
Dina dan Rian sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit menengok Nando. Ternyata hal itu terjadi pada Sania dan juga Reza. Mereka pun sudah bersiap-siap untuk berangkat. Mereka berjanji akan bertemu di rumah sakit.
Dina tampak ragu, dia masih diam menatap ke arah Baby Al yang sedang tertidur pulas di dalam box.
"Dek, Bunda temuin Ayah dulu ya! Dede sama nenek dulu ya di rumah, jangan rewel! Bunda enggak lama kok, secepatnya akan pulang. Doakan Ayah ya, semoga Ayah segera sembuh," gumam Dina dalam hati.
Rian memasuki kamar istrinya dan melihat istrinya yang masih termenung, tatapannya terlihat kosong. Rian menghampiri Dina dan mengajak berangkat sekarang. Dina menitipkan Al kepada sang ibu, meskipun ada ART yang akan membantu dirinya mengurus Baby Al.
San, On the way ya," tulis Dina kepada sahabatnya.
Kini mereka sudah dalam perjalanan, suasana terlihat hening. Rian fokus menyetir mobil, dan Dina sesekali melirik ke arah suaminya.
"Terbuat dari apakah hati kamu, Mas. Bahkan kamu mau mengantarkan aku bertemu dengan laki-laki yang sempat hadir di hidup aku, Ayah dari Al," ucap Dina dalam hati.
Dina dan Rian sudah sampai duluan di rumah sakit, mereka memilih menunggu Sania datang di mobil.
"Makasih ya Mas, kamu sudah menjadi suami yang luar biasa untuk aku," ungkap Dina.
"Iya, doakan Mas ya! Semoga Mas tetap seperti ini selamanya," sahut Rian sambil mengelus rambut istrinya. Dina menyenderkan kepalanya di pundak suaminya, sambil tangannya terus menggenggam tangan suaminya erat.
Sania baru saja sampai di parkiran mobil rumah sakit, dan langsung mencari keberadaan sahabatnya. Mereka saling berpelukan kala bertemu.
__ADS_1
"Wah, perut lo sudah mulai gendut San? Semoga sehat terus Bunda dan baby-nya," ucap Dina dan diaminkan oleh Sania.
Dua laki-laki luar biasa, yang mengantarkan para istrinya untuk menemui sang penjahat kelamin, untuk memaafkan kesalahannya. Mereka tampak mesra, bergandengan dengan pasangan.
"Din, makasih kamu sudah datang," ujar Mama-nya Nando.
"Kehadiran lo, benar-benar di nantikan Din tak seperti gue yang selalu tak ada artinya," ucap Sania lirih. Dina memang selalu unggul darinya, untungnya untuk urusan suami dirinya pun sangat beruntung.
Dina merasa tak enak hati, karena Mamanya Nando fokus dengannya. Hingga akhirnya Dina memperkenalkan Sania, sebagai korban dari Nando juga. Bahkan kisahnya lebih tragis darinya. Akhirnya membuat Mamanya Nando tersadar.
"Sania, maafin Nando ya! Maafkan kesalahan yang Nando perbuat kepada kamu. Oh iya, ini anak Nando juga bukan," ujar Mamanya Nando.
Mereka masuk secara bergantian. Orang yang pertama masuk adalah Dina. Mereka memang orang-orang yang luar biasa, Maha Pemaaf. Dina sempat melirik ke arah suaminya, dan Rian menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
Dina melangkahkan kakinya memasuki ruangan Nando. Dirinya merasa iba, melihat kondisi Nando yang begitu memprihatinkan dengan di padang berbagai alat di tubuhnya. Bagaimana pun laki-laki yang berada di hadapannya saat ini, pernah ada di hatinya dan menjadi bagian di hidupnya. Memberi kebahagiaan dan juga kesedihan untuk dirinya.
"Assalamu'alaikum," sapa Dina. Namun Dina hanya berucap, tetapi tak menyentuh Nando. Dia tetap harus menghargai suaminya yang sudah luar biasa kepadanya.
"Maaf aku baru menengok kamu, aku baru melahirkan anak kita. Anak kita laki-laki dan aku beri nama Muhammad Zhafran Al Faridzi, biasa di panggil Al. Wajahnya sangat mirip dengan kamu, semoga sifatnya tak sama dengan kamu. Aku akan berusaha mendidiknya menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, dan menghargai seorang wanita," ungkap Dina.
"Aku doakan kamu, semoga kamu lekas sehat kembali. Nanti kalau kamu sudah sehat, aku akan memperkenalkan Al dengan kamu. Dia begitu menggemaskan, apa kamu yakin tak ingin melihatnya? Meskipun kamu dulu pernah menyakiti hati aku, aku sudah memutuskan untuk memaafkan semua kesalahan kamu. Semoga tak memberatkan kamu lagi. Tetap semangat ya, maaf aku tak bisa mengajak Al ke sini. Karena Al masih sangat kecil, aku takut dia akan terkena virus," ujar Dina lagi.
__ADS_1
Dina ikut merasa sedih, saat melihat air mata di sudut mata Nando. Dia tahu kalau Nando saat ini sedang menyesali perbuatannya. Semoga ucapan maaf darinya, memudahkan langkah Nando untuk lebih baik lagi. Dina tak lama di dalam, dia pamit untuk pulang.
"Aku pulang dulu ya, semoga kamu lekas sadar dan sehat kembali. Aku tak bisa lama-lama di sini, karena ada suami aku yang sudah menunggu aku di luar. Aku juga sudah izin kepada Al, untuk tidak berlama-lama pergi meninggalkan dirinya. Semangat ya," ujar Dina.
Dina telah keluar, dan kini giliran Sania yang masuk untuk berbicara dengan Nando. Berbeda halnya dengan Dina, Sania tak memiliki perasaan cinta kepada Nando. Justru dirinya sempat memiliki perasaan benci kepada Nando, jika dirinya teringat akan perbuatan Nando kepadanya. Sebagai pelampiasan ingin bertemu dengan Dina.
"Assalamu'alaikum," sapa Sania.
"Kedatangan gue kesini hanya untuk memaafkan kesalahan lo. Kita tak memiliki kisah apapun, lo hanya seorang laki-laki breng*sek yang pernah gue temui sepanjang hidup gue. Untungnya masih ada laki-laki yang mau menerima gue. Jika tidak, pasti hidup gue akan sengsara. Seumur hidup, gue akan menderita. Semoga lo lekas sembuh kembali Ingat jika lo diberi kesempatan kedua lagi, jangan pernah lo ulangi kesalahan yang lo perbuat dulu. Cukup gue dan Dina yang menjadi korban lo. Gue pamit dulu," ujar Sania. Sama halnya saat bersama dengan Dina. Saat bersama Sania pun, Nando meneteskan air matanya.
Mamanya Nando berharap setelah kedatangan Dina dan Sania ke sini, anaknya bisa segera sadar dan sehat kembali. Mamanya Nando meminta maaf kepada kedua wanita yang telah menjadi korban anaknya.
"Aku coba bantu doa, Bu. Semoga Nando segera sadar, dan sehat kembali. Melewati masa kritisnya. Aku sudah memaafkan kesalahan Nando," ungkap Dina. Sama halnya dengan Dina, Sania pun berkata demikian. Dia sudah memaafkan kesalahan yang diperbuat Nando.
Setelah selesai berbincang dengan kedua orang tua Nando, Dina dan Sania pamit pulang. Mereka memberikan amplop berisi uang sebagai bentuk sumbangan untuk Nando. Meskipun tak seberapa, paling tidak mereka sudah berniat membantu.
"Ya Allah makasih banget. Meskipun Nando telah menyakiti hati kalian, tetapi hati kalian masih seperti malaikat," ucap Mamanya Nando kepada Dina dan Sania saat menerima amplop dari keduanya.
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya bestie ku yang keren banget😍
__ADS_1