Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Kehamilan Simpatik


__ADS_3

Sesuai janjinya Rian ke Dina, malam ini mereka akan berangkat ke Yogya. Rian sudah sampai di kamar kosan Dina. Mereka akan pergi menggunakan mobil Rian.


"Kamu harus pakai ini, nanti kamu kedinginan," ujar Rian yang mengambil jaket milik Dina dan memakaikannya ke Dina. Dina hanya membalas dengan senyuman, dirinya merasa tersanjung dengan perhatian Rian.


"Sudah semua? Ada yang ketinggalan tidak," tanya Rian kepada Dina. Sebelum mereka berangkat.


Rencananya mereka akan berangkat ke Yogya selama tiga atau empat hari. Saat ini Rian sedang mengatur posisi tempat duduk Dina, untuk memberi nyaman Dina selama perjalanan.


So sweet banget Rian😍 belum jadi suami saja begitu perhatian, apalagi sudah menikah nanti. Pasti bucin banget sama Dina. Inilah cinta yang sesungguhnya, tak perlu kontak fisik. Namun, begitu mencintai dan perhatian.


"Mau makan dulu apa langsung berangkat saja," tanya Rian dan Dina memilih untuk langsung jalan dan makan di rest area.


"Ya sudah kita beli cemilan saja ya! Biasanya bumil kan mudah lapar. Jadi, nanti di perjalanan kamu juga jadi enggak bengong," ujar Rian dan Dina setuju.


Kini mereka mampir dulu di Indo*mart. Rian menyuruh Dina untuk membeli cemilan kesukaan Dina. Rian juga menyuruh Dina untuk membelanjakan keperluan orang tua Dina di kampung. Rian pun ikut membantu memilihkan. Dina membelikan aneka macam cemilan dan juga sembako.


"Makasih ya Mas, untuk oleh-nya," ujar Dina.


"Tak perlu sungkan dan berterima kasih. Sebentar lagi mereka juga akan menjadi orang tua aku. Sudah sepatutnya kita memberikannya," sahut Rian.


Sungguh ucapan Rian membuat Dina merasa terharu. Bahkan Nando tak pernah melakukan hal itu selama mereka menjalin hubungan selama empat tahun. Dina benar-benar merasa beruntung mendapatkan Rian, semoga kelak Rian tak akan berubah.


Dina melirik ke arah Rian yang fokus menyetir. Tanpa sadar Dina tersenyum. Perasaannya sangat bahagia. Merasa Dina memperhatikan dirinya, Rian melirik ke arah Dina yang sedang menatap Rian dari samping. Membuat Netra mereka bertemu.

__ADS_1


"kenapa senyum-senyum? Sudah jatuh cinta ya sama aku? Tampan kan wajah calon suami kamu," goda Rian membuat wajah Dina memerah menahan rasa malu.


"Huh, geer saja. Siapa bilang aku lagi lihatin kamu," sahut Dina bohong. Dia masih merasa malu untuk berkata jujur. Rian hanya tersenyum geli, dia tahu kalau Dina sedang berbohong.


Selama perjalanan, mereka terlihat mesra. Sesekali Rian menggoda Dina, membuat suasana begitu mengasyikan tidak membosankan. Dengan setia Dina menemani Rian selama perjalanan.


"Nanti dua rest area lagi. Kita makan dulu ya! Kasihan si dede, takutnya laper. Bundanya J


juga biar tidak sakit," ujar Rian.


Entah apa yang bisa menggambarkan perasaan hati Dina saat ini. Dirinya merasa bahagia, melebihi saat dirinya bersama Nando dulu. Sesekali Rian menarik tangan Dina, dan menggenggamnya.


"Lebih baik aku bicara jujur saja kali ya sama Ibu dan Bapak. Biar mereka tahu sebenarnya. Aku takut nantinya mereka justru menyalahkan kamu, Mas.. Padahal kamu 'lah yang menolong aku." Dina menanyakan hal ini kepada Rian.


"Aku sih terserah kamu saja. Gimana baiknya saja. Aku serahkan semuanya kepada kamu, mereka menuduh aku yang menghamili kamu, aku tidak masalah kok," sahut Rian.


Mobil mereka kini sudah terparkir di rest area. Rian mengajak Dina beristirahat dulu sejenak. Mereka berencana untuk makan malam dulu, setelah itu barulah mereka akan melanjutkan perjalanan.


"Kamu mau makan apa? Pokoknya kamu bebas memilihnya, kecuali pop mie ya. Orang hamil tak bagus makan indo*mie," ujar Rian.


"Aku makan baso saja deh, kayanya malas sudah malam gini makan nasi," sahut Dina dan Rian akhirnya mengizinkan. Rian menyarankan agar Dina makan baso memakai nasi. Namun, Dina menolaknya.


Kini mereka sedang menikmati makan malam, sekaligus merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal, dan meluruskan kakinya yang terasa pegal. Rian memilih makan nasi goreng dengan ditambah telor mata sapi.

__ADS_1


"Pegel ya? Kamu kalau ngantuk tidur saja nanti di jalan. Aku tidak masalah harus melek, nyetir sendiri," ujar Rian dan Dina menganggukkan kepalanya. Untungnya sekarang-sekarang ini, Dina tidak mengalami mual muntah. Semenjak hadirnya Rian, Dina menjadi bersemangat. Melawan perasaannya, dan justru Nando yang kini mengalami masa-masa mengidam.


Meninggalkan Dina dan Rian yang sedang menikmati perjalanan. Nando dengan Mira justru sedang bertengkar. Pasalnya beberapa hari ini, Nando seperti orang mengidam. Setiap dirinya baru selesai makan, pasti Nando selalu memuntahkan kembali. Wajah Nando terlihat pucat, karena mengalami mual dan muntah.


"Jangan-jangan yang dikatakan Dina itu benar. Kalau Dina sedang mengandung anak kamu. Bisa saja apa yang terjadi pada kamu, karena kamu mengalami kehamilan Simpatik. Dimana sang cowok yang mengalami ngidam. Ya, seperti kamu ini," cerocos Mira.


Mira menatap wajah Nando dengan seksama, dia ingin melihat reaksi Nando, saat Mira berkata seperti itu kepada Nando. Nando terlihat gugup dan ketakutan, membuat Mira memicingkan matanya. Selama ini Nando dan Dina memilih menutupinya, kalau mereka pernah melakukan hubungan suami istri saat mereka berdua di kosan Dina.


"Benar kan?"


Bukannya menjawab, Nando justru sangat marah. Karena Mira seperti menyudutkan dirinya. Padahal dia sudah menjelaskan kepada Mira, kalau anak yang di kandung Dina bukanlah anaknya.


"Ya sudah terserah kamu saja, aku ingin tidur," ujar Mira.


Meskipun pernikahan mereka bisa dibilang masih baru, Mira dan Nando jarang sekali memperlihatkan keromantisan. Hanya saat di ranjang saja, saat mereka bercinta. Nando termasuk tipe laki-laki yang cuek.


"Aku rindu sama kamu, Din. Maafkan aku karena tak memperjuangkan cinta kita. Padahal di rahim kamu, kini sudah ada buah cinta kita," gumam Nando dalam hati. Diam-diam Nando masih menyimpan foto kebersamaan dirinya dengan Dina. Meskipun dirinya sudah menikah dengan Mira, Nando tetap tak bisa melupakan Dina.


Nando berlari ke kamar mandi, sejak tadi dirinya berusaha untuk menahan agar tak muntah. Namun, tidak berhasil. Bahkan saat ini tubuhnya terasa lemas, karena berkali-kali memuntahkan isi perutnya.


"Ih, berisik banget sih kamu. Ganggu aku tidur saja," gerutu Mira.


Nando berteriak meminta bantuan kepada Mira, untuk membantu dirinya mengantarkan ke ranjang karena tubuhnya terasa lemas. Hal itu membuat Mira terus menggerutu. Mengomeli Nando.

__ADS_1


"Yang, tolong kerokin aku. Sepertinya aku masuk angin," ujar Nando lemas.


Bukannya dikerokin oleh Mira, Mira justru mengomeli Nando karena sudah mengganggu jam tidurnya. Nando kini hanya bisa menikmati sifat asli Mira yang kasar tak seperti Dina yang lemah lembut.


__ADS_2