
"Sabar ya Sayang, sebentar lagi kita sampai," ujar Rian memberi semangat kepada sang istri.
"Iya Mas, sakit banget," sahut Dina sambil meringis. Bahkan Dina sampai meneteskan air mata. Membuat Rian merasa kasihan. Perjuangan seorang wanita dalam melahirkan seorang anak begitu berat.
Untungnya rumah sakit tempat Dina akan melahirkan, letaknya tak jauh dari perumahan mereka. Kini mereka sudah sampai di rumah sakit. Rian langsung turun di lobby, dan langsung membantu sang istri untuk turun. Rian dan Dina langsung di sambut. Ria memarkirkan mobilnya dan sang ibu yang menemani Dina masuk ke ruang persalinan.
Setelah memarkirkan mobilnya, Rian langsung bergegas untuk menyusul sang istri. Karena dia ingin menemani sang istri di dalam ruangan.
"Maaf Pak, Ibu hanya bisa ditemani satu orang saja di dalam," ujar sang suster.
"Bu, maaf. Dina ingin didampingi Mas Rian," ujar Dina saat mendengar hanya di perbolehkan satu orang saja yang menemani persalinan. Sang ibu terpaksa keluar dari ruangan persalinan.
__ADS_1
Rian menyeka keringat yang membasahi wajah istrinya. Meskipun yang akan dilahirkan bukan anak kandungnya, tak menjadi alasan Rian tak peduli dengan kelahiran Dina. Rian dengan setia menemani sang istri dan memberi semangat.
"Pembukaan sudah lengkap ya bu! Ibu dengarkan aba-aba dari saya! Kalau ibu sudah merasa ingin melahirkan, ibu coba mengejan sekuat mungkin. Ingat jangan angkat bokong ya bu apapun yang terjadi, karena bisa menyebabkan robek," ucap sang dokter. Suasana di dalam ruangan persalinan tampak tegang, wajah Rian tampak pucat. Dokter menjelaskan secara rinci teknik melahirkan. Dokter menyarankan agar Dina rileks.
"Ayo Sayang, aku yakin kamu pasti bisa! Semangat ya Sayang," bisik Rian di telinga istrinya. Rian terus menggenggam tangan Dina memberi kekuatan.
Saat seperti ini Dina teringat akan sosok Nando. Seharusnya dialah yang menemani dirinya, saat melahirkan anak mereka. Namun, dirinya justru di dampingi laki-laki yang begitu luar biasa untuknya. Bahkan kini menjadi sasaran empuk Dina, kukunya menancap di pergelangan tangan Rian. Namun, Rian tetap bersabar.
"Ayo Bu dikit lagi, kepalanya sudah terlihat! Lebih kuat lagi Bu mengejan," ujar sang dokter.
"Kamu memang wanita yang hebat, Sayang! Selamat ya, kamu sudah menjadi seorang Ibu," ucap Rian dan melabuhkan kecupan di kening istrinya. Suasana penuh hari, bahkan Dina sampai meneteskan air mata. Anak yang awalnya tak diinginkan, kini sudah terlahir ke dunia. Menjadikan dirinya kini menjadi wanita yang sempurna, menjadikan dirinya sebagai seorang ibu.
__ADS_1
Rian tahu apa yang dirasakan istrinya saat ini, dia langsung menghapus air mata yang sempat menetes dan membasahi wajah istrinya.
"Jangan sedih dan jangan pernah takut! Selama aku ada, aku akan selalu melindungi kalian. Hapus semua rasa sakit dan ketakutan yang kamu rasakan saat ini, buka lembaran baru," ucap Rian dan Dina mengiyakan.
Berbeda halnya dengan Dina dan Rian yang sedang merasa bahagia, karena kelahiran Baby Al. Putra yang baru saja dilahirkan Dina akan diberi nama Muhammad Zhafran Al-farizi, harapan dan doa yang terbaik untuk Baby Al. Dina memberi nama Zhafran, yang memiliki arti pemenang atau beruntung. Sedangkan Al-farizi memiliki arti selalu bersemangat dalam bekerja, dan Muhammad sendiri mereka berharap Bayi yang di panggil dengan sebutan Al itu, kelak bisa meneladani sifat Nabi Muhammad.
Nando justru kini dalam keadaan kritis, tetapi sejak tadi dia terus memanggil nama Dina. Air matanya terus menetes satu persatu dari pelupuk matanya. Rasa bersalah terus menghantui dirinya.
"Bu, sepertinya kita harus segera menemui Dina dan meminta dia untuk menemui Nando agar Nando bisa pergi dengan tenang. Bapak tak tega melihat kondisi Nando, Bu. Lebih baik Allah segera mengambil nyawanya dari pada harus tersiksa seperti ini," ungkap sang papa.
"Iya Pak, Ibu sedih melihatnya. Mungkin saja anaknya Nando sudah lahir, dan itu bisa membantu Nando untuk sadar dan sehat kembali. Semoga Dina mau menolong kita ya Pak," ujar sang mama.
__ADS_1
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya yang pastinya seru😍