Terlanjur Sayang

Terlanjur Sayang
Hari Bahagia


__ADS_3

Hari resepsi digelar disalah satu gedung mewah hari itu tiba. Para tamu undangan telah hadir. Mulai dari tamu kalangan bawah hingga tamu kalangan atas. Bahkan semua kolega bisnis Rama dan kerabat lainnya memenuhi gedung tersebut.


Semua kerabat terdekat telah turut hadir memenuhi ruangan yang terbilang mewah. Sebenarnya bukanlah keinginan Marwa untuk pesta sebesar ini. Namun semua karena keinginan mantan mertua Marwa yang ikut merestui hubungan pernikahannya Marwa dan Zakir.


Kebahagiaan tergambar jelas di mata Rama dan Syakira bisa melihat wajah Marwa kembali tersenyum setelah sekian lama wajah itu hanya sesekali terlihat menampakkan keceriaan.


Syakira dan Rama menjadi pusat perhatian malam itu. bagaimana tidak kemesraan di antaranya begitu tampak terlihat.


Saya kira tidak menyangka Ana Sahabatnya menjadi adik ipar dari Marwa, sang kakak ipar. lepas dari itu, Ana meninggalkan Syakira.


"Abi, apa lucu, kok senyum-senyum lihat kak Marwa dan Zakir? Memang kenapa sih?" tanya Marwa memalingkan wajah suaminya agar melihat ke arahnya.


"Itu, Sayang. Aku teringat saja hari pernikahan kita saat itu."


"Memang apa yang kamu ingat dari pernikahan kita kala itu?" Syakira cukup penasaran.


"Banyak, banyak sekali, terutama–"


"Cukup, stop! Jangan di bahas, yang ada larinya ke sana pembahasannya. cari topik lain saja."


"Ok, kita bahas lain saja," Ujar Rama.


"Apa?"


"Kita keluar Yuk, keluar bersantai, Sudah lama gak jalan bersama istri aku semenjak habis lahiran."


"Jangan ngawur, acara belum selesai, Abi. Nanti di cari mama, bagaimana?"


"Ya cukup jawab saja, kita keluar cari angin, beres, kan?"


"Tidak ah, coba lihat deh, semua mata menatap ke arah kita." Syakira cukup malu di tatap oleh para tamu undangan.


"Memang aku pikir. Terserah mereka, yang aku peluk, istri aku, bukan istri orang lain, " jawab singkat Rama tidak mau pusing.


Hingga beberapa jam kemudian ruang kembali tenang setelah acara pembacaan ayat suci Al-Quran yang di lantunkan oleh seorang Hafidz ternama di kota tersebut hingga membuat perasaan jiwa begitu damai mendengar setiap ayat dilantunkan dengan suara yang begitu merdu.


Acara terus berlanjut hingga santap malam bersama. Melihat istrinya sibuk melayani tamu, Rama beranjak dan menarik tangan istrinya untuk makan bersama. Berlanjut, dengan sedikit bimbingan atau pesan singkat untuk kedua mempelai yang baru menyatukan janji suci mereka dalam sebuah ikatan pernikahan.


'Adapun kewajiban suami terhadap isteri yakni memberikan mahar kawin, nafkah yang layak sesuai kemampuan, pakaian dan Tempat Tinggal, menggauli istri secara makruf (baik), menjaga istri dari dosa, memberikan cinta dan kasih sayang.' Pesan yang tertangkap di indra pendengaran Syakira dan Rama.


Hingga Syakira berbisik. "Alhamdulillah suami aku sudah memenuhi semuanya."


"Benarkah?" Rama mengecup kening istrinya.

__ADS_1


'Meski disebut pemimpin dalam rumah tangga, suami tidaklah sama dengan bos yang dapat memerintah istrinya sesuka hati. Suami juga memiliki beberapa kewajiban yang harus dipenuhi terhadap istrinya.Hak dan kewajiban menjadi dua hal memang tidak dapat terpisahkan. Selain memiliki hak pada istri, seorang suami juga memiliki tanggung jawab kepada istri.' lanjut pak ustaz kembali terdengar di telinga Syakira dan Rama.


Hingga terus pesan singkat berlanjut dengan kewajiban istri pada suami. yakni Istri yang baik harus patuh kepada perintah suaminya. Namun, kepatuhan istri tidak berlaku atau harus menolak bila suami memerintahkan untuk berbuat dosa. Misalnya, suami menyuruh untuk tidak shalat atau menjalankan puasa wajib. Apabila didapati istri membantah perintah suami, padahal dia paham maka bisa diberi peringatan. Hingga berlanjut masalah yang kerap menjadi perdebatan ibu-ibu.


Rama kembali menyahut dengan berbisik di telinga istrinya. "kalau istri saya semua sudah dijalankan. walau terkadang sering ada penolakan, tapi dimengerti kok." Rama tersenyum.


Syakira memberikan cubitan kecil bagian pinggang Rama hingga Rama terkekeh karena geli akibat perbuat istrinya.


Hingga jam menunjukkan 10.00 malam acara pun usai. Tampak wajah lelah zakir dan Marwa menyambut tamu undangan yang memberi doa restu. zakir Marwa pun menuju rumah yang zakir sudah siapkan jauh sebelum hari pernikahan mereka. Dengan masih gaun pengantinnya, Zakir membawa Marwa ke rumah barunya yang sudah dilengkapi perabotan di dalamnya.


"Bagaimana, kau suka rumahnya? sesuai warna kesukaanmu, hijau. Aku masih ingat, kau suka sekali warna hijau," ujar Zakir.


Marwa berbalik dan memeluk Zakir. pelukan Marwa membuat jantung Zakir berdebar hebat.


"Zakir, kenapa kau mau menjadikan aku sebagai janda ini menjadi istrimu?" Ujar Marwa.


"Jangan tanyakan itu. Tak ada alasanku untuk menjawabnya. Yang aku tahu bahwa, memang kaulah jodohku yang sudah dituliskan untukku. Mau mengubah bagaimanapun, kaulah takdirku. Semua ada sebab akibatnya, 'kan? Jangan selalu mengatakan 'andai' buang itu," ucap Zakir.


Marwa, pun melepaskan pelukannya dari Zakir. Zakir menutup dan mengunci pintu rumah itu. Untuk sementara, hanya mereka saja berdua di dalam rumah itu.


Zakir langsung menggendong Marwa menuju kamar pengantin mereka. Entah setelahnya. (maaf Author gak bisa lagi gambarkan silahkan gambarkan sendiri ya, he ... he... maafkan Author.)


Wajah lelah Marwa terlihat jelas yang membuat Zakir tak percaya sebelumnya dengan pengakuan Kejujuran Marwa.


Zakir teringat perkataan Marwa jika dia tersentuh oleh almarhum suaminya hanya tiga kali.


"Bisakah kamu menjelaskan semuanya, sayang," ujar Zakir.


"Bukan tanpa alasan, suamiku dulu tidak membatasi diri. karena ternyata, saat itu kandunganku bermasalah hingga menghitung tahun bolak balik rumah sakit, dan keluargaku tidak ada yang tahu hal ini. Juga di tambah saat itu, suamiku harus pergi tugas. inilah salah satu alasan tidak ingin menikah lagi. Aku takut, aku tidak akan pernah bisa memberinya keturunan." Marwa meneteskan air mata mengingat sumi-nya dulu terlihat begitu berharap untuk mendapatkan keturunan. "Ternyata harapan itu alasannya karena dia akan meninggalkan aku. Maaf aku mengingatnya di depanmu."


"Tidak mengapa. Aku paham dengan perasaanmu, selain aku suamimu, aku adalah teman curhatmu, jadi katakanlah semua yang mejadi beban pikiranmu sekarang. Jangan memendam sendiri. Berjanjilah padaku untuk selalu terbuka."


"Pasti," ujar Marwa menenggelamkan kepalanya di dada bidan zakir.


zakir mengelus dengan kasih rambut istrinya. Hingga malam itu berubah menjadi malam pertama bagi zakir. cinta tak memandang status, Kadang kamu harus dengarkan kata hati. Jangan tanyakan siapa yang kamu cintai, tapi tanyakan siapa yang buatmu bahagia?


Cinta tidak akan menuntut kesempurnaan, cinta akan memahami, menerima dan rela untuk berkorban. Karena cinta seharusnya membuatmu bahagia bukan terluka.


Keikhlasan sangat diutamakan dalam kehidupan ini, seperti mencintai, memberi, dan lain-lain. Karena tanpa keikhlasan, semuanya akan kacau juga ujung-ujungnya. Sederhana dalam mencintai, ikhlas menerima kekurangan, dan setia dalam menjalin hubungan.


***


Dua bulan kemudian,

__ADS_1


Hari itu semua keluarga besar Rama kembali berkumpul, begitu juga dengan keluarga Syakira. kali ini Rama dan Syakira kembali merayakan hari aqiqah anak kembar mereka yang dilaksanakan setelah umur mereka sudah masuk dua bulan.


"Jujur, aku sangat bahagia dengan semua ini. Berharap anak-anak kita kelak menjadi pribadi anak-anak Sholeha."


"Iya, Amiin," jawab Rama mengecup kening istrinya, kemudian beralih mengecup malaikat kecil mereka.


Setelahnya mereka melakukan foto bersama. Tampak jelas kebahagiaan menyelimuti keluarga itu, baik keluarga Rama, mau pun kelurga Syakira berkumpul menjadi satu. Acara aqiqah yang mereka laksanakan itu hanya mengundang keluarga dan kerabat dekat lainnya. Terus berlanjut hingga acara foto sesi bersama.


"Ada kabar baik." Kata Marwa setelah dua bulan pernikahan mereka.


"Apa? serempak Rama dan Syakira bertanya.


Marwa tersenyum dengan bergelut manja dalam pelukan suaminya dengan Zakir merangkulnya. Sambil menatap suaminya, Marwa, pun berkata, " Aku HAMIL.


keluarga mendengar itu tentu sangat bahagia. Marwa yang hamil, Syakira dan Rama yang heboh. Rama mengecup bertubi-tubi istrinya. Marwa dan Zakir hanya tertawa melihat pasangan itu.


"Abi, jika anak-anak kita besar, akan seperti bagaimana, ya?"


Rama tidak menjawab. Melainkan semakin mengeratkan pelukannya pada Syakira, istrinya.


Rama menatap istrinya kembali dan berkata, "Terimakasih untuk semuanya, kau telah menjadi istriku, dan mejadi Ibu dari anak-anak. AKU MENCINTAIMU."


Syakira tersenyum dan menjawab," AKU JUGA MENCINTAIMU, SUAMIKU. terimakasih telah menjadi suami yang baik untukku. Terimakasih, karena telah bersabar menerima segala kekuranganku. Terimakasih mau bersabar dalam menghadapi-ku, menafkahi-ku lahir dan batin." Senyum tulus tampak pasangan itu.


Sebagaiman yang tertuang dalam sebuah tulisan 'Cinta adalah ikatan ruh yang dalam antara kedua belah pihak. Cinta adalah ikatan yang akan mempengaruhi perilaku, pikiran, dan perhatian keduanya. Cinta adalah perasan yang bergejolak dalam setiap persendian badan, mengitari jiwa, dan berlaku dalam setiap keberadaannya.


Perbuatan yang dilakukan oleh istri terhadap suaminya, baik melayaninya, membuatkan makanan kesukaannya, menghias bunga yang di atas meja makan, atau mendoakannya dengan penuh keikhlasan  ketika sujud di tengah malam, semua ini merupakan gambaran dari hubungan yang sangat mulia ini.


Barangkali gambaran cinta terindah antara suami dan istri adalah ucapan Khadijah radhiyallahu’anha kepada suami tercintanya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau mendatanginya dalam keadaan membutuhkan ketenangan jiwa, belaian, dan bantuan secara psikis. Khadijah radhiyallahu’anha berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Dia tidak akan menghinakan-mu selamanya. Sesungguhnya engkau adalah seorang yang menyambung silaturrahim, jujur dalam ucapan, menjaga tamu, menolong yang lemah, memberi orang yang tidak punya, dan membela kebenaran,”


Cukupkah istri beliau dengan kata-kata saja? Demi Allah tidak, bahkan dia radhiyallahu’anha membantu suaminya dengan berperilaku sebagai seorang istri salihah kepadanya, berinfak, dan membantu dalam memperjuangkan kebenaran. Dia radhiyallau’anha adalah sebaik-baik istri yang mencintai suaminya.


Wajah berseri tampak pada pasangan antara Rama dan Syakira. Tangan terus saling bertaut, menyatukan jari jemari mereka dan tersenyum.


Poin plus terhadap istri dari suami


Bukanlah ketika istri lebih berprestasi dari suami, namun ketika berprestasi apapun istri ia bersikap rendah hati pada suaminya.


Bukanlah ketika istri bisa menghandle segalanya sendiri,namun ketika ia pandai membuat suaminya merasakan menjadi pahlawan keluarganya.


Bukanlah ketika istri lebih hebat dari suami,namun ketika istri selalu membesarkan hati dan mensupport suaminya untuk jadi hebat.


Bukanlah ketika istri berpenghasilan lebih banyak dari suami,namun ketika istri menerima nafkah dari suaminya dengan penuh rasa syukur.

__ADS_1


"Terimakasih untuk semuanya," ujar Rama.


__ADS_2