Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Memilih pergi


__ADS_3

Bayangan apa yang telah di perbuat Nando kepadanya, membuat hari-hari Sania diliputi perasaan trauma. Sungguh hal ini tak pernah dia inginkan di hidupnya. Hatinya terasa hancur. Harapannya sirna sudah. Dia tak menyangka nasibnya lebih menderita dari sahabatnya.


"Hidupku telah hancur. Akankah ada laki-laki yang tulus mencintai aku, dalam kondisi aku hina seperti ini? Yang mau menerima aku seperti Pak Rian yang menerima Dina apa adanya," ucap Sania lirih diiringi isak tangis.


Sania memutuskan untuk pergi meninggalkan kosan dia sebelumnya. Dia memutuskan untuk pergi meninggalkan Nando, meskipun kelak dirinya akan hamil anak Nando.


"Jika kamu benar-benar mencintai aku, mungkin aku memilih untuk tetap bertahan di sini. Tapi sayangnya kamu tak mencintai aku, yang kamu cinta hanya Dina."


Sania telah selesai membereskan barang-barang yang akan dia bawa. Dadanya terasa sesak. Air matanya terus menetes mengiringi kepergiannya.


Setiap pertemuan pasti ada perpisahan,


Cepat atau lambat pepatah ini akan terjadi pada siapapun, termasuk aku.


Iya, tentu ada air mata, tentu saja ada semilir duka.


Tapi aku yakin semua ini akan terlewati dan kembali akan baik-baik saja.


Memang semua tak lagi sama, tapi percayalah, ini yang terbaik.


Sania memutuskan untuk pindah ke daerah lain, menghilang dari Nando. Dia memilih untuk tidak. Memperpanjang masalah ini, karena dia memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Nando. Percuma saja dia meminta tanggung jawab, kalau Nando tak mencintai dirinya. Nando mencintai Dina saja, dia tega meninggalkan Dina. Padahal saat itu Dina tengah hamil anaknya. Bagi Sania, ini adalah keputusan yang terbaik untuknya.


Kedua orang Mira hanya bisa pasrah terhadap nasib anaknya. Dia sudah berusaha meminta Nando untuk tetap mempertahankan pernikahannya dengan sang anak. Namun, keputusan tetap pada Nando.

__ADS_1


"Dari mana saja kamu?" tanya Mira ketus.


" Itu bukan urusan kamu, suka-suka aku dong mau pergi ke mana," sahut Nando tak kalah ketus.


"Apa kamu bilang? Ini bukan menjadi urusan aku? Apa kamu tak sadar, kalau aku ini masih istri kamu Wajar saja jika aku berkata seperti itu," cerocos Mira.


Hal itu membuat Nando merasa kesal. Nando sudah menatap Mira dengan tatapan tajam. Dia merasa jenuh berada di posisi seperti saat itu.


"Mira Anandita, aku talak kamu! Mulai detik ini kamu bukanlah istri aku lagi. Aku ingin bercerai dari kamu," ujar Nando melakukan talak kepada Mira. Air mata Mira jatuh satu persatu dari pelupuk matanya.


"Tidak! Aku tak mau! Kamu benar-benar laki-laki yang tega. Dalam kondisi aku seperti ini, kamu tega meninggalkan aku. Dimana perasaan kamu? Apa kamu tak memiliki hati dan perasaan? Ataukah kamu itu bukan seorang manusia, tetapi kamu seorang iblis," ujar Mira. Dia merasa tak terima, diceraikan Nando.


"Sudahlah terima saja! Kamu mau atau tidak, kamu tak bisa menolaknya! Keputusan ada di tangan aku, lebih baik kamu sekarang bereskan barang-barang kamu! Aku akan mengurus perceraian kita," sahut Nando, membuat Mira tak mampu berkata-kata lagi. Air mata tak mampu membuat mantan suaminya kembali dan menarik ucapannya lagi.


Sekeras apapun manusia berusaha, jika pasangan kita bukanlah jodoh kita. Maka kita harus mengikhlaskannya. Takdir tak akan pernah menyatukan kita. Kita tak akan pernah bisa bersatu. Meskipun Mira berusaha merebut dan memisahkan Nando dengan Dina, tetapi takdir berkata lain. Rumah tangga yang baru dia jalani, harus kandas di tengah jalan. Keinginan dirinya untuk hidup bahagia dengan laki-laki pujaannya, musnah sudah. Cinta tak berpihak dengannya.


Sania baru saja sampai di daerah yang sama, dia berdoa agar dirinya tak pernah di pertemukan kembali dengan Nando. Sania telah menutup kenangan buruk dengan Nando.


"Semoga kamu tak pernah hadir di kandungan aku, aku tak ingin kamu menjadi korban. Karena aku tak akan perah menikah dengan ayah kamu," Sania bermonolog dengan hatinya.


Rencananya besok Sania akan mencari pekerjaan baru dengan bermodalkan ijazah dan pengalaman kerja yang dia milik. Dia berharap segera mendapatkan pekerjaan untuk melanjutkan hidupnya. Dia tak ingin menyusahkan sang Ibu yang menjadi single parents.


"Semoga aku bisa segera mendapatkan pekerjaan," ucap Sania. Sania memutuskan untuk beristirahat, mempersiapkan dirinya untuk besok.

__ADS_1


Nando berniat menemui Sania setelah pulang bekerja. Sebelum dirinya bisa kembali dengan Dina, dia berniat memanfaatkan Sania sebagai pelampiasan nap*sunya. Nando berniat menggunakan pengaman saat berhubungan intim dengan Sania. Dia tak ingin memiliki anak kembali, karena dia berniat ingin merebut kembali dari Rian.


"Sudah cepat kamu pergi dari sini, aku ingin segera berangkat bekerja!" ujar Nando.


Nando langsung menyeret koper yang berisi barang-barang Mira dan melemparnya keluar. Mengusir Mira seperti sebuah sampah yang dia buang begitu saja. Dia tak peduli dengan ucapan Mira yang terus memohon untuk kembali kepadanya.


"Maaf aku tak ingin resiko memiliki istri yang penyakitan. Keputusan aku sudah bulat untuk bercerai," sahut Nando.


"Sudah tak ada tapi-tapi lagi, lebih baik kamu pergi sekarang! Aku tak ada waktu untuk melayani hal yang tak penting, aku harus bekerja. Untuk urusan perceraian, nanti aku yang akan mengurusnya. Kamu tak perlu memikirkan," ujar Nando dengan santainya. Sakit, itulah yang dirasakan Mira saat itu. Diceraikan dalam kondisi sakit.


"Huhft, satu persatu masalah selesai. Buat apa juga aku mempertahankan wanita yang tak ada gunanya, tak menguntungkan bagi aku," ujar Nando dalam hati. Hatinya sudah merasa lega, karena dirinya sudah menceraikan Mira. Kini dirinya tinggal memaksa Sania untuk memberitahu tentang keberadaan Dina. Nando berniat untuk menemui Dina dan meminta Dina untuk kembali kepadanya.


Nando tampak bahagia, karena dirinya akan menemui Sania. Nando berniat mengajak Sania untuk tinggal bersamanya, tetapi dirinya tak berniat menikahi Sania. Sania hanya dia jadikan tempat pelampiasan hasratnya. Dia mengira kalau Sania masih berada di kosan yang lama, tak pergi meninggalkan dirinya. Kini Nando baru saja sampai di kosan Sania. Dia langsung memarkirkan motornya untuk menuju kamar kos Sania.


"Kemana dia? Mengapa sepi? Apa dia belum pulang," gumam Nando. Nando sempat menunggu Sania di depan teras kosan Sania. Sudah 30 menit lamanya dia menunggu, tetapi Sania tak kunjung datang. Hingga akhirnya Nando berniat menemui penjaga kosan. Untuk menanyakan tentang Sania.


"Maaf Kang, mau tanya. Sania belum pulang ya," ujar Nando kepada sang penjaga kosan.


"Oh Neng Sania. Kalau Neng Sania sudah pindah, tak ngekos di sini lagi. Semalam dia pamit pindah," ujar sang penjaga kosan.


Jedar!


"Apa? Pindah? Pindah kemana Kang?" tanya Nando menyelidik. Namun sayangnya sang penjaga kosan tak mengetahui kemana Sania pindah, hingga membuat Nando kehilangan jejak Sania.

__ADS_1


Sambil menunggu up, mampir yuk d karya bestieku😍



__ADS_2