Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Calon suami Siaga


__ADS_3

Dina dan Rian menjadi trending topik di kantor. Pasalnya mereka berdua tak masuk dengan kompak setelah kejadian Dina pingsan dan Rian menolongnya. Teman-teman kantornya tahu kalau Dina harus menjalani perawatan intensif di kantor. Sedangkan Rian entah kemana.


"Alhamdulillah kamu sudah boleh pulang. Ingat walaupun Dokter mengatakan kamu sudah sehat, kamu tetap harus berhati-hati, dan jangan lupa makan yang banyak agar tubuh kamu kuat dan dede di perut sehat," ujar Rian dan Dina menganggukkan kepalanya.


Dina tersenyum kala melihat Rian yang begitu perhatian kepadanya. Semua masih terasa seperti sebuah mimpi. Atasannya begitu baik dan perhatian kepadanya, padahal bayi yang dia kandung bukan anak Rian.


"Ayo kita pulang sekarang," ujar Rian.


Semua administrasi sudah Rian urus, dan perlengkapan Dina sudah dia rapikan. Rian menggandeng tangan Dina, dia khawatir Dina masih merasa lemas. Apa yang dilakukan Rian hanya bentuk perhatiannya. Semua yang Rian lakukan tulus apa adanya, bukan sekedar napsu.


Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang. Suasana terasa hening. Tak ada yang memulai pembicaraan lebih dahulu. Rencananya, Rian akan langsung menemui orang tuanya. Dia ingin segera menikahi Dina, khawatir perut Dina nantinya yang semakin membesar.


"Silahkan masuk,Pak! Maaf kontrakannya hanya sederhana," ucap Dina yang mempersilahkan Rian untuk masuk ke dalam.


"Sudah berapa kali aku katakan, mulai sekarang kamu memanggil aku dengan panggilan istimewa. Kalau di kantor ok 'lah tak masalah, tetapi saat sedang berdua aku ingin kamu memanggil Sayang, honey, atau panggilan khusus lainnya seperti yang aku lakukan kepada kamu," cerocos Rian. Mau tak mau Dina harus menurutinya. Dina bersyukur karena masih ada laki-laki yang tulus mencintai dirinya, dan mau menerima dia apa adanya.


Sebelum pulang, Rian memesan makanan terlebih dahulu untuk Dina makan nanti. Rian membuktikan menjadi calon suami yang baik. Suasana sempat terasa hening. Mereka sibuk dengan pemikirannya sendiri. Hingga akhirnya Rian yang memulai pembicaraan.


"Boleh aku nanya sesuatu?" tanya Rian dan Dina pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Mungkin pertanyaan aku ini sangat pribadi, aku hanya ingin sekedar tahu lebih jelas. Kamu melakukannya dengan di paksa apa suka sama suka? Maaf ya, aku soalnya masih tak habis pikir kok kamu bisa seperti itu. Selama ini yang aku kenal, kamu itu wanita yang baik dan selalu berpakaian sopan," ujar Rian.


Dina langsung menjawab dengan diiringi isakan tangis. Mereka melakukan atas dasar suka sama suka. Walaupun awalnya Nando memang memaksanya, dan berjanji akan menikahi dirinya meskipun tanpa restu orang tua Nando. Hingga akhirnya Dina terlena dengan ucapan Nando.


"Ya sudah tidak perlu di sesali, nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terjadi, dan tak akan bisa kembali seperti semula. Maaf jika ucapan aku membuat kamu sedih dan teringat, aku hanya ingin memastikan. Adakah tindak pemerko*saan di kasus ini," ungkap Rian sambil mengelus punggung Dina lembut.


Obrolan mereka terhenti, saat makanan mereka datang. Rian memesan makanan agak banyak. Sekalian untuk Dina nanti malam. Rian tak mengizinkan Dina untuk pergi keluar, karena dia merasa khawatir kalau nanti terjadi sesuatu dengan Dina disaat dirinya tak ada.


"Boleh aku memanggil Mas?" tanya Dina dan Rian memperbolehkan. Justru Rian merasa senang.


Dina mengambil dua buah piring untuk dirinya dan juga Rian. Menu mereka kali ini nasi padang, sesuai permintaan Dina. Namun, belum sempat menyuap Dina sudah mual dan akhirnya berlari ke kamar mandi untuk muntah. Dina merasa tak enak, karena merusak momen untuk mereka makan bersama.


"Sudah Mas, biar aku sendiri saja. Mas makan saja. Maaf, karena telah mengganggu momen makan Mas dengan enak," ucap Dina.


"Aku tak masalah kok. Memangnya kamu sengaja, semua itu kan alami begitu saja. Aku ingin menjadi calon suami siaga. Apa kamu sudah merasa enakan setelah muntah? Kamu tetap harus makan, meskipun hanya sedikit," ujar Rian.


"Iya Mas, nanti aku makan. Perut aku masih mual. Mas bisa bantu aku pakaikan minyak angin ke punggung aku tidak? Aku kesulitan memakainya," sahut Dina.


Rian menelan salivanya saat Dina mengangkat dressnya untuk memakaikan perutnya minyak angin agar perutnya terasa hangat. Rian terpaksa membuka resleting baju Dina guna membalurkan minyak angin di sekujur punggung Dina. Menunjukkan punggung putih mulusnya. Tubuh Dina sangat lembut saat disentuh Rian.

__ADS_1


Rian terlihat panas dingin. Bagaimana pun dia laki-laki normal. Memiliki hasrat, melihat tubuh Dina yang begitu menggoda. Juniornya sudah mulai mengeras di balik celana. Namun, sebisa mungkin dirinya tak akan menggauli Dina sampai Dina melahirkan.


"Sudah, Mas?" tanya Dina yang merasa Rian terdiam. Bahkan Dina harus memanggil-manggil berkali-kali menyadarkan Rian.


"Eh-emm-eh-iya." Rian terdengar gugup, gelagapan. Dirinya langsung buru-buru menaikan resleting dress Dina lagi. Dia tak ingin semakin menggila, hingga membuat dia akhirnya menerkam Dina. Lalu apa bedanya dia sama Nando kalau melakukan hal yang sama?


Akhirnya Rian berusaha mengalihkan pembicaraan. Rian menanyakan kepada Dina ingin makan apa. Rian akan membelikan Dina, sebelum dirinya pamit pulang. Rian pun menjadi tak nap*su makan.


"Em, anu-itu. Aku boleh tidak kalau aku ingin rujak yang dipinggir jalan tadi," ujar Dina dengan malu-malu.. Sebenarnya dia merasa tak enak meminta kepada Rian, tetapi dia sangat menginginkannya.


"Ada lagi? Biar sekalian aku beliin juga," tanya Rian. Setau Rian, wanita hamil memiliki keinginan ngidam sesuatu. Dina mengatakan tidak. Dia hanya menginginkan rujak.


Akhirnya Rian pergi meninggalkan Dina, sekalian dia ingin menghirup udara luar. Napasnya terasa sesak, kala berada di posisi itu. Setelah dia mewujudkan keinginan Dina, Rian berniat untuk pamit. Dia tak ingin berlama-lama di kosan Dina. Rian takut tak mampu mengendalikan hasratnya. Jika dua orang berbeda jenis kelamin bersama dalam satu tempat, maka ketiganya adalah setan.


"Ini rujaknya. Tapi makan dulu ya meskipun dikit, nanti kamu sakit," ujar Rian.


"Apa perlu aku suapin? Yang, aku lihat kondisi kamu kayanya lemah. Sebaiknya kamu besok istirahat lagi saja, kalau sudah merasa enak baru kerja," ujar Rian. Rian selalu memperlakukan Dina sangat lembut.


Namun, Dina merasa tak enak kalau dirinya lama-lama tak masuk kerja. Kerjaannya bisa terbengkalai. Dia sangat membutuhkan pekerjaan, walaupun dia menikah nanti sama Rian. Tak menjadi alasan untuk dia berpangku tangan, bergantung dengan Rian.

__ADS_1


__ADS_2