
Dina menyerang Rian tiba-tiba. Mencium bibir Rian dengan penuh gairah. Dia rela berjongkok mensejajarkan dengan suaminya. Hal itu membuat mata Rian membulat sempurna. Tanpa sadar Rian menarik tubuh Dina, membuat Dina berada di atas tubuhnya. Perlahan Rian pun membalasnya. Ciuman mereka semakin bergairah. Rian menarik tengkuk Dina untuk memperdalam ciumannya.
Namun, tiba-tiba saja Rian menghentikan ciuman itu. Dirinya sadar kalau apa yang dia perbuat adalah sebuah kesalahan. Tak sepantasnya dia berbuat seperti itu. Dia berpikir, apa bedanya dia dengan Nando kalau sampai dirinya tak bisa mengontrol nap*sunya. Dia adalah seorang laki-laki normal, tentu saja miliknya akan terbangun dari tidurnya.
"Maaf Sayang, jangan seperti ini," ujar Rian.
Dina terlihat kecewa, lagi-lagi suaminya menolaknya. Awalnya dia berniat membahagiakan suaminya. Bahkan dirinya sempat ingin memanjakan milik suaminya. Dia merasa salut dengan kesabaran suaminya yang selalu memendam hasratnya.
"Tapi aku ingin membahagiakan kamu. Agar kamu tak terlalu menderita," ujar Dina. Dirinya merasa sangat bersalah.
Rian bangkit duduk, kemudian membantu sang istri untuk bangkit dan membantu sang istri untuk duduk di sebelahnya.
"Bukankah aku sudah sering bilang sama aku? Aku tak apa, ini semua sudah menjadi keputusan aku. Jangan merasa bersalah! Kalau aku menuntut kamu, sama saja aku seperti mantan pacar kamu. Mengajak kamu untuk berbuat maksiat. Allah sedang menguji kesabaran aku. Please jangan lakukan itu lagi. Jika kamu terus menerus seperti itu, cepat atau lambat bisa saja aku akan khilaf. Ayo kita sama-sama untuk menjaganya. Jangan sampai kita melakukan dosa besar," ungkap Rian kepada Dina sambil mengelus rambut istrinya dengan lembut.
"Kamu pikir aku tak tersiksa? Aku tersiksa, tetapi aku lebih tersiksa lagi jika kamu menggoda aku seperti tadi. Kamu itu adalah godaan terbesar dalam hidup aku. Ayo kita lewati masa itu bersama, semua akan indah pada waktunya," ungkap Rian dan Dina menganggukkan kepalanya.
Rian langsung memilih untuk mandi, dia harus bersiap-siap untuk segera berangkat ke kantor. Sedangkan Dina memilih turun ke bawah menyiapkan bekal untuk suaminya bawa ke kantor. Setelah mandi dan bersiap-siap, Rian langsung menemui sang istri yang sudah menunggu dirinya di bawah.
Mereka terlihat sedang menikmati sarapan pagi berdua. Dina berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk suaminya. Dia selalu mengurus semua keperluan suaminya sendiri.
__ADS_1
"Sayang, aku berangkat dulu ya. Jaga diri kamu baik-baik di rumah ya," ujar Rian. Dina langsung mencium tangan suaminya. Mengantarkan sang suami sampai garasi. Melepas kepergian suaminya.
Rian sudah berangkat meninggalkan rumah, dan Dina memilih untuk naik ke kamarnya untuk membersihkan kamarnya dan mencuci pakaian kotor suaminya dan dirinya. Dina memilih mempekerjakan ART yang pulang pergi. Agar dirinya bisa bebas berduaan, menikmati masa pengantin baru.
"Kalau dia terus menerus menyerang aku seperti ini, bisa-bisa aku khilaf. Aku hanya manusia biasa, yang bisa saja tergoda. Ini adalah godaan terbesar sepanjang hidup aku, menahan hawa nap*su," Rian bermonolog dalam hati.
Ciuman tadi, masih terus terngiang di pikiran Rian. Membuat konsentrasinya buyar. Tak bisa dipungkiri, kalau dirinya pun sudah sangat menginginkannya. Hidup satu atap dan tidur satu ranjang dengan wanita yang dia nikahi, tentu saja sangatlah tak mudah. Namun Rian akan berusaha menjalaninya.
"Mir, gimana hasil pemeriksaan kamu sama Nando kemarin," tanya sang ibu mertua.
"Semua baik-baik saja, Ma. Aku dan Nando tak ada yang bermasalah. Kami sama-sama subur, hanya saja kami perlu usaha keras. Mama coba bicara sama Nando ya, semalam saja aku sudah memakai lingerie dia tetap saja tak peduli. Dia justru lebih memilih untuk tidur," ungkap Mira.
Mira memiliki ide. Malam ini dirinya berniat ingin memasukkan obat perang*sang ke dalam minuman Nando, agar Nando bergai*rah dengannya. Mira masih merasa yakin kalau dirinya akan hamil. Dia yakin kalau dokter memberikan hasil yang salah.
"Aku ingin lihat, apa nanti malam kamu akan menolak aku lagi, setelah aku memasukkan obat ke dalam minuman kamu," ujar Mira menyeringai licik.
Sebelum suaminya pulang, Mira sudah berdandan cantik dan berpenampilan seksi. Dia juga sudah menyiapkan obat untuk suaminya minum. Nando baru saja pulang, dia langsung di sambut oleh istrinya. Hari ini Mira terlihat berbeda. Bahkan dirinya sudah menyiapkan makanan untuk mereka makan berdua. Mira sangat menginginkan seperti seperti pengantin baru lainnya. Yang selalu memadu kasih di saat bersama.
Sejam dua jam, Mira terlihat mendiamkan suaminya. Mira sudah memberikan obat ke dalam minum Nando. Dia juga sengaja, bergaya sensual untuk menarik perhatian suaminya. Benar saja, mata Nando sudah terlihat sayu. Hasratnya sudah mulai meninggi.
__ADS_1
"Sayang, ke kamar yuk! Aku sangat menginginkan kamu," ucap Nando.
Tentu saja hal ini membuat Mira merasa bahagia, karena sang suami sudah masuk perangkapnya. Nando langsung melucuti pakaiannya, dan membuang begitu saja. Matanya sudah terlihat memerah, kepalanya terasa tegang. Nando langsung menyerang Mira dengan beringas. Awalnya Mira begitu senang, dia pun mendapatkan pelepasan. Namun lambat laun dia justru menjadi kewalahan menanggapi nap*su suaminya yang menggebu-gebu.
"Aaawww, ringis Mira. Dia merasakan nyeri di perutnya. Namun, Nando tetap saja menghajar dirinya. Sampai-sampai dia mengalami pendarahan, dan akhirnya jatuh pingsan. Tentu saja hal ini membuat Nando merasa panik. Kepalanya bertambah pusing. Dia pun tak mengerti mengapa dirinya bisa seperti ini. Ini adalah hal pertama kali terjadi di hidupnya.
Dengan kepala yang terasa berat, Nando memesan taksi online. Dia tak kuat untuk membawa kendaraan sendiri. Bahkan miliknya masih terus berdiri tegak dan mengeras, meskipun sudah berkali-kali mendapatkan pelepasan. Untuk menggendong istrinya saja dirinya tak mampu, dia terpaksa meminta supir taksi online untuk menggendong istrinya ke mobil. Saat di rumah sakit pun, dia meminta tenaga bantuan untuk menggendong tubuh istrinya dari dalam mobil ke brankar. Mira langsung mendapatkan pertolongan.
"Apa yang terjadi dengan pasien pak? Apa dia sedang hamil? Makanya terjadi pendarahan hebat seperti ini," tanya dokter yang menangani Mira.
"Hamil? Apa Mira tak tahu kalau dirinya sedang hamil?" Nando bermonolog dengan hatinya.
Nando menjelaskan apa yang terjadi dengan istrinya. Sang dokter sampai geleng-geleng kepala mendengarnya. Sebegitu perkasanya Nando, sampai-sampai sang istri harus mengalami pendarahan hebat saat bercinta dengannya.
"Bisa juga karena pasien saat itu sedang hamil, dan Bapak main terlalu keras. Hal itu membuat pasien mengalami pendarahan. Namun hal lain bisa juga terjadi. Apa pasien mengidap penyakit kanker serviks? Biasanya hal seperti ini sering terjadi pada penderita kanker serviks. Dia akan merasakan nyeri dan dapat juga mengalami pendarahan, saat berhubungan suami istri," ungkap sang dokter membuat Nando melongo tak percaya dengan apa yang terjadi pada istrinya. Kepalanya tambah sakit saja memikirkan hal itu.
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya bestie ku😍
__ADS_1