Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Lamaran


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," ucap Papa Emir.


"Waalaikumsalam. Ayo, silahkan masuk," sahut orang tua Dina.


Mereka menyambut kedatangan keluarga Rian dengan ramah. Rian terlihat tegang, sejak tadi dirinya berdoa dalam hati, agar acara lamaran dirinya dengan Dina bisa berjalan dengan lancar. Dia tak menyangka, kalau akhirnya dia berjodoh dengan Dina.


"Nduk, Rian beserta keluarganya sudah datang. Ayo kita keluar," ujar Sang ibu.


Dina menganggukkan Kepalanya dan mengikuti Sang Ibu keluar dari kamar. Benar saja, semua sudah berkumpul di ruang tamu. Dina terlihat cantik menggunakan pakaian Muslimah. Memakai jilbab dan gamis. Membuat Rian terpanah, istrinya terlihat lebih cantik, dengan busana yang tertutup seperti itu.


Dina langsung menghampiri kedua orang tua Rian, Kakaknya Rian beserta suaminya, dan Om Andi beserta istrinya. Dina mencium tangan mereka satu persatu secara bergantian.


"Kamu cantik banget, Din. Pantas Rian tergila-gila sama kamu," puji Mama Elia membuat Dina tersipu malu, mendapat pujian dari calon ibu mertuanya.


Suasana terlihat akrab, kekeluargaan. Kedua keluarga terlihat kompak. Keluarga Rian tak banyak mengatur, mereka menyerahkan sepenuhnya kepada keluarga Dina.


"Kami sangat setuju Rian menikah dengan Dina. Kami berharap agar pernikahan Dina dan Rian segera terlaksana. Bagaimana kalau di percepat, untuk menjaga kemungkinan buruk terjadi. Karena sepertinya, mereka sudah tidak sabar untuk hidup bersama," ungkap Papa Emir.


"Kami pun selaku orang tua Dina, setuju saja. Bagaimana Din, apa kamu menerima lamaran ini? Menerima Rian sebagai calon suami kamu," tanya sang Bapak.


Dina terlihat diam sejenak. Mencoba berpikir, apakah keputusan yang dia ambil adalah jalan terbaik. Dina yang sejak tadi menunduk, kini menatap wajah Rian. Seakan dirinya bertanya, apakah dirinya pantas menjadi istri dari laki-laki yang begitu sempurna.


Semua pandangan kini mengarah ke arah Dina menanti jawaban apa yang Dina ucapkan. Wajah Rian terlihat penuh harap, Rian menganggukkan kepalanya seakan sebuah tanda bahwa Dina terima dirinya. Menghilangkan perasaan ragu di hatinya.

__ADS_1


"Iya, Dina menerima lamaran ini. Dina siap menjadi istri Mas Rian," ucap Dina.


"Alhamdulilah."


Rian mengucap kata syukur, karena akhirnya Dina menerima lamarannya. Satu langkah menuju pernikahan telah terlewati. Bukan hanya Rian, semua yang hadir di sana pun mengucap syukur. Mereka berharap, jalan menuju pernikahan mereka akan dimudahkan semuanya.


Rian dan Dina kini sudah berdiri di hadapan semua yang hadir di acara lamaran. Rian memasangkan cincin tunangan untuk Dina. Dina dibuat terkejut, pasalnya Rian membeli cincin itu secara diam-diam. Waktu bersama Dina, mereka hanya membeli cincin pernikahan. Saat Rian mengambil pesanan cincin pernikahan mereka, Rian terpikir ingin membeli cincin tunangan untuk Dina.


"Terima kasih, Mas. Terima kasih untuk segalanya," ucap Dina dan Rian hanya menganggukkan kepalanya sambil tangannya sibuk memasangkan cincin di jari manis Dina sebelah kiri. Dina mencium tangan Rian untuk pertama kali, tetapi Rian tak berani mengecup kening Dina. Dia hanya menyambut dengan senyuman.


Acara lamaran berjalan lancar sesuai rencana keduanya. Raut bahagia terpancar dari keduanya. Mereka sangat bahagia.


"Terima kasih ya Allah, karena engkau telah memberikan calon suami untuk aku yang luar biasa. Setelah rasa kecewa yang aku rasakan, ternyata engkau mengganti semua itu dengan yang lebih berharga," gumam Dina yang kini memandang Rian yang sedang asyik makan.


Semua sudah selesai. Rencananya kedua orang tua Dina akan mengundang tetangga mereka, agar mereka tak di anggap menutupi pernikahan Dina dengan Rian. Hanya sekedar makan bersama, tak ada pesta kemewahan. Rencananya setelah Dina melahirkan, barulah mereka mengadakan pesta pernikahan.


"Baiklah kami pamit pulang. Tiga hari lagi kami akan datang kembali untuk menikahkan anak-anak kita," ucap Papa Emir.


Dina beserta kedua orang tuanya mengantarkan Rian beserta kedua orang tuanya sampai depan pintu rumahnya. Melepas kepergian Rian beserta keluarganya. Rencananya mereka akan kembali ke Kota Yogyakarta, menginap di sana.


Rian dan Dina harus menahan rindu selama dua hari, hingga akhirnya mereka resmi mencapai pasangan suami istri. Walaupun Rian harus menunggu saatnya tiba, mereka akan benar-benar menjadi pasangan suami istri.


"Makasih ya sayang, kamu memang anak hebat. Mengerti keadaan Bundanya. Semoga Nenek dan Kakek mau menerima kehadiran kamu ya sayang. Sebenarnya Bunda merasa bersalah karena telah membohongi calon Kakek dan Nenek kamu. Bunda takut mereka menolak, kalau tahu Bunda hamil bukan dengan Ayah Rian," ujar Dina seolah bermonolog dengan anaknya.

__ADS_1


Bu Lina menghampiri sang anak yang sedang duduk termenung di pinggir ranjangnya dan mengelus punggung sang anak dengan lembut. Dina langsung memeluk sang ibu meluapkan perasaannya.


"Apa yang Dina lakukan ini benar, Bu? Entah mengapa Dina merasa berdosa karena telah membohongi Mama Elia dan Papa Emir. Mereka sungguh baik. Dina takut kalau nantinya mereka akan kecewa, jika nantinya mengetahui kehamilan Dina," ungkap Dina diiringi isak tangis.


"Sebenarnya ini memang tak baik. Lebih baik jujur diawal, dari pada berakhir kecewa. Ibu takut nantinya Mama-nya Rian akan kecewa sama kamu," sahut Ibu Lina.


"Lantas Dina harus seperti apa? Dina harus melakukan apa, Bu? Dina takut kehilangan Mas Rian, Dina sudah mencintai Mas Rian. Memang tadi saat acara lamaran, Dina sempat berpikir apakah Dina pantas untuk menjadi seorang istri dari laki-laki yang luar biasa. Namun, Mas Rian menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa Dina harus mengiyakan. Lagi pula, sekarang Dina sudah menyadari kalau Dina tak ingin kehilangan Mas Rian. Di kantor Mas Rian banyak fansnya. Din benar-benar menjadi orang yang beruntung bisa mendapatkan dia," ucap Dina.


"Coba kamu bicarakan sama Rian, sebelum semuanya terlanjur. Coba kamu hubungi Rian," saran sang Ibu. Dina menganggukkan kepalanya mengerti.


Akhirnya Dina memutuskan untuk menghubungi Rian, sedangkan sang Ibu memilih keluar. Memberikan kesempatan untuk Dina berbicara dengan Rian. Ibu Lina menyerahkan keputusannya kepada Dina dan Rian.


"Assalamu'alaikum, Mas."


"Walaikumsalam, ada apa Sayang. Baru saja ketemu, sudah kangen saja. Tahan dulu rasa rindunya," ujar Rian sambil terkekeh. Berbeda halnya dengan Rian yang merasa bahagia, Dina justru terlihat resah.


Dina mengatakan kepada Rian, apa pernikahan mereka sebaiknya di tunda dulu sampai anak ini lancar. Setelah ini baru dibicarakan kembali. Dina mengatakan kalau sejak tadi dirinya merasa resah. Dia takut kalau nantinya kedua orang tua Rian marah, karena merasa dibohongi. Dia mengungkapkan kalau dirinya merasa bersalah.


"Sebentar Sayang, aku cari tempat dulu ya biar enak ngobrolnya," ujar Rian.


Rian berjalan mencari tempat untuk dirinya mengobrol lebih santai. Terlebih ini sebuah pembicaraan rahasia. Sebuah rahasia yang dia rahasiakan dari keluarga besarnya.


Dina sama Rian jadi nikah ga ni? Author bingung. Apa nunggu lahir dulu aja 😏

__ADS_1


__ADS_2