
Syakira terbangun mendengar suaminya berkata, 'Aku bukan pria sempurna untukmu' ternyata Rama mengigau.
"Abi! Abi!
Rama terus mengigau, 'maafkan aku Syakira. jangan tinggalkan aku.'
Syakira kembali menggoyang tubuh suaminya. "Abi!"
Rama terjaga. "Astaghfirullah."
"Abi baik?" tanya Syakira memberikan air minum pada Rama yang wajahnya di penuhi keringat.
Usai minum. Gelas itu pun kembali Syakira letakkan di tempat semula. ia kembali menatap suaminya.
"Abi, apa maksudnya?"
Rama terdiam. Ia menggenggam tangan istrinya. "Aku tidak apa itu hanya bunga tidur. Mungkin karena satu bulan lebih ini aku terus memikirkan-mu, jadi kebawa perasaan takut kamu akan bosan.
"Abi jangan ngomong begitu ah tidak baik itu sama dengan doa. Mana aku bosan. gak. gak akan pernah bosan sama Abi."
Rama tersenyum dan menanyakan jam berapa.
"Ini sudah jam 04.00 subuh. Kenapa?"
"Tidak. Apa kamu mau mandi?"
"Iya, masa tidak kan mau shalat."
"Tapi dingin sayang," kata Rama.
"Itu karena Abi sampai tubuhku terasa remuk."
"Wajar dong sayang." Melihat istrinya masuk kamar mandi. Rama pun beranjak dari tempat tidur.
***
Pagi tiba mereka pun bersiap untuk cek out dari hotel menuju pulang ke rumah orang tua Syakira. Rama akan pamit untuk kembali kerumahnya.
Sekitar satu jam mereka sampai di tujuan. Ibu Rama kaget anaknya kemarin ke kampus dan hari ini baru pulang.
"Maaf ibu, lagi diculik ama gender uwo," canda Rama pada ayah dan ibu mertua.
"Kami mengerti. kami pernah juga mudah seperti kalian." Pak ikhsan menatap anak dan menantunya.
__ADS_1
"Ayah, ibu. Syakira pamit pulang," pamit Syakira dengan menarik kopernya.
Ibu Syakira berdiri. Ia mengusap punggung putrinya. "Jadi istri yang baik, dengar kata suami."
Syakira tersenyum. "Iya ibu, Syakira pulang. Ayah, syakira pulang."
Rama pun mengambil koper istrinya dan membawanya masuk dalam mobil. Ayah dan ibu syakira mengantar mereka sampai di depan.
Syakira masuk dalam mobil dan melambaikan tangan ke pada ke dua orangtuanya. Ayah dan ibunya pun melambaikan tangannya melihat kepergian putri dan anak menantunya.
Hati dan perasaan Rama selalu diliputi kecemasan. Tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Ia hanya terus menyimak cerita istrinya selama Ia pergi.
Sebenarnya Rama mengawasi istrinya lewat suruhannya selama ini. tiada niat Ia hanya khawatir saja. Mengenai Leon pun Ia tahu.
Ada rasa ketakutan dalam diri Rama. apalagi dengan keadaannya yang sekarang. Sesekali ia melihat istrinya tersenyum bahagia. Syakira sesekali bermanja-manja dengannya.
Ia sangat suka istrinya seperti itu. "Namun, apa mungkin kamu akan terus seperti ini jika tahu aku bukan pria sempurna, Syakira," batinnya.
"kak, kok kita ke rumah ibu?" syakira heran mobilnya berbelok kerah rumah ibu mertua.
"Rindu dengan nenek. Nanti nenek merajuk lagi. Mau tanggung jawab gak, kalau nenek menangis?" canda Rama.
Syakira terkekeh. "Mana ada nenek menangis kalau merajuk. Memangnya nenek anak kecil."
Satpam yang melihat tuan mudanya segera membuka pintu gerbang. Ia menyapa tuan mudanya dengan Rama.
Nenek yang kebetulan sedang diruang tamu melihat Rama datang segera keluar menyambut mereka. "Alhamdulillah, Rama, Syakira. akhirnya kalian datang juga. Apa kamu tahu Rama, istrimu sangat merindukan dirimu selama kamu pergi, makanya kalian cepatlah tambah keluarga."
Deg! Rama kembali tidak tenang. mengapa setiap membahas tentang seputar anak ia begitu sakit. Dan entah apa reaksi nenek, ibu dan lainnya jika mengetahui kondisinya. Apakah nenek akan pingsan? dan ibu akan mati berdiri? tak terbayangkan olehnya.
"Rama, kamu kenapa? apa belum bakar kalori?" ledek ibunya yang baru keluar dari kamar.
"Sudah, bu. Bahkan bakar kalorinya berulang kali," cetus Rama menimpali pertanyaan ibunya yang membuat Syakira terkekeh.
"Sudah paham ternyata," Ledek ibu Rama lagi.
"Ya iyalah, bu. masa gak. Udah pengalaman dong. kan bukan lagi bujang," Tambah Rama semakin menimpali setiap ledekan ibunya.
"Ya, ya. Baguslah. Itu artinya god job anak ibu. iya kan, Syakira?" kata ibu Mertua melihat menantunya sedari tadi terkekeh-kekeh.
"Iya, ibu. Kak Rama makin aktif."
"Bagus itu, lanjutkan." Nenek ikut menimpali candaan mereka yang tampak tak sadar membicarakan kekonyolan seputar rahasia negara.
__ADS_1
Rama kembai diam. Syakira semakin penasaran melihat suaminya semenjak pulang dari luar negri banyak diam. Bahkan semenjak hari itu Rama mulai terkadang diam. Sekarang lebih banyak diamnya. "Ada apa denganmu, Abi?" batin Syakira.
Cukup lama mereka berbincang. Ingin rasanya Rama mencurahkan semua pada ibunya seputar kondisinya, namun belum ada keberanian untuk melihat wajah humoris itu bersedih atas dirinya.
"la... kalian tidak bermalam to? kirain kalian bermalam, cu?"
"Tidak, nek. lain kali lagi." Rama pun memberikan pada ibunya beberapa buah tangan dari New York sama seperti yang diberikan juga pada ayah dan ibu mertuanya sebelumnya.
***
"Alhamdulillah, akhirnya aku kembali ke rumahku yang selama ingin aku rindukan. Ada istriku di sisiku yang bisa aku tatap lebih lama dan bisa mengobati segala perasaan yang ada." Rama memeluk istrinya dan bermanja-manja.
kini giliran Rama ingin bermanja-manja dengan istrinya. Ia bahkan minta dipijit, minta di buatkan makanan kesukaannya.
Usai makan malam. Syakira pun membuka koper suaminya. Melihat hal itu, Rama segera menarik tangan istrinya dan berpura-pura untuk kembali dipijit. Padahal, ia hanya menjauhkan istrinya dari isi koper itu. sebab, di koper itu hasil diagnosa beberapa dokter ada di sana. ia lupa mengamankan.
"Udah ya Abi. Aku harus membereskan dulu isi koper Abi," kata Syakira dan bangkit dari tempatnya.
Rama kembali menariknya dan ia kembali duduk. "Abi, udah dong bentar aja," bujuk Syakira dan kembali berdiri.
Rama kembali menarik tangannya dan Syakira pun terjatuh menimpa Rama tepat di atas dadanya.
"Mau kemana? Besok saja. biarkan dulu seperti ini."
"Abi, kalau seperti ini pekerjaan tidak akan kelar. Apa abi tidak lelah? Harusnya Abi itu istirahat. Besok mau masuk kantor, kan?" Syakira yang masih berada di atas dada suaminya dengan kedua tangan Rama yang setia merangkul pinggangnya.
"Kamu sendiri besok ke kampus?"
"Aku besok tidak ada jam. hanya akan kumpul tugas. jadi, besok mungkin agak siang berangkatnya."
"Apa Leon juga hadir?"
"Ya. hadirlah, Abi. Kan dia mahasiswa di sana. Barang kali dia bukan mahasiswa di sana, itu bisa jadi pertanyaan."
"Ya juga sih.Tapi, kok aku cemburuan ya?"
"Tenang saja suamiku yang paling tampan dan kuat," goda Syakira.
"Apa benar seperti itu?"
"Hm... benar, benar sekali. Aku serius."
Rama pun membalikkan tubuh istrinya dan mengukuhnya dibawah kendalinya. sampai Syakira tidak bisa lagi menghindar. kembali lagi itu terjadi.
__ADS_1