baru datang dari Jogging cukup heran melihat istrinya. mengusap pelu yang tersisa setelah berolahraga pagi, lalu Rama menyimpan handuk kecil yang bertengger dilehernya di atas sandaran kursi, kemudian memperhatikan istrinya lebih dekat. seketika, Syakira berhenti dari aktivitasnya, karena malu kedapatan.
"Sayang aku, lagi apa?" nada bicara sang suami terdengar seperti meledek.
Wajah putih itu merona, sehingga tampak jelas terlihat memerah, sementara Rama sendiri, masih saja menggoda istrinya, hingga Syakira berbalik memukul dada bidan pria yang kini sudah memeluknya dari belakang.
"Kau meledek aku, kan? Ayo mengaku?" Syakira berbalik hendak memukul suaminya,akan tetapi Rama lebih cepat dan menangkap tangan itu.
"Kau mempermasalahkan bentuk tubuhmu?" Kata Rama yang masih memegang kedua pinggang istrinya.
__ADS_1
"Jujur, aku seperti kurang percaya diri melihat bentuk tubuhku yang sekarang. Berat badanku sekarang bertambah, ukuran baju pun yang dulunya M sekarang sudah tidak muak." ujar Syakira.
"Tapi, bagi aku, istriku tetap cantik, kok."
"Cantik mana? lihat pipi aku tembem seperti ini dan leher aku berlapis dua," ujar Syakira lagi.
"Tapi, aku tidak masalah dengan bentuk tubuhmu. Aku termasuk pria egois, jika aku menuntut istriku harus tampil sempurna dan itu tidak adil bagimu, sebab istriku telah berkorban untuk aku, yakni telah melahirkan anak-anak sholeh dan sholeha untukku." Rama mengusap wajah istrinya dengan lembut sambil menatap kedua manik nan indah itu.
"Sayang, cantik itu relatif, maka kita tidak perlu membanding-bandingkan semua itu dari luar. Cantik natural itu lebih baik dari pada cantik yang dibuat buat. Kecantikan yang tidak disertai dengan iman dan budi pekerti, bagai bunga yang indah, namun tiada harum." Rama mengecup kening istrinya.
"Cinta bukan berarti, kamu harus terlihat sempurna di depan aku atau di depan semua orang, melainkan berani untuk tampil apa adanya. Percayalah, dan ingat. Jangan pernah kamu berfikir untuk diet. Aku akan marah." Rama mengecup tempat favoritnya yang berwarna merah mawar itu, lalu melipir masuk masuk kamar mandi.
Syakira mematung di tempat, seakan suaminya mendengar kata hatinya yang sempat terlintas di benaknya untuk melakukan diet. 'Kau egois, Syakira. Anak-anakmu jauh lebih membutuhkanmu dari pada kamu harus mengurus penampilanmu. ingat Syakira, anak-anakmu masih minum ASI.'
Hingga beberapa menit, Rama keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya mengurus anak kembar mereka.
"Belum, tapi aku sudah menyiapkan sarapan untukmu," ujar Syakira yang tangannya sibuk memandikan Baby-baby mereka yang makin hari makin menggemaskan.
"Aku akan mencari asisten rumah tangga dan juga, aku akan mencari baby sister untukmu, bagaimana?" tanya Rama minta pendapat istrinya karena sekarang mereka sudah kembali tinggal di rumahnya sendiri.
"Baby sister, tidak perlu, sayang. cukup asisten rumah tangga saja, tapi jangan yang muda. Aku tidak setuju." sahut Syakira yang kemudian memandikan bayi perempuannya, Adina.
Dengan senyum, Rama berpura-pura tidak paham maksud istrinya. "Memangnya kalau asisten rumah tangganya masih muda, kenapa, sayang? kan, kalau masih muda tenaganya juga masih kuat."
Syakira mengangkat kepalanya menatap tajam suaminya yang kini berdiri ikut memandikan Adina.
"itu maumu. Awas saja, ya, jika hal itu benar, aku usir dia dari rumah. Apa lagi yang datang dengan penampilan, alamak, aku tidak bisa jelaskan," pungkas Syakira yang memercikkan bekas mandi Adina di wajah suaminya yang membuat Rama tertawa lepas membuat baby Arjan dan Arjun menangis kaget.
Syakira menoleh dan meminta Rama memandikan Adina. "Tuh, kan, mereka juga tahu apa yang barusan aku katakan," ujar Syakira yang kemudian berusaha menenangkan Arjan dan Arjun.
__ADS_1
Rama hanya tersenyum sambil mengajak Adina berkomunikasi hingga Adina terdengar suaranya tertawa lucu. "Bagaimana dengan putri cantik ayah, boleh?"
"Abi?" sahut Syakira lagi.
"Oh, ternyata Adina juga tidak setuju?" kata Rama lagi, dan baby Adin seakan mengerti apa yang di ucapkan orang dewasa itu yang terus mengajaknya berbicara. Hingga suara keke Adina yang berulang kali terdengar membuat Rama dan Syakira tersenyum.
Usai memandikan Baby Adina, Rama melanjutkan mengurus putri cantiknya itu hingga usai, Sementara Syakira sendiri memberikan ASI pada Baby Arjan dan Baby Arjun.
"Awas saja, jika sampai Abi membawa asisten rumah tangga yang Aku kurang setuju kemari," ulang Syakira yang entah mengapa, dia terpengaruh dengan ucapan suaminya. Ada rasa cemburu dari nada bicaranya.
"Sayang, kamu percaya dengan ucapan aku?" tanya Rama yang menggendong Baby Adina yang sudah cantik dan harum.
"Siapa tahu, kan banyak tuh sekarang begitu. Setelah istrinya melahirkan, semua kata manisnya dulu sudah terlupakan," ujar Syakira.
"Sayang, jika aku mau, dari sejak dulu aku lakukan. Tapi, tidak akan. Apa gunanya, satu sudah cukup bagiku. Apa lagi yang aku cari, semua sudah lengkap.
"Jika misalkan dulu, aku gak bisa melahirkan anak-anak untukmu, bagaimana?"
Rama terdiam yang membuat Syakira kembali berkata, "Kenapa diam? mikir, ya? sudah kuduga." Syakira memajukan bibirnya ke depan hingga melengkung.
Rama mengecupnya dan berkata, "Itu tidak akan terjadi, kerena mendapatkan saja dirimu dulu, sangat sulit. Apakah kamu pikir semudah itu? sayang, jangan samakan aku dengan pria lain. Walau poligami itu di bolehkan, aku tidak akan melakukan itu. Itupun poligami sebenarnya dibolehkan karena apa dulu?" Rama meletakkan Baby Adina di sisi Syakira yang sudah usai memberi ASI pada Baby Arjan, dan Baby Arjun.
"Lalin kali, jangan mengajukan pertanyaan yang seharusnya jangan ditanyakan. Aku mencintaimu. Percayalah. Biarkan maut memisahkan kita."
...BERSAMBUNG...
bahagia itu mudah, hanya perlu hidup sederhana dan apa adanya. Bahagia itu sederhana, apa yang membuatmu tersenyum, jangan lepaskan. Bahagia itu sangat sederhana, selalu menghargai apa pun yang telah diraih walau sekecil apa pun.
Terimakasih atas dukungannya, 😍😍😍😍 dan terimakasih masih setia dengan cerita Author.🙏🙏🙏🙏 yuk berteman dengan Author! Dengan cara; Follow IG Author @Anihijab15.
__ADS_1