
"Cuma itu ? Mama rasa itu bukan kasus menarik, soalnya itu sudah sangat biasa."
“Nggak tahu deh, ma, Wulan masih pusing dengan ulangan kimia tadi, jadi malas mikir. pokoknya, Wulan suka naik bus, itu saja." Wulan mengakhiri percakapannya dengan kembali asyik menikmati masakan mama.
"ada apa sih di bus? sampai begitu ngototnya?" tanya Nadia ketika Wulan bersikeras untuk ke sekolah dengan bus.
Wajah tampan cowok itu melintas lagi. tapi tentu Wulan tidak akan mengatakan yang sebenarnya. lagi pula norak banget, baru ketemu sekali langsung suka. malah langsung pengen nguber
"Malah bengong," sentak Nadia agak judes.
"kenapa, sih? ada apa di bus? Nemu cowok cakep, ya?"
__ADS_1
Wulan kaget. tapi ia mencoba bersikap tenang, meski tebakan itu mengena sekali di hatinya
"Enak saja, emang aku kekurangan cowok," tegur Wulan.
"Lantas kenapa, dong?" kali ini papa yang nanya, suaranya lebih lembut di banding suara Nadia tadi.
nggak ada apa-apa, pengen naik bus aja, biar bisa ngerasain, gimana nggak enaknya jadi orang nggak punya. Dan kalo Udah gitu, Wulan jadi bisa ngeri mereka. Di samping itu, lebih enak di bus, banyak teman, nggak kayak bawa mobil sendiri.sepi, nggak ada yang bisa diajak ngobrol.
"Terserah deh, Papa turuti aja maunya Wulan," jawap Papa. Papa malah bangga kalau anaknya mulai menerapkan pola hidup sederhana dan mulai peduli sekeliling.
Papa mengangguk.
__ADS_1
"Asyik," Wulan tersenyum penuh kemenangan.
Nadia cemberut
“Makanya cepat cari pacar, biar ada teman," kata Nadia ketus.
“Tunggu aja, saya kan udah punya incaran."
“ kondektur?" ledek Nadia.
" lihat aja nanti, dikira Ndak ada apa-apanya," tantang Wulan.
__ADS_1
"Sudahlah, Papa pusing selalu mendengarkan pertengkaran kalian. Sebagai kakak kamu harusnya sayangi Wulan, Nad, dan kamu, Lan, hormati kakakmu, dong. supaya selalu terjalin kebersamaan di antara kalian," nasehat Papa entah untuk yang keberapa puluh kalinya.
" Nadia yang selalu memulai, Pa," aduh Wulan.