
"Tak biasanya jam segini istriku belum bangun," gumam Reza.
Mereka kini sudah kembali ke Indonesia, setelah mengunjungi Lima negara di Eropa. Reza sudah bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Sudah 10 hari lamanya dia melakukan perjalanan bulan madu dengan sang istri.
"Beb, aku berangkat dulu ya," ucap Reza lembut sambil mengelus punggung istrinya.
Perlahan Sania membuka matanya dan melihat suaminya yang sudah dalam keadaan rapi. Reza mengerutkan keningnya, saat melihat wajah istrinya yang terlihat pucat. Hingga akhirnya dia bertanya atas apa yang terjadi kepada istrinya.
"Sayang, kamu kenapa? Apa kamu sakit?" Tanya Reza.
"Kepala aku sedikit pusing, sepertinya aku masuk angin. Maaf aku bangunnya kesiangan, aku buatkan kamu sarapan dulu ya," ujar Sania yang bergegas langsung bangun.
Namun tiba-tiba Sania merasakan mual dan kepalanya seperti berputar-putar. Bahkan dirinya hampir saja terjatuh, membuat Reza merasa panik. Reza dan memapah sang istri ke ranjang.
"Kalau kamu masih tak enak badan, ya sudah tiduran saja lagi! Aku nanti sarapan di kantor saja. Aku tak apakan kerja?" ujar Reza.
Sania langsung menggelengkan kepalanya, membuat Reza bingung. Tak seperti biasanya sang istri bersikap manja kepadanya. Sang istri tak pernah sekali pun melarang dirinya ke kantor. Tentu saja hal itu membuat Reza merasa bingung. Namun dirinya berusaha berpikir positif, kalau apa yang dilakukan istrinya semata-mata ingin diperhatikan kalau dirinya sedang sakit.
"Ya sudah aku tak jadi berangkat bekerja. Aku menemani kamu lagi di apartemen," ujar Reza yang langsung membuka dasinya dan naik ke ranjang, tidur di sebelah istrinya.
__ADS_1
Reza langsung membawa sang istri dalam pelukan. Namun tiba-tiba saja, Sania merasakan mual. Hingga akhirnya dia langsung melepaskan pelukannya dan bergegas untuk ke kamar mandi.
Melihat sang istri yang terus muntah, tentu saja Reza merasa tak tega. Dia membantu sang istri dengan memijat tengkuk istrinya. Tubuh Sania terasa sangat lemas, keringat bercucuran membasahi wajahnya.
"Kita ke Dokter ya," ujar Reza. Namun Sania menggelengkan kepalanya, mengatakan kalau dirinya hanya butuh beristirahat dan nanti dirinya juga akan sembuh.
Akhirnya Reza mencoba membuat teh manis hangat untuk istrinya. Untungnya Reza bisa membuatnya. Ternyata Sania muntah kembali. Membuat Reza merasa kasihan. Reza memapah sang istri kembali ke tepi ranjang.
"Ayo minum dulu, biar tubuh kamu merasa hangat," titah Reza.
"Yang kamu rasa saat ini apa saja?" Tanya Reza kepada sang istri.
Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Reza sempat menawarkan sang istri untuk makan terlebih dahulu, tetapi Sania menolaknya. Hingga akhirnya mereka langsung ke rumah sakit. Kini mereka menunggu saatnya Sania di panggil.
Reza menceritakan atas apa yang di rasa istrinya kepada sang dokter.
"Apa Ibu Sania saat ini sedang mengandung?" Tanya sang dokter. Karena indikasi yang terjadi pada Sania, seperti orang yang sedang hamil.
"Tidak, Dok. Mungkin asam lambung saya meningkat," sahut Sania.
__ADS_1
"Sebaiknya diperiksakan dulu, biar lebih jelas semuanya. Saya rujuk ke poli obgyn ya Bu," ucap sang dokter. Saat ini Sania berada di poli umum.
"Semoga benar ya Beb, aku baru mendengarnya saja hati aku sudah merasa bahagia. Apalagi kalau hal itu benar terjadi, aku tak mampu lagi berkata-kata," ujar Reza.
Kini mereka sudah berada di poli obgyn, menunggu saatnya dipanggil. Sania tampak gelisah, dia takut kalau hasilnya akan mengecewakan suaminya. Kalau ternyata dirinya memang sedang sakit, bukan karena dirinya hamil.
"Coba Ibu berbaring dulu di ranjang," ucap sang dokter.
Dokter mulai melakukan pemeriksaan USG, dan benar saat ini Sania sedang hamil. Bahkan dirinya akan memiliki anak kembar. Karena terdapat dua kantung bayi. Tentu saja Reza merasa bahagia, dia spontan langsung memeluk tubuh istrinya erat. Meluapkan perasaannya.
Reza tampak antusias untuk menjadi suami dan ayah siaga. Hidupnya sebentar lagi akan sempurna. Sebagai hadiah untuk istrinya, Reza akan memberikan satu buah rumah beserta isinya. Karena Reza berpikir, lebih baik tinggal di rumah jika sudah memiliki anak.
"Saya akan menuliskan resep untuk Ibu. Di sini ada obat untuk pereda rasa mual, vitamin, dan juga penguat kandungan. Ingat Ibu jangan terlalu cape, dan jangan banyak melakukan adegan ranjang dulu ya Pak. Karena hal ini bisa menyebabkan resiko keguguran. Ibu harus banyak makan buah-buahan dan sayur-sayuran. Perbanyak juga minum air putih," pesan sang dokter.
"Baik Dok terima kasih informasinya. Oh ya, biasanya sampai usia berapa bulan ya Dok kami tidak melakukan hubungan suami istri? Tanya Reza membuat wajah Sania memerah.
"Sebaiknya di trimester pertama dikurangi. Boleh dilakukan, tetapi sebaiknya dikeluarkan di luar dan melakukannya harus sangat hati-hati," jelas sang dokter.
Kini mereka sedang menunggu obat di apotik, Reza terus menggenggam tangan istrinya. Terlihat Sania meletakkan kepalanya di bahu suaminya dan Reza terus mengelus punggung istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Makasih ya Beb, aku bahagia banget. Aku sayang banget sama kamu," ucap Reza. Reza memberikan kecupan di pucuk kepala istrinya, membuat Sania. merasa malu karena mereka menjadi pusat perhatian orang di sana.