Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Meminta Restu


__ADS_3

"Setelah makan, aku pamit pulang dulu ya. Aku harus menemui kedua orang tua aku, untuk memberitahukan perihal rencana pernikahan kita," ujar Rian kepada Dina.


Tiba-tiba saja nap*su makan Dina sirna. Dia takut kalau kedua orang tua Rian tak menyetujui hubungan mereka. Terlebih Rian berasal dari keluarga cukup berada, sedangkan Dina hanyalah wanita desa yang pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib.


"Tidak perlu khawatir. Aku yakin kedua orang tua aku akan merestui hubungan kita. Mungkin lebih baik kita menutupi kehamilan kamu dulu. Nanti secara perlahan, aku coba bicarakan semuanya kepada orang tua aku," jelas Rian.


"Apa itu yang terbaik? Jika nantinya orang tua kamu meminta kamu menceraikan aku gimana," ujar Dina sambil menatap ke arah Rian. Dina masih merasa cemas. Sungguh tak mudah bagi orang tua Rian untuk menerima dirinya yang sudah tak suci.


"Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankan kamu. Makanya, lebih baik kita tutupi dulu kehamilan kamu. Nanti, setelah kita resmi menikah barulah aku bicarakan pelan-pelan," ujar Rian yang mencoba meyakinkan Dina.


Setelah Rian dan Dina selesai makan, Rian pun pamit. Rian meminta Dina untuk beristirahat, dan jika masih merasa lemah, Rian menyuruh Dina untuk mengajukan cuti untuk beberapa hari. Dina mengantarkan Rian pulang sampai depan kosannya, melambaikan tangannya melepas kepergian Rian.


Dering ponsel Rian berbunyi, hingga akhirnya dia memilih untuk menepikan mobilnya. Mengangkat telepon dari pemilik perusahaan yang tak lain om nya. Rian sudah siap untuk mendapatkan teguran dari om-nya, dan dia juga menyiapkan jawabannya nanti.


"Assalamualaikum," ucap Rian saat mengangkat telepon dari om-nya.


"Walaikumsallam. Kamu dimana, Yan? Om dengar, dua hari ini kami tidak ada kabar? Mereka bilang, setelah kamu mengantarkan Dina sewaktu Dina pingsan kamu tak masuk dan tak ada kabar. Ada apakah gerangan? Apa kamu baik-baik saja," ujar Om Andi, om sekaligus pemilik perusahaan tempat Rian bekerja.


Rian langsung menjelaskan kepada om-nya secara gentle. Apa yang dikatakan om-nya memang benar adanya. Rian langsung menjelaskan penyebab dirinya tak masuk. Dengan gentle, Rian mengatakan kalau dirinya dengan Dina sebenarnya diam-diam sudah memiliki hubungan. Makanya, saat Dina sakit dia merasa memiliki tanggung jawab untuk mengurus Dina. Rian juga mengatakan, kalau Dina kemarin harus di rawat di rumah sakit.

__ADS_1


"Serius kamu? Bukannya Dina punya pacar? Om sering melihat Dina di jemput laki-laki," ujar Om Andi.


"Itu dulu Om. Mungkin Om lihatnya dulu kali. Sekarang Dina, pacar aku dan kami berencana untuk menikah secepatnya," ungkap Rian. Rian terpaksa berbohong, menutupi kehamilan Dina. Rian tak ingin nantinya Dina akan menjadi bahan bullyan pegawai di sana.


Rian mengakhiri panggilan. Dia memberitahu kepada om-nya, kalau saat ini dirinya sedang di jalan. Rian menjelaskan kalau dirinya baru saja pulang dari kosan Dina, mengantarkan Dina pulang dari rumah sakit.


"Ok deh. Nanti kita lanjut lagi obrolan kita. Yang penting Om sudah tahu jelas dari kamu. Om sudah merasa tenang sekarang. Semoga persiapan pernikahan kalian berjalan lancar, tanpa hambatan satu pun," ujar Om Andi dan diaminkan oleh Rian.


Rian melanjutkan kembali perjalanannya kembali. Melajukan kendaraannya lagi menuju rumah orang tuanya. Rian tak ingin menunggu lebih lama lagi, pernikahan mereka harus segera dilaksanakan. Rian ingin meminta restu dari orang tuanya.


Mobil Rian sudah sampai di halaman parkir rumah orang tuanya. Setelah memarkirkan mobilnya, Rian langsung mengucap salam dan masuk ke dalam rumah. Mama-nya langsung menyambut dirinya.


"Ih Mama, anaknya pulang malah disambut seperti ini," gerutu Rian.


Rian adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakaknya berusia dua tahun lebih tua darinya. Saat ini kakak-nya sudah menikah dan telah memiliki dua orang anak.


"Kamu dari mana? Kok pakai baju bebas gitu? Memangnya kamu tidak kerja," ujar Mama Elia.


Rian menjelaskan kalau dirinya sedang izin tidak bekerja hari ini. Rian menjelaskan kalau dirinya baru saja menjemput pacarnya dan mengantarkan pacarnya ke kosan tempat pacarnya tinggal. Pernyataan Rian membuat sang mama melongo tak percaya.

__ADS_1


"Kamu serius dengan apa yang kamu ucapkan? Kamu sekarang sudah punya pacar? Kenalin dong sama Mama. Biar Mama bisa mengenal lebih baik calon menantu Mama," ujar Mama Elia.


"Sebenarnya, kedatangan Rian ke sini ada perihal penting yang ingin Rian bicarakan sama Mama," ungkap Rian. Kini sang Mama sudah menatap ke arah Rian.


Rian langsung mengatakan kepada sang mama, kalau dirinya ingin segera menikah dengan pacarnya sekarang. Pesta pernikahan mereka akan diadakan sederhana. Hanya dihadiri keluarga besar kedua belah pihak. Rian tidak ingin membuat Dina merasa lelah. Rencananya mereka akan melakukan resepsi, setelah Dina melahirkan. Rian akan melakukan ijab kabul kembali, setelah Dina melahirkan nanti.


"Mama kan selama ini selalu nanyain kapan aku nikah, dan saat ini aku sudah menemukan tambatan hati aku. Dia bawahan aku di kantor. Aku minta restu ke Mama dan Papa. Ku harap kalian bisa merestui kami. Aku ingin Mama dan Papa segera melamarnya. Aku ingin menikah segera. Aku ingin akad nikah dulu, tahun depan baru resepsinya," ujar Rian.


"Kamu sudah yakin dengan pilihan kamu? Ingat menikah hanya untuk sekali dalam seumur hidup kita. Jangan sampai kamu menyesal. Mama lihat pernikahan kamu seakan terburu-buru. Memangnya ada apa?" tanya Mama Elia yang kini memicingkan matanya.


"Ma, bukankah menyegerakan ibadah itu lebih baik? Aku hanya ingin segera menyempurnakannya. Aku ingin segera memiliki Dina," ungkap Rian.


Setelah perdebatan cukup panjang, karena Rian yang datang secara tiba-tiba mengatakan dirinya akan menikah. Mama Elia meminta Rian untuk mengajak Dina besok ke rumahnya. Dia ingin lebih mengenal lebih jelas sosok Dina. Memang benar dia ingin anaknya segera menikah, tetapi bukan berarti dia tak mencari yang terbaik untuk sang anak.


"Baiklah, jika Mama ingin bertemu Dina. Aku akan membawanya dan mengenalkan kepada Mama. Aku yakin Mama akan menyukainya. Memang dia hanya dari keluarga sederhana, tetapi aku salut dengan kerja kerasnya selama ini. Demi masa depannya, dia mencoba mengadu nasib di Jakarta. Dengan beasiswa yang dia dapatkan untuk berkuliah," ujar Rian.


"Mama ikut senang mendengarnya. Akhirnya anak Mama bisa membuka hatinya untuk seorang wanita. Selama ini Mama khawatir, kalau kamu tak menyukai wanita," sahut Mama Elia.


"Huh Mama. Aku ini normal, Ma. Masih menyukai dua buah benda kenyal dan lubang yang sangat nikmat. Aku bukan gay. Hanya saja aku belum menemukan wanita yang pas untuk mendampingi hidupku, dan sekarang aku sudah menemukannya."

__ADS_1


__ADS_2