Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Suami Siaga


__ADS_3

Demi rasa sayangnya Rian kepada sang anak, dia rela untuk berpuasa. Dia tak ingin sang anak terganggu. Terlebih trimester pertama, kondisi kandungan masih sangat rawan.


"Pokoknya aku tidak mau kamu capek-capek ya! Apapun yang kamu inginkan, bicarakan ke aku ya! Jangan sungkan untuk bicara! Aku ingin kamu makan yang banyak, apapun yang kamu mau akan aku wujudkan! Ingat sekarang di dalam perut kamu itu sudah ada dua makhluk kecil buah cinta kita," ucap Rian membuat Dina tak berkutik. Semenjak Dina dinyatakan hamil, Rian semakin posesif kepada sang istri.


Saat dirinya hendak tidur, dirinya teringat jika dirinya belum membuatkan susu coklat hangat yang menjadi kesukaan istrinya. Selama sang istri di nyatakan hamil, Rian selalu berusaha menjadi suami siaga. Membuatkan susu untuk sang istri di pagi hari dan malam hari sebelum tidur. Seperti saat hamil Al dulu.


"Pak, sini bibi saja yang membuatkan susu untuk Bu Dina," ucap Bi Surti yang tiba-tiba saja datang menghampiri Rian yang sedang berkutat di dapur untuk membuatkan susu coklat hangat untuk istri tercintanya.


"Tak usah Bi, agar anak saya nanti tahu kalau ayahnya sangat menyayangi mereka," sahut Rian membuat Bi Surti tersenyum. Rasa sayang Rian kepada Dina patut diacungkan jempol.


Setelah susu coklat telah selesai di buatnya, Rian langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


"Sayang, bangun dulu yuk! Ayo diminum dulu susu coklat hangatnya," ucap Rian lembut membangunkan istrinya yang tidur terlelap. Sebenarnya Rian merasa tak tega untuk membangunkan Dina, tetapi Rian tidak ingin kedua anaknya sampai kekurangan nutrisi yang baik untuk kecerdasan otaknya dan pertumbuhan mereka.


Berkali-kali Rian mencoba membangunkan istrinya, tetapi Dina tak juga bangun. Hingga akhirnya di panggilan ketiga kalinya. Perlahan Dina membuka matanya.


Dina langsung menenggak habis susu yang di buatkan suaminya. Dina sangat menyukai susu coklat hangat buatan suaminya. Setelah itu, Rian memberikan air putih hangat untuk istrinya.


"Sayang, apa ada yang kamu inginkan lagi saat ini? Biasanya orang hamil sering kali mengidam macam-macam, seperti kamu dulu. Saat hamil Al dulu," Dina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena saat ini memang dirinya tak menginginkan apapun.


Bunyi azan di ponselnya Dina, berbunyi. Membuat Dina perlahan membuka matanya. Dia harus segera membangunkan suaminya untuk bekerja.


"Bangun Yang, kamu harus bekerja" ucap Dina membangunkan suaminya.

__ADS_1


"Aku masih mengantuk, hari ini aku tidak berangkat ke kantor, " sahut Rian asal dengan mata masih terpejam.


Membuat Dina terisak tangis, dia pikir suaminya itu marah kepadanya. Tentu saja hal itu membuat suaminya terpaksa membuka matanya karena mendengar istrinya menangis.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu jangan menangis seperti ini, nanti dia ikut merasa sedih juga," ucap Rian yang kini menenangkan sang istri. Dirinya masih belum menyadari jika kata-katanya tadi membuat Dina merasa sedih hingga akhirnya menangis.


"Kamu marah 'kan sama aku?


Perasaan wanita yang sedang hamil memang lebih sensitif, dirinya mudah sekali tersinggung dan salah paham. Hingga akhirnya mau tak mau Rian meminta maaf kepada Dina.


"Aku tak pernah marah sama kamu. Mana mungkin aku marah sama kamu. Maaf kalau membuat kamu menjadi salah paham. Membuat kamu tersinggung dengan ucapan aku tadi," ucap Rian yang meminta maaf kepada istrinya.

__ADS_1


__ADS_2