Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Menjelang Kelahiran


__ADS_3

"Dok, mengapa istri saya tak kunjung melahirkan ya? Padahal ini sudah melewati perhitungan melahirkan. Apa ada masalah dengan kandungannya?" Tanya Rian kepada sang dokter.


Semua yang di perintahkan dokter dan orang tua sudah di jalankan. Berjalan kaki, naik turun tangga, mengepel, minum madu dan telor ayam kampung, minum minyak kelapa. Tetap saja Dina tak kunjung melahirkan. Orang tua Dina pun sudah datang dan menginap di rumah mereka. Untuk mendampingi Dina menjelang kelahiran. Karena Dina tak memiliki pengalaman sebelumnya.


"Coba di pancing dengan berhubungan suami istri pak. Sper*ma dapat merangsang kelahiran jika sudah memasuki bulannya. Membuka jalan lahir, memudahkan bayi mencari jalan keluar," jelas sang dokter. Membuat kepala Rian pusing tujuh keliling. Wajah Rian tiba-tiba saja terlihat pucat.


"Astaga, cobaan seperti apalagi ini," ucap Rian lesu dalam hati.


Alasan, Rian sudah berjanji tidak akan menggauli Dina setelah mereka benar-benar sah menikah. Dina mengerti keputusan yang diambil Rian, dia pun tak bisa memaksa. Selama ini Rian sudah banyak pengorbanannya, Dina tak mungkin menambahnya.


"Coba hari ini Bapak dan Ibu melakukan hubungan suami istri, dan ingat Bapak harus mengeluarkannya di dalam," ujar sang dokter dan Rian hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah keluar dari ruangan dokter, Rian hanya diam saja. Membuat Dina merasa tak enak hati, menumpukan beban kepada laki-laki yang sudah baik padanya.


"Mas, tak usah dipikirkan ucapan dokter tadi! Aku mengerti, ini sangat berat untuk Mas. InsyaAllah nanti dede juga akan lahir, jika sudah waktunya. Mas sudah terlalu banyak bersabar dan mengerti selama ini. Aku ikhlas apapun yang terjadi dengan aku. Kalaupun aku harus melahirkan secara sesar, aku siap," ungkap Dina.


"Maafkan Mas ya, kali ini Mas tak bisa bantu. Mas tak mau Allah murka sama kita. Aku bantu doa, semoga dilancarkan kelahiran kamu," ujar Rian dan Dina menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Perut Dina sudah sangat gendut, usia kandungan Dina sudah 41 minggu. Jika tidak tanda-tanda juga, dokter menyarankan melakukan induksi atau dengan operasi sesar. Namun Dina masih ingin melahirkan secara normal. Dokter khawatir, akan terjadi keracunan pada bayi di dalam kandungan. Persediaan ketuban berkurang dan sudah mengalami pengapuran.


"Kamu mau makan apa? Sekalian beliin makanan untuk ibu juga," ujar Rian.


"Aku ingin makan ayam pecel saja Mas. Untuk ibu nanti belikan martabak saja," sahut Dina dan Rian menuruti permintaan istrinya.


Selama menikah, hubungan mereka tampak harmonis. Tak pernah sekalipun Rian berkata kasar kepada istrinya. Mereka tampak romantis. Rian selalu membuktikan sebagai suami siaga. Menuruti keinginan mengidam istrinya. Jika Rian sempat, dia juga suka membuatkan susu untuk Dina.


Kini mereka sudah sampai di rumah, Rian langsung pamit untuk langsung ke kamar. Setelah melahirkan, Dina akan tidur di kamar tamu yang berada di bawah bersama sang ibu. Ibunya akan menginap di Jakarta sampai Dina melahirkan.


Dina sudah menyusul suaminya naik ke kamarnya, dan ikut naik ke ranjang. Tidur di sebelah suaminya.


Sekarang ini Dina sudah mulai sulit untuk tidur, semua posisi tidur sudah tak nyaman. Rian selalu memberi support, bahkan Rian sering kali memijat kaki Dina. Menjelang kelahiran, kaki Dina sering bengkak. Kini Dina sudah tertidur, dan Rian baru bisa tidur.


"Mas, sakit," rengek Dina.


Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Rian dan Dina sudah tertidur pulas. Tiba-tiba saja Dina merasakan mules. Dina mencoba membangunkan Rian. Mendengar sang istri membangunkan, Rian langsung terbangun.

__ADS_1


"Kenapa, Yang? Apa kamu mau melahirkan?" Tanya Rian sambil mengelus perut istrinya.


"Iya, sepertinya. Perut aku sakit banget," ujar Dina.


Rian langsung memakai celana panjang dan mencari sweater istrinya dan memakaikannya. Kemudian memapah istrinya menuruni anak tangga. Karena Rian tak kuat lagi menggendong Dina.


"Tunggu dulu ya, aku bangunkan ibu dulu dan ambil perlengkapan yang mau dibawa ke rumah sakit," ujar Rian dan Dina menganggukkan kepalanya.


Rian mengetuk pintu kamar ibunya Dina untuk membangunkan. Memberitahukan kalau Dina akan melahirkan. Sang ibu langsung bersiap-siap. Dia akan ikut menemani kelahiran putrinya. Rian bergegas mengambil semua perlengkapan istrinya dan memasukkannya ke dalam mobil.


Mendengar suara berisik, sang pembantu pun ikut terbangun. Rian menyuruh ART-nya untuk mengunci rumah, karena mereka akan berangkat ke rumah sakit.


"Semoga ibu dilancarkan kelahirannya ya, Pak. Selamat, ibu dan bayinya di berikan kesehatan," doa sang ART.


"Amin, terima kasih Mba. Bapak sama Ibu berangkat dulu ya, titip rumah," sahut Rian.


Sambil menunggu up, mampir yuk di karya yang bagus😍

__ADS_1




__ADS_2