
Kini Rian dan Dina sudah berada di pusat perbelanjaan yang terkenal di daerah Jakarta. Rencananya Dina dan Rian akan membeli tas, sepatu, 1 set perhiasan, dan aneka macam barang seserahan seperti perlengkapan sholat, perlengkapan mandi, dan paket kosmetik.
"Kita ke toko perhiasan dulu yang terpenting," ujar Rian dan Dina hanya mengikuti keinginan sang calon suami.
"Silahkan kamu pilih, model yang kamu suka," titah Rian.
Dina mulai memperhatikan satu persatu dan mencoba yang dia suka. Rian menyerahkan pilihan kepada Dina. Tak masalah dengan uang yang harus di keluarkan untuk wanita yang dia cintai, kebahagiaan orang yang dia sayangi lebih Rian utamakan.
"Bagus tidak, Mas?" tanya Dina kepada Rian sambil menunjukkan cincin untuk pernikahan. Bentuknya memang unik, walaupun tetap sama hanya terdapat satu mata.
"Ya sudah aku pilih ini juga deh. Kamu coba juga ini Mas," ujar Dina sambil memberikan cincin untuk Rian cocokkan ukurannya.
"Kamu memang pintar memilih. Aku tak salah memilih calon istri," puji Rian. Membuat wajah Dina memerah menahan perasaan malu, karena sang pelayan toko kini memandang wajahnya.
"Mas, aku kan jadi malu. Kamu kok ngomong gitu di depan orang sih," bisik Dina di telinga Rian.
Hal itu membuat Rian tertawa terbahak-bahak. Memangnya kenapa harus malu, toh memang benar kenyataannya. Dirinya tak pernah salah memilih calon istri, meskipun dirinya harus menerima juga bayi dalam kandungan calon istrinya.
Setelah selesai membeli satu set perhiasan, Rian dan Dina kini menuju Toko sepatu dan tas. Lagi-lagi Rian membebaskan Dina untuk memilih apapun yang Dina suka. Meskipun demikian, tak menjadi alasan untuk Dina tak tahu diri. Dia hanya memilih sebuah tas yang seharga 300 ribu, sepatu seharga 250 ribu, dan sendal 200 ribu.
"Cape enggak? Kalau cape, ayo kita istirahat makan dulu. Aku tak ingin kamu kelelahan," ujar Rian dan Dina mengiyakan.
__ADS_1
Dina harus menyadari kalau dirinya sedang berbadan dua, tak seperti biasanya yang bisa berjalan-jalan mengelilingi pusat perbelanjaan. Mereka memutuskan untuk makan di restoran Jepang, sesuai permintaan Dina.
"Untung kamu hamil tidak terlalu berat ya? Biasanya kan orang hamil mengalami mual dan muntah. Kamu hanya merasa di awal saja," ujar Rian dan Dina menganggukkan kepalanya. Mungkin sang anak mengerti keadaan ibunya.
Setelah selesai makan, mereka melanjutkan kembali belanja. Kini mereka sudah berada di counter yang menjual kosmetik, Dina membeli satu paket lengkap kosmetik. Semua ini atas perintah dari Rian.
Satu persatu barang seserahan Dina pilih, sesuai yang dia suka. Tentunya yang harganya terjangkau. Di sudut tempat, sedang duduk seorang wanita yang kini sorot matanya menatap tajam ke arah Dina dan Rina. Tangannya sudah terlihat mengepalkan tangannya.
"Kamu itu selalu saja lebih unggul dari aku," umpat Mira.
Wanita itu Mira. Mira terlihat acak-acakan tak karuan. Pasalnya dirinya baru saja di pecat oleh perusahaan tempat dirinya bekerja. Pihak perusahaan tidak menerima karyawati yang sering kali tak masuk kerja. Semua ini karena Mira sibuk mengurus Nando sang suami, hingga membuat dirinya harus kehilangan pekerjaan. Mira berjalan cepat untuk segera menghampiri Dina.
"Hebat sekali kamu. Aku akui kalau kamu itu memang luar biasa, kamu selalu lebih unggul di atas aku. Namun, ternyata kamu tak lebih dari seorang wanita murahan. Apa Anda tak tahu, kalau wanita yang bersama Anda saat ini sedang hamil. Lebih gilanya, dia mengaku-ngaku kalau yang dia kandung adalah anak suami saya. Lebih baik Anda tinggalkan sebelum Anda menyesal di kemudian hari. Tampang saja yang cantik, tetapi hatinya sama seperti sampah," hina Mira.
"Sabar! Jangan kotori tangan kamu untuk melakukan hal itu! Cukup Allah nanti yang akan membalas semua perbuatan mereka kepada kamu," ujar Rian mengingatkan.
Kini giliran Mira yang kebakaran jenggot mendengar penuturan Rian. Dirinya merasa terhina, tidak terima. Sedangkan Rian justru menanggapi Mira dengan santai.
"Kata siapa saya tidak tahu, jika saat ini Dina sedang hamil. Justru saya ini yang bertanggung jawab, walaupun bukan saya yang melakukannya. Saya bukanlah suami Anda yang seorang pengecut. Yang hanya mau enaknya saja. Saya akan menikahi Dina, demi rasa cinta saya terhadapnya. Saya akan menerima dirinya apa adanya," ungkap Rian.
"Tutup mulut Anda! Jangan coba-coba ikut memfitnah suami saya. Kalian bisa saya tuntut, jika terbukti merusak nama baik suami saya. Karena saya yakin kalau suami saya tak akan melakukan perbuatan hina seperti itu. Saya yakin wanita itu hanya mengada-ngada saja. Mencari laki-laki yang mau menikahi dirinya," ucap Mira sombong.
__ADS_1
"Silahkan saja! Kita tunggu tanggal mainnya! Anda yang menang, atau kami," sahut Rian sinis.
Rian langsung menarik tangan Dina pergi meninggalkan Mira. Dia tak ingin Dina merasa stres atau tegang. Hal itu tak baik untuk kesehatan janin dalam kandungan Dina.
Mira merasa kesal karena Rian dan Dina pergi meninggalkan dirinya begitu saja. Padahal Mira sempat berteriak memanggil mereka. Namun, keduanya memilih untuk tetap melanjutkan langkahnya.
"Sabar ya Sayang! Biar Allah yang nantinya akan membalas perbuatan mereka yang setimpal," ujar Rian mencoba mengingatkan, dan akhirnya Dina menganggukkan kepalanya.
Memang benar yang dikatakan Rian, nanti biar Allah yang membalas semua perbuatan mereka. Dirinya hanya perlu bersabar, sampai menunggu saatnya tiba. Mira dan Nando berada di posisi terendah seperti dirinya.
"Orang seperti itu, karena dia iri sama kamu. Karena kamu selalu lebih unggul darinya," ujar Rian memberi pengertian kepada Dina. Dina hanya menganggukkan kepala sebagai tanda pengertian.
Tak selamanya kejahatan dengan sebuah kejahatan. Yakinlah jika Allah selalu bersama dengan orang-orang ya sabar. Biarkan saja orang berkata apa, yang penting kita tak seperti apa yang mereka pikirkan.
"Apa masih ada yang kamu inginkan?" tanya Rian.
Dina menggelengkan kepalanya, karena bagi dia semuanya sudah cukup. Dina tak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Justru dirinya menyadari siapa dirinya. Rian sudah sangat baik padanya.
"Yakin? Tak ada? Tak apa-apa , jika kamu masih ada yang ingin kamu beli," ujar Rian.
"Tidak! Aku rasa sudah cukup. Lagi pula aku sudah merasa lelah, ingin segera pulang," sahut Dina dan Rian akhirnya mengikuti keinginan Dina.
__ADS_1
Rian paling pintar memahami Dina. Baginya, seorang wanita sangat ingin dimengerti. Di sayangi dan harus di jaga perasaannya.