Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Anak Genius


__ADS_3

Kini Al sudah berusia dua tahun, dia sudah sangat pintar bicara dan bahkan sangat kritis. Dia tumbuh menjadi anak yang sholeh. Terlihat sekali sangat menyayangi Bunda dan Ayahnya. Al memiliki kecerdasan melebihi anak usianya.


Semua ini berkat didikan dan kasih sayang yang diberikan Ayah dan Bundanya. Al tak pernah kekurangan kasih sayang, karena kasih sayang keduanya semua tertuju kepadanya.


"Bunda, kalau Al nanti sudah berusia 4 tahun. Al ingin menjadi seorang Hafidz, bisa menghapal 30 juz," ungkap Al.


Suatu kebanggaan untuk Rian dan Dina. Meskipun kedua orang tuanya bukanlah seorang ustadz dan ustadzah, Al tumbuh menjadi anak yang saleh. Sebagai orang tua, Rian hanya memfasilitasi anaknya saja. Sejak kecil, Al sudah terbiasa mendengar murottal dan hidup dengan penuh kasih sayang. Menjadikan dirinya pribadi yang lembut.


Bukan itu saja, di usianya yang baru dua tahun. Dia sudah mahir melukis. Dina dan Rian menjadi orang tua yang sukses dalam membesarkan anak. Meskipun Papa Nando, bukan seorang laki-laki yang baik. Tak menjadikan Al, mengikuti jejak Papa Nando.


Nando hidup dengan penyesalan, melihat anak yang dia minta gugurkan dan tak dia akui. Justru kini tumbuh menjadi anak genius, yang memiliki prestasi yang luar biasa.


"Maafkan Papa, Nak! Maafkan Papa yang dulu tak menginginkan kehadiran kamu. Saat ini Papa sangat menyesal, bahkan kamu tak ingin dekat dengan Papa," ucap Nando diiringi isak tangis.

__ADS_1


Saat ini Nando sedang menonton tayangan di salah satu stasiun TV yang menayangkan anak berprestasi. Air matanya menetes satu persatu. Hari-harinya diliputi penyesalan.


"Om boleh bertanya tidak sama Al? Al belajar melukis sama siapa? Ayah atau Bunda? Atau mungkin Al mengikuti sanggar lukis? Lukisan Al bagus banget loh, karena seusia Al pasti hanya bisa mencoret-coret dan Al sungguh luar biasa. Oh, ya Om dengar. Al pintar mengaji juga ya? Bahkan Al sudah khatam Al-Qur'an. Ini luar biasa loh, Om mau kenal dong sama Ayah dan Bunda-nya Al. Bunda dan Ayahnya Al di mohon untuk naik ke panggung," ucap pembawa acara.


Rian dan Dina tentu saja dengan perasaan bangga menaiki panggung, berdiri di antar Al. Terlihat sekali kedekatan seorang anak dengan kedua orang tua. Hal ini membuktikan, tidak semua anak seorang penzina akan menurun ke anaknya. Balik lagi, tergantung kita mendidik anak tersebut. Perlunya kedekatan kedua orang tua terhadap seorang anak, kesuksesan seorang anak tergantung bagaimana kedua orang tuanya mendidik dirinya.


Rian membuktikan, meskipun dirinya bukanlah Ayah kandung dari Al. Dia sangat menyayangi Al seperti anak kandungnya sendiri, bahkan saat Al masih dalam kandungan Dina. Al sudah mendapatkan kasih sayang dari Ayah Rian.


"Bunda boleh dong sedikit berbagi kepada kita semua, bagaimana cara mendidik anak seusia Al? Karena rata-rata seusia dia, sedang senang bermain, dan mewarnai hanya sebuah coretan. Al benar-benar anak genius," ucap pembawa acara.


"Untuk masalah mengaji, Iya benar. Sejak dirinya masih di dalam kandungan, Al memang sudah terbiasa mendengarkan murottal 30 juz. Hal itu terus berlanjut. Saya juga membeli sebuah mainan seperti robot yang pintar mengaji. Saya lihat dia begitu antusias. Hingga akhirnya, saat dia sudah pintar bicara. Saya masukkan dia ke pendidikan Hafidz. Padahal di sana dia murid termuda. Namun, ustadz di sana juga memuji Al. Karena dia begitu antusias untuk belajar. Padahal anak seusianya, banyak yang masih belajar bicara," jelas Dina lagi.


Semua penonton dan juri di sana memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Al. Jika Nando dulu tak menyia-nyiakan Al, dirinya 'lah yang saat ini berdiri di sana.

__ADS_1


"Om mau dengar dong Al mengaji, semua teman-teman di sini juga pasti 'kan ingin mendengar Al mengaji?" tanya sang pembawa acara.


Sungguh luar biasa, Al membuktikan kemampuannya. Semua yang hadir di sana, memuji kemampuan Al. Dina sampai meneteskan air mata, dia sungguh terharu. Setelah selesai mengaji, Al langsung memeluk sang Bunda.


"Bunda pastinya bangga 'kan memiliki anak yang luar biasa seperti Al?" tanya sang pembawa acara.


Tentu saja Dina bangga. Karena anak yang sempat dia ingin gugurkan. Kini justru membuat suatu kebanggaan untuk dirinya.


"Al sayang tidak sama Ayah dan Bunda?" tanya sang pembawa acara lagi.


"Sayang banget," ucap Al. Al langsung mencium pipi kedua orang tuanya secara bergantian. Menunjukkan rasa sayangnya kepada orang tuanya. Dina dan Rian pun mencium Al secara bersamaan.


Nyesek? Pasti Nando akan merasakan hal itu. Seharusnya Al menciumnya, Al justru mencium pipi Ayah tirinya. Al sangat menyayangi Rian. Menyesal pun tak ada gunanya.

__ADS_1


Mampir yuk di karya bestie ku, masih anget banget😍



__ADS_2