
"Alhamdulillah ya Sayang, Mama sama Papa aku merestui hubungan kita. Sekarang tinggal meminta restu kedua orang tua kamu," ujar Rian dengan antusias.
"Iya. Tapi aku merasa bersalah, karena telah membohongi mereka. Aku memberikan cucu dari laki-laki lain. Kamu yang tak bersalah, harus menanggungnya," ucap Dina yang dipenuhi rasa bersalah.
"Sudah! Aku melakukannya dengan ikhlas kok. Lagi pula nanti, kamu bisa kok memberikan anak untuk aku. Nanti kita buat sendiri ya! Lagi pula, nanti aku akan bicarakan kok ke Mama dan Papa. Namun, semua butuh proses. Aku yakin mereka pasti mengerti. Yang terpenting bagi mereka, aku mencintai kamu dan kamu mencintai aku. Kita tutup kenangan masa lalu yang buruk, dan kita raih kebahagiaan," cerocos Rian dan Dina menganggukkan kepalanya.
Dina sudah berjanji, setelah masa nifasnya selesai. Dia siap akan memberikan anak untuk Rian. Namun, dia meminta kepada Rian agar tidak membedakan kedua anak mereka kelak. Rian sudah menyetujuinya.
"Lusa kita berangkat ke Yogya ya. Mau naik pesawat apa bawa mobil saja? Biar santai di jalan," tanya Rian lembut.
"Naik mobil saja kali ya, Mas. Aku takut mabuk di pesawat. Kalau naik mobil kan bisa berhenti dulu di jalan. Tapi kamu cape tidak, nyetir mobil sendiri," ujar Dina.
Mereka akhirnya sepakat ke Yogya dengan naik mobil Rian. Sebenarnya Rian khawatir, karena kondisi Dina yang sedang hamil muda. Namun, pernikahan mereka harus segera dilaksanakan.
"Kamu tidak perlu kerja dulu. Lagi pula suami istri tak boleh satu kantor. Nanti aku akan bicarakan sama Om Andi. Untuk sementara waktu, lebih baik kamu fokus saja di rumah. Semua kebutuhan kamu biar aku yang tanggung. Nanti kalau semua sudah siap, kamu baru kerja lagi," ujar Rian.
__ADS_1
"Mas, sebenarnya aku masih kuat kok bekerja. Aku tak ingin merepotkan kamu terus. Aku sudah banyak memiliki hutang budi kepada kamu," ucap Dina.
"Ih, kamu ini seperti sama siapa saja. Aku ini sebentar lagi jadi suami kamu. Sudah tanggungjawab aku memberikan nafkah untuk kamu. Nanti kita juga sisihkan untuk orang tua kamu di kampung. Kamu tak perlu khawatir masalah uang. Aku akan bekerja keras demi keluarga kecil aku. Tugas kamu mengurus anak-anak kita di rumah," ujar Rian dan Dina akhirnya hanya menganggukkan kepalanya.
Rian pamit pulang, setelah mengantarkan Dina selesai makan bersama orang tuanya. Rian selalu menunjukkan perhatiannya kepada Dina. Semua itu karena rasa cintanya yang besar kepada Dina.
Saat Dina ingin menutup pintu kamar kosnya, Nando mendorong dengan kasar. Membuat pintu terbuka lebar, dan Dina terjatuh. Meringis sakit.
"Mau apa kamu kesini lagi, pergi dari tempat aku sekarang! Aku sudah tidak sudi melihat kamu," ucap Dina ketus, sambil dirinya berusaha bangkit. Untungnya tidak terjadi apa-apa dengan kehamilan Dina.
"Aku ingin bertemu, ibu dari calon anakku. Apa aku salah? Apa mentang-mentang sekarang kamu sudah memiliki pengganti aku, jadi kamu merasa tak butuhkan aku lagi?"
Nando merasa geram. Dia pikir kalau Dina masih mencintai dirinya, dan tak bisa melupakannya. Nando berniat untuk menjalin hubungan kembali. Berniat menikahi Dina secara sirih.
"Sombong sekali kamu! Sebenarnya kedatangan aku ke sini, berniat ingin menikahi kamu secara siri. Biar anak itu memiliki Ayah, aku juga yakin kalau kamu masih sangat mencintai aku," sahut Nando dengan percaya diri.
__ADS_1
"Tidak perlu Tuan Nando yang terhormat. Aku sudah tak butuh lagi tanggung jawab dari kamu. Terima kasih. Aku tak sudi menjadi istri siri mu. Percuma juga, anak ini tak akan bisa memiliki akta kelahiran. Jika orang tuanya tak menikah secara resmi," ungkap Dina.
Nando menjadi serba salah. Dirinya sudah terjebak dengan pernikahan dirinya dengan Mira. Di satu sisi dia tak bisa meninggalkan Mira, tetapi di satu sisi lain dia tak bisa melupakan Dina. Rasa cintanya kepada Dina begitu besar, melebihi rasa cintanya kepada Dina.
"Kamu tak perlu repot-repot lagi bertanggung jawab, berniat menikahi aku. Setelah penolakan dari kamu, akhirnya aku bisa mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dari kamu. Dia berniat menikahi aku dan menjadi Ayah untuk anak kita. Lebih baik kamu sekarang pergi, dan lupakan aku dan bayi ini. Anggap saja kau memang benar tak pernah membuatnya, seperti yang kau ucap saat di depan Mira dan orang tuanya."
Hati Nando terasa sesak mendengar penuturan dari Dina. Sakit rasanya, saat anaknya kelak akan di akui menjadi anak Rian. Namun, dia tak bisa berkutik. Nando termasuk tipe anak penurut terhadap ibunya. Dia tak ingin mengecewakan ibunya. Terlebih ibunya kini sering kali sakit-sakitan.
"Baiklah, jika itu keputusan kamu. Aku tak bisa bicara apa-apa lagi. Satu pintaku kepada kamu. Tolong jaga buah hati kita dengan baik, dan tolong beri tahu kepadanya kalau aku Ayah kandungnya," ujar Nando.
"Tentu saja kau tak bisa berkata-kata lagi. Pastinya kau tak akan bisa melakukannya, kau pasti lebih memilih ibu kamu di banding aku. Urus saja sana menantu impian ibu kamu. Semoga kamu bahagia bersama Mira."
Dina mengusir Nando dari kamar kosannya. Karena sudah tak ada lagi yang harus perlu di bahas. Percuma saja, karena Nando tak pernah bisa mempertahankan cintanya untuk Dina. Bagaimanapun tak mudah bagi Dina untuk melupakan Nando. Namun, dia selalu berusaha mengingat perlakuan Nando kepadanya di saat dirinya mendatangi rumah Mira untuk memberi tahu kondisi dirinya yang sedang berbadan dua.
Perpisahan memang sangat menyakitkan, terlebih karena sebuah keterpaksaan. Di hati Nando, masih ada nama Dina. Akhirnya, Nando memutuskan untuk pergi meninggalkan kosan Dina.
__ADS_1
"Aku masih sangat mencintai kamu, Din. Maaf jika aku menjadi seorang pecundang, yang taj bisa memperjuangkan cinta dan buah hati kita. Aaahhhh, aku benci hidupku. Aku cinta kamu Din, bahkan di hatiku hanya nama kamu," Nando berteriak-teriak dalam hati. Hatinya sangat terluka, mendengar orang yang dia cinta akan menjadi orang lain.
Nando memilih untuk tidak langsung pulang, hubungannya dengan Mira serasa hambar. Rasa cintanya masih tercurah untuk Dina. Bahkan saat bercinta dengan Mira pun, Nando memikirkan Dina. Mengingat saat percintaan dirinya dengan Dina. Namun, semua itu hanya akan menjadi sebuah kenangan.