
"Sayang, wajah kamu kok terlihat pucat? Apa kamu sedang merasa tak enak badan? Ya sudah, selepas aku berangkat bekerja. Kamu istirahat saja dulu, Al biar sama si Bibi saja dulu," ucap Rian kepada sang istri.
"Al, kamu mainnya sama Bibi dulu ya! Biar Bunda bisa istirahat dulu!" titah Rian kepada sang anak dan Al mengiyakan ucapan sang ayah.
"Iya. Mungkin aku sedang masuk angin. Nanti juga sembuh," sahut Dina. Bagaimana tidak, hampir setiap malam dia tertidur tidak memakai baju karena ulah suaminya.
Untungnya Al mengerti, dia tak lagi tidur bersama bunda dan ayahnya. Al sekarang sudah berani tidur sendiri. Al memiliki sifat dewasa dari anak seusianya, yang masih bersikap manja dan rewel.
Namun, baru saja Rian hendak memasuki mobil, Dina mengalami mual dan kepalanya tiba-tiba saja terasa pusing. Dina berlari untuk segera sampai ke kamar mandi.
Melihat istrinya seperti itu, tentu saja Rian menjadi panik. Dia langsung memilih merapihkan mobilnya kembali, dan segera menghampiri sang istri.
"Bi, tolong buatkan teh tawar hangat ya untuk Ibu!" titah Rian.
Rian langsung membopong sang istri yang sudah terlihat lemas, karena memuntahkan seluruh isi perutnya. Wajah Dina terlihat bertambah pucat, dan keringat bercucuran.
__ADS_1
"Sayang, kita ke dokter yuk! Aku tak tega melihat kamu seperti itu," ucap Rian.
"Bu, apa Ibu saat ini sedang hamil? Biasanya, wanita hamil kerap mengalami mual dan muntah," ujar Bi Surti sang ART yang bekerja di rumahnya.
Rian dan Dina sama-sama saling menatap. Mencoba berpikir dengan apa yang diucapkan sang ART. Dina mencoba mengingat-ingat terakhir kali dirinya datang bulan setelah dirinya tidak lagi menggunakan KB.
"Sayang, apa benar yang dikatakan Bi Surti? Jangan-jangan kamu benar sedang hamil. Bukannya waktu hamil Al, kamu juga mengalami mual dan muntah?" tanya Rian kepada istrinya.
Hingga akhirnya, Rian memutuskan pergi ke minimarket yang tak jauh dari rumahnya dengan menggunakan sepeda motornya. Untuk membeli testpack untuk istrinya.
Ini adalah hal kedua kalinya Dina melakukan hal ini. Dina teringat akan kejadian tiga tahun lalu, dimana dia merasakan luka yang mendalam. Mantan kekasihnya tak bertanggung jawab dengan kehamilannya, dan bahkan menuduh dirinya bermain dengan laki-laki lain.
Air matanya jatuh satu persatu mulai membasahi wajahnya. Kini terulang kembali, testpack menunjukkan dua garis merah. Ya, saat ini dirinya benar sedang hamil. Namun, kali ini ceritanya berbeda. kehamilannya saat ini, sangat di nanti-nanti.
"Yang, aku benar hamil," ucap Dina sambil menunjukkan testpack yang menunjukkan dua garis merah.
__ADS_1
Mendengar istrinya hamil, tentu saja Rian merasa bahagia. Dia langsung memeluk tubuh istrinya. Dirinya merasa bahagia, karena Allah telah mengabulkan doanya untuk memberikan keturunan untuknya.
"Terima kasih, Sayang. Aku sangat bahagia. Aku mencintaimu," ucap Rian dan tak lupa melabuhkan kecupan di kening istrinya dengan lembut.
"Kehamilan aku kali ini, aku merasa sangat bahagia. Terima kasih y Allah, engkau telah memberikan kebahagiaan yang luar biasa biasa kepadaku. Suami yang begitu mencintai aku dan anak-anak yang selalu membuat aku semakin bersemangat," ucap Dina dalam hati.
Untuk memastikan lebih jelas, Rian mengajak sang istri untuk memeriksakan kandungnya ke dokter. Dina yakin, perhatian suaminya pasti lebih kepadanya. Saat dirinya hamil Al, Rian begitu menyayangi dan perhatiaan kepadanya, apalagi saat ini dirinya mengandung anak Rian.
Dina dan Rian sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit, tetapi mereka tak membawa Al. Mereka menitipkan Al kepada Bi Surti. Untungnya Al mengerti. Dia lebih asyik bermain laptop, untuk membuat program game online.
Rona bahagia terpancar di wajah keduanya. Inilah saat yang di nanti-nantinya. Terlebih Rian, yang sejak dulu sangat menginginkan anak.
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya bestieku😍
__ADS_1