Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Memaafkan Nando


__ADS_3

Hari ini Dina sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Dina pun sudah terlihat lebih segar, hanya tinggal pemulihan saja. Rian sudah mengurus administrasi kepulangan sang istri. Kedua orang tua Rian pun sudah menunggu di rumah Rian dan Dina untuk menyambut kepulangan Baby Al ke rumah. Sedangkan ibunya Dina bersama mereka, yang menggendong Baby Al pulang dari rumah sakit. Meskipun Baby Al bukan anak kandung Rian, kedua orang tua Rian sudah menganggap Baby Al seperti cucunya sendiri.


Rian berusaha menjadi suami siaga yang membantu sang istri mengurus Baby Al. Rian menyayangi Baby Al seperti anaknya sendiri. Dina bersyukur karena Baby Al di sayangi dan diterima dengan baik oleh suami dan kedua orang tuanya.


"Mas, turunin! Malu ih," rengek Dina, saat Rian menggendong tubuhnya dan membawa ke kamar yang berada di bawah.


Rian tak malu-malu menunjukkan keromantisan kepada istrinya, di depan kedua orang tuanya. Sebenarnya dia sudah tak tahan ingin segera menikah dengan Dina, menikmati surga dunia. Namun lagi-lagi dirinya harus mengerti posisi istrinya. Dina memberitahu kepada Sania kalau dirinya sudah melahirkan, tentu saja Sania ikut bahagia dan dirinya berniat untuk menengok sahabatnya.


"Nomor telepon siapa ya?" Dina bermonolog


Hingga akhirnya Dina memilih untuk mengangkat panggilan telepon tersebut. Ternyata yang menghubungi dirinya adalah ibunya Nando.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum. Din, Nando kritis. Ibu mohon banget kamu bisa datang ke sini sekarang dan membawa Al," pinta Ibunya Nando.


"Walaikumsalam, maaf Bu. Aku baru saja pulang dari rumah sakit. Tak bisa ke sana sekarang, aku juga tak bisa membawa Al ke sana. Pasti tak di perbolehkan juga, di sana soalnya banyak virus bu. Aku menjaga, takut Al nantinya kenapa-kenapa," jelas Dina. Dina berharap ibunya Nando mengerti keadaannya.


"Tolong Ibu, Din. Ibu takut terjadi apa-apa sama Nando. Hiks ... hiks ... hiks," pinta Ibunya Nando diiringi isak tangis. Membuat Dina merasa tak tega. Dirinya kini sudah menjadi seorang ibu, seorang ibu pastinya tak akan tega melihat anaknya menderita.


"Ibu sudah pasrah Din, kalau memang Nando harus meninggal. Ibu tak tega melihat dia tersiksa seperti itu. Ibu mohon kamu dan sahabat kamu datang menengok dia, semoga kedatangan kalian membuat Nando merasa tenang dan tak memberatkan dirinya untuk pergi selamanya," ungkap sang ibu.


Ibunya Nando sudah pasrah, jika anaknya akan diambil sang ilahi. Mungkin ini yang terbaik, dari pada dia harus hidup tersiksa seperti saat ini. Dia sudah mengikhlaskannya.


Hingga akhirnya Mamanya Nando mengakhiri percakapan dengan Dina. Namun, di terakhir percakapan dia mengatakan harapannya agar Dina dan Sania mau menengok anaknya.

__ADS_1


"Siapa?" Tanya Rian.


Dina menceritakan kepada suaminya tentang percakapan dirinya dengan Ibunya Nando. Sungguh tak diduga Rian langsung menyetujuinya. Atas dasar kemanusiaan. Terlebih istrinya menceritakan kalau saat ini Nando sedang kritis.


"Pergilah! Al tak usah di ajak, aku khawatir di sana banyak virus. Cukup kamu saja. Coba kamu bicarakan juga sama Sania. Kasihan kalau sampai umurnya tak panjang, dan masih tertahan memiliki dosa dengan kamu dan Sania," ujar Rian.


"Ah, Sayang. Kamu memang luar biasa, aku bersyukur bisa memiliki suami seperti kamu. Aku kagum dengan keikhlasan hati kamu," ungkap Dina.


Dina langsung menghubungi sahabatnya itu, untuk memberitahu kondisi terkini Nando. Sania sempat menolaknya, karena sakit hati yang dia rasakan. Untungnya ada orang yang mau menerima dirinya apa adanya, jika tidak hidupnya akan menderita tak ada yang mau menikah dengannya.


"Sudahlah San, percuma saja kita membencinya. Dirinya kini sudah tak bisa berbuat apa-apa. Kasihan. Biar dia pergi dengan tenang. Nanti yang ada kita justru merasa beban, kalau dia meninggal tanpa maaf dari kita," ujar Dina mencoba memberi pengertian kepada sahabatnya itu.

__ADS_1


Hingga akhirnya dia wanita yang tersakiti akan datang menengok Nando. Mereka akan datang di temani suami mereka masing-masing. Sania akan membicarakan hal ini kepada suaminya.


"Beb, aku izin ya mau menengok Nando sama Dina. Kata Dina dirinya kritis, dan ibunya meminta kami datang untuk menengok dan memaafkan dirinya. Takut tak ada umur, Beb. Boleh tidak? Aku juga tak sendiri kok, lagi pula dia sekarang sudah tak berdaya," ujar Sania dan akhirnya Reza mengizinkannya. Namun dirinya meminta sang istri untuk menunggu dirinya. Dia akan segera pulang dari kantor untuk menemani sang istri datang ke rumah sakit menengok Nando.


__ADS_2