
"Apa kamu sudah siap untuk melakukannya malam ini?" tanya Rian yang jemarinya kini bermain di wajah istrinya.
"Iya, aku sudah siap. Aku sudah ingin membahagiakan kamu, sudah cukup lama kamu bersabar menunggunya," sahut Dina.
Wajah keduanya semakin mendekat, bibir mereka pun akhirnya menyatu. Entah siapa yang memulainya. Malam ini akan menjadi malam yang indah untuk mereka berdua, meskipun sempat tertunda.
Ciuman pun terjadi, semakin lama ciuman mereka semakin bergairah. Terlebih tangan Rian mulai membuka kancing kebaya yang dikenakan Dina satu persatu. Keduanya melepaskan ciumannya.
"Kita mandi dulu, setelah itu kita sholat dulu sebelum melakukannya. Kamu sudah menggunakan KB 'kan? Aku soalnya tak menyiapkan pengaman," ujar Rian.
Dina memilih untuk KB, karena mereka sudah sepakat untuk mengurus Baby Al sampai berusia dua tahun. Rian mengajak Dina untuk mandi bersama. Dia terlihat malu-malu, dan tak enak hati.
"Mas ...," panggil Dina, tetapi Dina tak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Kenapa? Malu, karena aku bukan yang pertama?" ujar Rian dan Dina menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.
"Tenang saja, karena aku bukan butuh selaput darah kamu. Aku butuh rasanya," sahut Rian.
Setelah tubuh mereka sudah bersih, mereka melanjutkan sholat bersama. Setelah itu membaca doa malam pengantin. Dina dan Rian kini sudah dalam keadaan polos. Dina mencoba menutupi area sensitifnya dengan tangannya.
"Tak usah malu, kita sekarang sudah halal," ucap Rian.
Tangannya pun terus menyelusuri tubuh istrinya dan meremas bukit kembar istrinya, membuat Dina meringis.
"Kenapa Sayang? Maaf," ucap Rian. Dirinya lupa, kalau payu*dara istrinya ada ASI Baby Al.
"Justru aku yang minta maaf. Kamu hanya bisa bagian bawah, yang atas punya Al," sahut Dina. Rian menghela napas panjang, dia masih harus bersabar.
__ADS_1
Dina terpanah, ternyata milik suaminya lebih besar, berotot dari milik mantan kekasihnya. Dina yang sudah lama tak bercinta, tentu saja begitu bergairah.
Malam ini mereka saling memuaskan satu sama lain. Desa*han keduanya sebagai musik indah sebagai pengiring percintaan mereka malam ini. Rian terlihat bersemangat, merasa nikmat yang luar biasa. Dina pun terlihat menikmatinya.
"Sayang, aku mulai ya," ucap Rian dengan napas yang sudah terdengar berat.
Rian mulai melebarkan kedua paha istrinya, dan mulai mengarahkan miliknya ke milik istrinya. Keduanya mende*sah, saat milik Rian masuk dengan sempurna.
"Aaaaahhh, Sayang! Rasanya begitu nikmat sekali," racau Rian. Meskipun bukan yang pertama, Rian masih merasakan milik istrinya yang terasa sempit. Sampai-sampai Dina pun meringis. Karena milik suaminya begitu besar. Rian memompanya secara perlahan. Sebisa mungkin, dirinya berusaha untuk tidak menyakiti istrinya. Rian semakin mempercepatnya, saat akan mencapai *******. Hingga akhirnya mereka mengerang bersama. Rian ambruk di atas tubuh istrinya.
"Terima kasih Sayang, aku bahagia dan puas. I Love You," ungkap Rian, yang mendaratkan ciuman di kening istrinya. Malam ini mereka melakukan tiga kali. Dina tak menyangka, kalau suami sabarnya itu bisa seganas itu di ranjang. Membuat tubuhnya terasa remuk. Jam menunjukkan pukul 03.00 pagi, mereka baru menghentikan aktivitas ranjang. Setelah itu barulah mereka tertidur pulas.
Bunyi alarm di ponsel Rian telah berbunyi, pertanda mereka harus terbangun dan mengerjakan sholat 5 subuh berjamaah. Mereka tampak bahagia menikmati masa pengantin baru, akhirnya bisa menikmati malam pertama yang sempat tertunda.
__ADS_1