
"Apa semuanya sudah selesai disiapkan? Besok kita akan naik pesawat jam 9 pagi," ujar Reza kepada sang istri.
Reza berharap, saat pulang berbulan madu nanti mereka mendapatkan kabar gembira. Menghapus kenangan buruk tentang pernikahan, bahkan Reza sudah berniat dalam hati. Cukup dirinya saja yang merasakan betapa hancurnya dia saat kedua orang tuanya harus berpisah. Pengalaman berharga adalah guru terbaik untuknya. Kelak dirinya bertekad untuk menjadi Papi dan juga suami yang baik untuk keluarga.
Sania tampak bahagia, menikmati perjalanan ini. Ini adalah pengalaman pertama baginya, merasakan naik pesawat. Saat dirinya menikah dengan Reza, semua bisa dia rasakan. Sania merasa hidupnya begitu beruntung, setelah penderitaan yang dia rasakan sebelumnya.
"Apa kamu bahagia?" Tanya Reza dan Sania menganggukkan kepalanya. Bahkan rasa ini melebihi kata bahagia.
"Terima kasih untuk semuanya," ucap Sania sambil membubuhi kecupan di pipi suaminya.
"Semua ini aku lakukan karena aku mencintai kamu," sahut Reza. Membuat Sania tersenyum. Sania menyandarkan kepalanya di bahu Reza, dan Reza menggenggam tangan istrinya sangat erat.
Tanpa sepengetahuan sang istri, Reza telah menyiapkan beberapa surprise untuk sang istri. Mulai dari kamar hotel yang di hias seromantis mungkin, saat makan malam. Reza berniat memberikan satu set berlian untuk istrinya. Tujuan mereka pertama yaitu Negara Inggris. Mereka akan berada di sana selama dua hari, setelah itu mereka akan melanjutkan kembali perjalanan. Reza akan membawa sang istri ke beberapa negara.
Reza tersenyum kala melihat sang istri yang tertidur pulas. Selama ini dirinya berkeliling dunia dengan di temani wanita-wanita jala*ngnya. Saat ini sangatlah berbeda, di dampingi istri tercinta.
"Semoga aku tak pernah bertemu dengan Priska atau pun Sella," ucap Reza bermonolog dalam hati. Dia tak ingin bulan madunya terganggu, meskipun dirinya sudah berkata jujur dengan Sania.
"Beb, bangun yuk! Kita sudah sampai, nanti lanjut lagi di hotel tidurnya," ujar Reza yang membangunkan sang istri.
Sania perlahan membuka matanya, dan merenggangkan tubuhnya. Bagi Reza, istrinya sangat menggemaskan. Tak ada yang lebih bahagia, melebihi perasaannya saat ini. Sania tetap terlihat cantik, meskipun tak berdandan berlebihan.
Reza menggandeng tangan istrinya dengan mesra. Mereka langsung di sambut seperti seorang Sultan. Sania begitu tersanjung karena bisa menikah dengan Reza, yang notabenenya orang kaya raya.
Sania menutup mulutnya, tak percaya. Sania begitu terharu, sampai-sampai dirinya meneteskan air matanya. Dirinya terkejut saat mendapatkan kejutan dari sang suami.
__ADS_1
"So sweet banget si kamu Beb, thanks ya," ujar Sania. Kamar mereka sangat mewah dan luas. Layaknya kamar seorang Sultan. Suaminya bukanlah orang yang sembarangan.
"Semua itu aku lakukan demi kamu," ucap Reza sambil melingkarkan tangannya di perut istrinya.
Reza memutar tubuh istrinya dan kini posisi mereka saling berhadapan. Netra mereka saling bertemu. Tangan Reza kini melingkar di pinggang istrinya.
"Semoga cinta kita abadi sampai kapan pun, aku ingin menua bersama kamu. Hidup bersama kamu dan anak-anak kita kelak," ungkap Reza, membuat Sania merasa terharu atas ucapan suaminya.
Bahkan hal itu membuat Sania meneteskan air matanya. Tak pernah terbayang olehnya, jika dirinya dulu tak mengambil keputusan untuk meninggalkan Nando, dan berharap lebih dari seorang Nando. Namun, Allah justru memiliki sebuah rencana yang begitu indah untuknya.
Reza langsung menggendong tubuh istrinya ala bridal style ke kamar mandi. Satu persatu pakaian mereka sudah terlepas. Mereka akan berendam di air yang berisi kelopak mawar berwarna merah. Sania hanya pasrah mengikuti permintaan suaminya. Suaminya sangat pintar membuat dia terpuaskan, membuat Sania hanyut dalam permainan suaminya.
"Kita istirahat dulu ya, setelah itu kita bersiap-siap untuk makan," ujar Reza dan Sania hanya menganggukkan kepalanya.
"Kita makan dulu yuk," ajak Reza. Padahal saat itu mata Sania sudah mau terpejam.
"Aku ingin mengajak kamu ke tempat yang spesial," ungkap Reza. Hingga akhirnya Sania terpaksa membuka matanya dan bangun untuk bersiap-siap pergi.
Lagi-lagi Sania diberi kejutan lagi oleh suaminya. Restoran tempat mereka akan makan, sudah di hias dengan lilin-lilin bertuliskan I Love you My Wife. Bukan itu saja, Reza pun berjongkok dan meraih tangan istrinya. Setelah itu dirinya langsung memakaikan cincin, di jari manis sebelah kiri istrinya.
Mata Sania tampak berbinar-binar, saat melihat satu set perhiasan bermatakan berlian. Namun bukan hanya itu saja yang membuat Sania bahagia, surprise yang dilakukan suaminya justru melebihi berlian.
Mereka kini menikmati makan bersama. Dengan telaten Reza mengajarkan sang istri table manner. Reza tampak cuek, meskipun saat ini mereka menjadi pusat perhatian kaum elite yang mengunjungi restoran tersebut. Wajah Sania terlihat memerah, dia merasa malu.
"Tak perlu dilihat, anggap saja kita di sini hanya berdua! Apa bedanya kita dengan mereka? Aku sama-sama membayar seperti mereka," bisik Reza memberi semangat kepada sang istri. Akhirnya Sania menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Ternyata ada sepasang mata yang melihat gerak gerik Reza yang asyik mengajarkan istrinya. Bahkan wanita itu tampak tertawa, menertawakan Sania yang seperti orang kampung. Dia tak menyangka kalau selera Reza rendahan.
"Aku ke toilet dulu ya Beb," ujar Reza. Sejak tadi dirinya mencoba menahan untuk buang air kecil.
Reza langsung bergegas ke kamar mandi, karena sudah tak tahan. Namun, dirinya terkejut saat keluar dari toilet dan mendapati Sella yang sudah berdiri di hadapannya.
"Lo gila Sel? Ini toilet cowok, ngapain lo di sini," umpat Reza.
Bukannya pergi, Sella justru berjalan mendekati Reza. Hingga Reza terbentur tembok.
"Kita main di sini yuk, aku merindukan kamu Rez," ujar Sella.
"Minggir, gue sudah tak ada urusan lagi dengan lo! Gue sudah menikah, Sel! Gue sudah insyaf, tak akan gila seperti dulu lagi! Ya sudah gue balik ya, jangan pernah temuin gue kalau lo berniat macam-macam," ujar Reza membuat Sella merasa kesal.
"Jika lo membutuhkan gue, temuin gue di sini! Gue siap melayani lo kapan pun, gue merindukan lo," ungkap Sella sambil memberikan secarik kertas bertuliskan alamat dirinya.
Reza langsung merobeknya di depan mata kepala Sella.
"Gue tak butuh ini, karena semua sudah gue dapatkan dari istri gue," ucap Reza.
"Gue tak menyangka kalau selera lo rendahan banget. Seorang pemilik perusahaan, eksekutif muda, dengan bodohnya memilih wanita kampungan seperti itu," sindir Sella. Membuat Reza naik pitam, hingga akhirnya dia melayangkan tamparan di wajah Sella.
"Jaga mulut lo! Jangan pernah hina istri gue! Dia itu lebih berharga, dibandingkan lo," ujar Reza.
Reza langsung pergi meninggalkan Sella, yang saat itu masih merasa kesal. Reza mencoba menutupi perasaannya saat itu. Untungnya Sania telah selesai makan, mereka bisa langsung pulang.
__ADS_1