
"Nanti kamu saja ya yang ambil hasil pemeriksaan kesuburan kita. Hari ini kemungkinan aku pulang malam, tak sempat menemani kamu ke rumah sakit," ujar Nando dan Mira mengiyakan.
Sampai saat ini, Mira belum mendapatkan pekerjaan lagi. Terpaksa dirinya harus menjadi ibu rumah tangga. Namun, tentu saja tak menjadi ibu rumah tangga yang baik. Karena kerjaannya di rumah hanya bermalas-malasan, saat Nando berangkat bekerja.
"Aku yakin, kalau aku pasti akan secepatnya memberikan anak untuknya. Memangnya Dina saja yang bisa memiliki anak," ujar Mira bicara sendiri.
Siang ini rencananya Dina akan membawakan makanan untuk suaminya makan siang di kantor. Kini dirinya sedang berkutat di dapur, sibuk memasak. Dia selalu ingin masak sendiri, untuk suaminya makan.
"Pasti Mas Rian senang, aku bawakan makanan. Aku ingin makan siang bersamanya di kantor," ujar Dina. Dia terlihat sumringah, wajahnya terlihat bahagia. Sudah waktunya dia membuat bahagia suami yang telah berjuang banyak untuknya.
Dengan perasaan bahagia, Dina memasuki perusahaan tempat suaminya bekerja dengan menenteng tas makanan untuk suaminya dan dia makan. Dia sengaja tak memberitahukan hal ini kepada sang suami, Dina ingin memberi surprise untuk suaminya.
"Tumben Din, kesini? Gimana kabar kamu?" tanya Sania teman dekatnya. Namun, setelah menikah. Hubungan mereka tak sedekat dulu. Dina lebih sibuk mengurus rumah tangganya.
"Alhamdulillah baik. Mas Rian ada, San? Aku ingin membawakan dia makanan untuk makan siang. Tadi aku tak sempat menyiapkan bekal untuknya. Aku bangunnya kesiangan," ujar Dina.
Sania mengatakan kalau Rian berada di ruangannya, dan menyuruh Dina untuk langsung menghampirinya.
Deg!
Jantung Dina seakan terhenti, entah mengapa hatinya terasa sakit saat melihat sekretaris Om Andi berasa di ruangan suaminya. Dina merasa cemburu, dia merasa salah paham. Hingga akhirnya air matanya jatuh satu persatu.
"Ternyata semua laki-laki semuanya sama. Tak ada yang setia. Berkata manis, tetapi dibelakangnya pahit. Bilangnya ingin setia, tetapi nyatanya apa? Di belakang aku dia selingkuh," Dina bermonolog dengan hatinya
__ADS_1
"Sayang, kamu datang? Masuklah! Kok kamu tak bilang mau ke sini," ujar Rian saat melihat istrinya yang hanya diam terpaku di pintu.
Rian menyuruh pergi sekretaris Om-nya, dan berjalan menghampiri sang istri yang sedang salah paham dengannya.
"Memangnya seorang istri harus bilang dulu ya kalau berkunjung ke suaminya? Agar tak kepergok ya, kalau sedang bersama wanita lain," sindir Dina, dan Rian hanya membalasnya dengan tersenyum. Justru dirinya merasa senang, karena dia yakin kalau istrinya saat ini sedang cemburu.
"Ini makanan untuk kamu, aku pamit pulang. Sepertinya kamu tak suka aku berada di sini," ujar Dina ketus, sambil meletakkan tas yang berisi makanan yang dia bawa di atas meja kerja suaminya.
"Hei, kamu itu kenapa sih? Siapa bilang aku tak suka kamu datang. Justru aku senang, karena istri cantik aku mau membuatkan aku makanan untuk aku makan siang. Dari pada ngambek, lebih baik kita makan siang bersama. Aku sudah sangat lapar," goda Rian.
"Aku tak lapar. Kamu saja yang makan, aku ingin pulang," ujar Dina yang langsung mengambil tasnya untuk pergi.
Rian langsung menarik tangan Dina membuat buah dada Dina bertabrakan dengan dada bidang suaminya. Membuat netra mereka saling bertemu. Tubuh keduanya sangat dekat, membuat hembusan napas keduanya sangat terasa.
Rian mengatakan kalau dirinya dengan sekretaris Om-nya hanya untuk urusan pekerjaan saja. Karena Rian adalah orang penting kedua dari Om-nya, dan untuk urusan pertemuan relasi, lebih sering dilakukan Rian.
"Aku kan sudah menjelaskan kepada kamu, apa yang terjadi sebenarnya. Sudah ya jangan marah lagi, aku tak ingin melihat kamu marah. Ayo temani aku makan," ujar Rian membuat wajah Dina memerah, menahan perasaan malunya.
Kini mereka berdua tengah menikmati makan siang bersama. Hari ini Dina membuatkan ayam kecap dan cumi saus padang untuk dirinya. Dina merasa bahagia, karena sang suami makan dengan lahap.
"Kamu itu memang pintar memanjakan lidah suami. Masakan kamu sangat enak, aku selalu suka masakan kamu," puji Rian membuat wajah Dina tersipu malu. Membuat dirinya justru merasa kenyang dan tak napsu makan karena ucapan suaminya.
Mira tampak sudah bersiap-siap untuk berangkat. Wajahnya terlihat bahagia. Dia sudah tak sabar, ingin mengetahui hasil pemeriksaan dirinya dan suaminya kemarin. Bukan hanya dirinya saja yang merasa penasaran. Ibu mertuanya pun sudah sangat antusias, dan bahkan menghubungi dirinya untuk mengingatkan dirinya agar tak lupa untuk mengambil hasil pemeriksaan.
__ADS_1
Mira telah sampai di rumah sakit, dan sedang menunggu giliran dirinya di panggil. Dia ingin sang dokter menjelaskan hasil pemeriksaan dirinya yang masih berada di dalam amplop berwarna putih.
Deg!
"Apa? Saya mengidap penyakit endometriosis? Ini pasti salah," ujar Mira merasa tak Terima dengan penjelasan sang dokter mengenai hasil pemeriksaan dirinya dan suami. Dokter mengatakan kalau Mira mengidap penyakit endometriosis, sehingga membuat dirinya sulit untuk hamil. Sedangkan Nando dinyatakan subur, tak memiliki masalah mengenai kesuburan.
Endometriosis merupakan penyakit di mana jaringan dari lapisan dalam dinding rahim tumbuh di luar rongga rahim. Jika jaringan edometrium yang tumbuh menutupi tuba fallopi, maka pertemuan antara sel telur dan sper*ma bisa tidak terjadi. Endometriosis menjadi penyebab wanita sulit untuk hamil.
"Siklus menstruasi Ibu Mira, pasti selama ini tak teratur. Biasanya Ibu akan merasakan nyeri saat menstruasi, bahkan ada menyebabkan sampai jatuh pingsan," ujar sang dokter.
Mira tak mampu lagi berkata-kata lagi. Dia merasa takut, kalau sampai suaminya mengetahui hal ini. Kemungkinan untuk bisa memiliki anak masih ada. Namun tak semudah seperti wanita pada umumnya yang dalam kondisi normal. Penyakit ini bisa memicu akan terkena penyakit kanker rahim. Sebaiknya harus dilakukan tindakan operasi.
Air mata Mira jatuh satu persatu, mengapa takdir begitu kejam padanya. Suaminya bisa saja meninggalkan dirinya, jika dirinya tak mampu memberikan keturunan untuknya.
"Mengapa kamu selalu unggul dari aku? Kamu selalu saja memiliki dengan mudah, sedangkan aku selalu dituntut untuk berusaha keras. Setelah aku berhasil mendapatkan Nando, sekarang aku dituntut untuk membuat Nando bertahan untuk aku. Aku benci kamu, Din," gumam Mira dalam. hati.
"Saya ingin memiliki anak, Dok. Apa yang harus saya lakukan agar saya bisa sembuh, dan terbebas dari penyakit itu," tanya Mira diiringi isak tangis.
Dadanya terasa sesak, dia tak menyangka akan mengalami hal seperti itu. Hatinya terasa hancur.
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya bestie aku 😍
__ADS_1