Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Kedatangan Dina dan Al


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Din. Alhamdulillah Nando sudah sadar kembali, dan hari ini sudah di perbolehkan untuk pulang. Semua ini berkat doa kamu juga. Oh ya Din, Ibu bisa tidak meminta tolong lagi sama kamu? Nando ingin bertemu anaknya, kamu bisa ya wujudkan keinginan Nando. Dia juga 'kan ingin mengenal anaknya. Ibu sudah bilang sama dia, kalau kamu sudah melahirkan, dan anak kalian mirip sekali sama Nando," ungkap Ibu-nya Nando.


"Walaikumsalam, iya Bu. Nanti Dina usahakan ya. Alhamdulillah, kalau Nando sudah sadar. Semoga bisa segera sembuh, dan bisa beraktivitas normal kembali," ucap Dina dan diaminkan oleh Ibu-nya Nando.


Meskipun Sania menjadi korban kebeja*tan Nando, tetapi Ibu-nya Nando hanya memperhatikan Dina. Terlebih Dina sudah memberikan cucu untuknya. Bahkan dirinya berharap Dina pisah dengan suaminya dan kembali dengan Nando demi anak mereka.


"Mas, tadi siang Ibu-nya Nando menghubungi aku. Dia memberi tahu kalau saat ini, Nando sudah sadar kembali. Dia juga sudah diperbolehkan pulang ke rumah," ujar Dina membuka pembicaraan dengan suaminya.


Rian telah pulang dari kantor, dan saat ini sedang duduk santai di teras depan rumah bersama Dina. Sambil menikmati teh manis hangat. Inilah rutinitas yang sering kali Rian dan Dina lakukan. Sebisa mungkin mereka kerap menjaga komunikasi dengan baik. Agar tak pernah ada salah paham diantara mereka.


"Syukurlah. Alhamdulillah kalau begitu. Aku senang mendengarnya," sahut Rian.


"Mas, sebenarnya ada lagi yang ingin aku bicarakan sama Mas. Semoga Mas tak marah sama aku," ungkap Dina. Dina terlihat gugup, dia memainkan jari-jarinya untuk menutupi perasaan gugupnya.


"Katakanlah! Tak perlu kamu tutupi dari aku," ujar Rian.


Dina menceritakan kalau Ibunya Nando meminta dirinya untuk datang menemui Nando dan mempertemukan Baby Al dengan Ayahnya. Rian sempat terdiam, membuat Dina merasa tak enak hati.


"Ya sudah tak apa. Temui saja. Bagaimanapun Al 'kan anaknya. Sejahat apapun dia, Al tetap darah dagingnya. Tapi, kamu tak akan pernah kembali lagi 'kan sama dia? Nanti kamu tinggalkan aku. Secara kita 'kan belum menikah lagi sama kamu," ungkap Rian.


"Jika aku melakukan hal itu, berarti aku orang yang tak tahu diri. Kamu sudah baik sama aku, mencintai aku dengan tulus, dan menyayangi Aku dan Al. Masa iya aku lebih memilih laki-laki yang tak bertanggung jawab, bahkan saat ini tak bisa memberikan nafkah lahir batin untuk aku," sahut Dina.

__ADS_1


Ucapan istrinya, membuat Rian mengucap kata syukur. Rian akan menemani sang istri untuk menemui Nando. Sabtu ini mereka akan ke rumah Nando.


"Makasih ya Mas, hati kamu benar-benar mulia. Aku tak mungkin mengkhianati kamu," ujar Dina yang langsung memeluk tubuh suaminya dengan mesra.


"Jangan seperti ini, nanti kalau si kecil bangun gimana," ujar Rian dengan ekspresi datar.


"Al bobo kok Mas, lagian aku 'kan cuma memeluk kamu bukan teriak-teriak," sahut Dina dengan polosnya membuat Rian terbahak-bahak.


"Ih, kamu kok malah tertawa bahagia banget sih," sindir Dina. Membuat dirinya bingung.


"Pantas saja kamu bisa di bodoh-bodohin si breng*sek. Kamu itu terlalu lugu sayang. Maksud aku si kecil yang di bawah ini," ujar Rian sambil menunjukkan miliknya.


"Wajar dong, namanya aku laki-laki normal. Aku 'kan laki-laki dewasa, pastinya memiliki hasrat. Selama ini aku di suruh puasa terus. Kamu masih lama? Aku sudah tak sabar ingin segera nikah sama kamu," ungkap Rian.


Memang benar yang dikatakan suaminya, meskipun mereka sudah lama menjadi pasangan suami istri. Mereka belum pernah sekalipun melakukan hubungan suami istri. Rian lulus menahan hasratnya, sampai mereka dah melakukannya.


Hari ini Dina dan Baby Al akan datang menemui Nando. Dina tak ingin egois, bagaimanapun Nando ayah dari Al. Walaupun Nando dulu menolak kehadapan Al. Namun, Dina berusaha untuk mempertahankannya. Rian pun ikut mendampingi sang istri. Dia tak akan membiarkan Dina datang sendiri menemui Nando.


Kini mereka sudah sampai di rumah Nando, dan langsung di sambut oleh orang tua Nando. Rian ikut mendampingi sang istri hingga ke dalam. Mereka diantarkan oleh ibunya Nando ke kamar Nando.


"Nan, ini Dina sama Al datang," ujar sang mama yang membangunkan sang anak yang sedang tertidur.

__ADS_1


Nando perlahan membuka matanya dan melihat Dina dan sang anak sudah berada di hadapannya. Air mata Nando menetes satu persatu saat melihat wajah sang anak yang sangat mirip dengannya. Namun sangat anak justru menangis, tak ingin di ambil dari gendongan sang bunda. Padahal selama ini Al tak pernah memilih jika digendong oleh siapa pun. Hingga akhirnya Dina tak jadi memberikannya kepada ibunya Nando.


"Makasih ya Din, karena kamu sudah memaafkan kesalahan aku dan mau mempertahankan anak kita. Aku menyesali semua perbuatan aku dulu. Jika aku dulu bertanggung jawab, pasti kita sudah hidup bahagia bersama anak kita. Aku memang pecundang. Padahal aku cinta banget sama kamu, tetapi aku tak mempertahankan kamu di hidup aku," ungkap Nando diiringi isak tangis. Tangis sebuah penyesalan. Karena melihat orang yang dia cintai sudah menjadi milik orang lain dan hidup bahagia.


"Yang lalu biarlah berlalu. Berarti kita tak berjodoh. Sekuat apapun kita untuk bertahan, pada akhirnya kita berpisah juga. Sudah tak perlu di bahas lagi, semua telah terjadi tak akan kembali lagi seperti dulu. Al sudah memiliki Papa yang begitu menyayangi dirinya sejak dirinya dalam kandungan aku. Namun, aku juga tak akan menghilangkannya. Kalau kamu adalah ayahnya, ayah kandungnya. Aku sudah hidup bahagia dengan suamiku," ujar Dina.


Nyes!


Kini giliran dirinya merasa sakit hati. Dirinya saat ini merasakan seperti yang Nando katakan dulu, saat Dina menghampiri dia di malam pertama dirinya menjadi suami dari Mira. Dimana dia mengatakan, kalau dirinya sudah memilih Mira. Wanita yang dia cintai, dan sudah berkata dirinya sudah hidup bahagia dengan Mira.


Menyesal pun tak ada gunanya, karena semuanya tak akan pernah kembali seperti dulu lagi. Nando telah menorehkan luka di hati Dina.


"Oh ya, kamu kok tega banget si memper*kosa Sania. Dia 'kan tak salah apa-apa. Mengapa kamu melampiaskan ke dia. Tobat Nan, kamu banyak melakukan dosa besar," ujar Dina, membuat Nando teringat sosok Sania.


"Iya, aku menyesal. Aku khilaf saat itu, merasa kesal karena dia tak mau memberikan alamat rumah kamu. Terus gimana keadaan dia sekarang? Apa dia hamil juga anak aku?" Tanya Nando.


Dina menceritakan kalau saat ini Sania pun sudah hidup bahagia dengan suaminya. Dina mengatakan kalau Sania telah menikah dengan seorang pengusaha hebat. Untungnya Sania tak hamil.


Sambil menunggu up, mampir yuk di karya yang keren😍


__ADS_1


__ADS_2