Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Suami penyayang


__ADS_3

"Yang, jangan lupa janjinya!" ucap Dina.


"Iya, Sayang. Mas tak akan lupa. Mas akan mengabulkan permintaan kamu. Makanya Mas hari ini izin tak bekerja, ingin mengabulkan permintaan kamu," jawab Rian membuat sang istri tersenyum. Kebahagiaan sang istri yang terpenting.


Rian dan Dina sudah dalam perjalanan, berkeliling komplek. Namun, tak juga menemukan pohon mangga. Sekalinya ada, pohonnya tak ada buahnya. Rian sudah berusaha untuk nego dengan sang istri. Tetapi sang istri tetap saja merengek.


"Sabar ya Sayang, bukannya aku tak mau. Kamu 'kan tadi lihat sendiri, sampai sekarang kita belum menemukan buah mangga yang berada di pohon. Bukannya aku tak mau," ucap Rian mencoba memberi pengertian kepada istrinya yang sedang ngambek.


Rian terus melajukan mobilnya. Dirinya terpikir untuk mencari ke daerah perkampungan. Di daerah perkotaan sangat sulit menemukan.


"Bilang saja, twins ingin jalan-jalan sama Ayah 'kan?" ucap Rian sambil mengelus perut istrinya. Seakan berbicara dengan sang anak. Rian selalu saja bersikap sabar menghadapi istrinya.

__ADS_1


"Iya, Ayah. Aku senang deh bisa jalan-jalan sama Ayah," sahut Dina yang mengikuti suara anak kecil. Meskipun permintaan sang istri sangat aneh, Rian selalu bersikap sabar.


Rian dapat bernapas lega, karena akhirnya dia bisa menemukan pohon mangga. Jika dirinya tak cinta, pastinya dia tak akan menuruti permintaan istrinya yang aneh ini. Rian langsung turun dari mobil, meminta izin kepada sang pemilik. Untungnya sang pemilik mengerti, dia tak mempersulit Rian. Memberikan kesempatan untuk Rian mengambilnya.


"Mas, hati-hati ya!"


Ada perasaan khawatir dibenak Dina. Karena dirinya tahu, kalau suaminya belum pernah memanjat pohon. Suasana terasa tegang. Meskipun Rian berusaha untuk hati-hati memanjatnya. Hatinya merasa senang, kala berhasil mendapatkan mangga, demi menuruti permintaan istrinya. Sama halnya dengan Rian, Dina pun terlihat bahagia. Akhirnya, keinginannya terwujud.


Usia kandungan Dina kini sudah menginjak tiga bulan. Mereka berencana, bulan depan akan mengadakan acara empat bulanan. Mereka berencana akan mengadakan pengajian di rumah, mengundang keluarga dan tetangga terdekat untuk mengadakan pengajian.


"Sepertinya cukup acara pengajian saja, tak perlu macam-macam. Kita perlu berhemat," ucap Dina, dan Rian setuju. Yang terpenting sebagai bentuk rasa syukur mereka, dan berharap kedua anak mereka akan menjadi anak yang sholeh dan sholehah.

__ADS_1


"Ingat ya aku tak ingin kamu capek, semua pesan saja makanan dan kuenya," ujar Rian. Rian selalu ingin memperhatikan istrinya. Rian juga meminta bantuan sang mama untuk membantu sang istri.


Segala persiapan sudah dilakukan. Inilah acara yang dinanti. Rian sudah bersiap dengan menggunakan kemeja koko berwarna merah marun dan Dina menggunakan gamis yang warnanya senada dengan sang suami. Al pun memakai baju koko yang senada dengan sang ayah.


Keluarga Dina maupun Rian sudah berkumpul. Rian sangat menyayangi keluarganya. Terlihat sekali, kalau dia sangat menyayangi sang istri. Dia tak sedikit pun memperbolehkan Dina mengurus acara tersebut. Dia menyuruh sang istri duduk manis.


"Mas, aku enggak betah kalau duduk terus," rengek Dina.


"Mau apalagi? Semua di urus Mama kamu dan Mama aku. Lagi pula sudah ada Bibi dan juga tetangga yang membantu. Sudah ya nurut, aku tak ingin kamu kecapean," jelas Rian membuat Dina tak bisa berkutik.


Acara terlihat begitu khidmat. Lantuan ayat suci Al-Quran mengiringi acara pengajian empat bulanan kedua anak mereka. Mereka berharap anak-anak mereka kelak menjadi anak yang sholeh dan sholeha.

__ADS_1


Sambil menunggu up, mampir yuk di karya bestieku😍



__ADS_2