Ternyata Aku Hamil

Ternyata Aku Hamil
Menjalankan kehidupan sebagai pasangan suami istri


__ADS_3

"Bu, Pak, Aku sama Dina pamit untuk pulang. Rencananya kami akan mampir dulu semalam menginap di Yogyakarta, sebelum kami pulang ke Jakarta," ucap Rian saat sarapan pagi bersama.


"Ya Nak, Rian. Ibu dan Bapak minta tolong sama kamu. Ibu dan Bapak titip Dina, tolong kamu jaga Dina dengan baik! Jika kamu merasa bosan dan tak menginginkan anak kami lagi, jangan sakiti hatinya! Lebih baik kalian kembalikan kepada kami. Dina adalah harta berharga kami," ungkap Ibu Lina.


"InsyaAllah. Hal itu tak akan terjadi. Dari awal saya sudah berniat ingin menjalani hubungan pernikahan dengan langgeng. Menua bersama. Saya tak berniat main-main, saya memang mencintai Dina," sahut Rian dengan tegas.


Hal itu membuat Dina tersenyum bahagia. Wajahnya terlihat memerah menahan perasaan malu, karena kedua orang tuanya kini memandang dirinya.


"Syukurlah jika seperti itu. Ibu sangat senang mendengarnya," ucap Ibu Lina.


Kini Rian dan Dina terlihat sudah siap untuk berangkat. Dina mencium tangan kedua orang tuanya dulu secara bergantian. Rian pun mengikutinya. Mereka meminta doa dan restunya, untuk memulai menjalankan kehidupan baru menjadi pasangan suami istri.


"Hati-hati di jalan! Tak usah mengebut," pesan Bapak-nya Dina.


Ada seberkas kesedihan tergambar di wajah sang Ibu, saat melepas kepergian Dina. Ibu Lina merasa khawatir, jika nantinya sang anak akan tersakiti. Ketakutan menghantui dirinya, dia takut kalau keluarga Rian tak menerima sang anak.


Dina terlihat menatap wajah laki-laki yang berada di sebelahnya. Jujur, semenjak dirinya resmi menjadi pasangan suami istri dirinya justru merasa canggung.


"Kenapa?" tanya Rian dan Dina hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa ada yang mengganjal di hati kamu? Katakanlah!"

__ADS_1


Dina enggan bicara karena dirinya pun tak tahu apa yang terjadi dengan perasaannya saat ini.


"Mulai sekarang! Apa yang kamu rasa, lebih baik kamu katakan! Tak baik jika disimpan dalam hati sendiri. Aku pun biar tahu, apa yang kamu rasa. Biar tak ada salah paham diantara kita," ungkap Rian.


Rian menginginkan sebisa mungkin tak rahasia diantara mereka. Perlunya komunikasi yang lancar, agar rumah tangga mereka berjalan harmonis. Meskipun sesuatu yang pahit.


Berhubung saat itu masih siang, Rian langsung mengajak Dina ke pantai Parangtritis untuk menikmati keindahan pasir putih. Mereka bisa bersantai di sana menikmati kebersamaannya. Bagi Rian, deburan ombak mampu menenangkan hati seseorang yang gundah gulana.


"Kamu duduk dulu di sini! Aku ke toilet dulu ya. Ingat jangan kemana-mana ya," ujar Rian dan Dina menganggukkan kepalanya.


Dina terlihat sedang mengingat memory kebersamaan dirinya dengan Nando dulu. Tak terasa air matanya jatuh satu persatu. Hatinya terasa sesak, kala mengingat kenangannya bersama Nando. Dirinya masih tak percaya, kalau laki-laki yang selalu berjanji akan menikahi dirinya, kini justru telah menikah dengan wanita lain.


Begitu baiknya Rian, Rian menarik tubuh Dina dan mendekapnya hangat. Kini dirinya 'lah tempat Dina bersandar. Rian mencoba mengerti apa yang Dina rasakan. Memang tak mudah bagi Dina, untuk melupakan masa lalunya yang begitu menyakitkan.


"Sudah ya! Sesuatu yang menyakitkan, tak perlu diingat! Lihat ke depan, jangan tengok kebelakang, jika kamu tak sanggup! Ayo, kita ke sini untuk bersenang-senang," ucap Rian.


Rian memesan dua buah kelapa muda untuk dirinya dan Dina. Mereka berdua terlihat menikmatinya. Dina tak menyangka kalau suaminya sosok yang humoris, yang mampu membuat dirinya tersenyum. Rasanya begitu indah, terlebih jika dirinya dan sang suami menjalankan pernikahan sesungguhnya.


"Mas, apa aku boleh bicara sesuatu?" tanya Dina.


"Katakanlah!"

__ADS_1


"Mas yakin tak masalah, kalau aku belum bisa menjalankan peranan aku sebagai seorang istri. Menunaikan kewajiban aku, untuk memuaskan kamu," ucap Dina.


Rian tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Memang hal ini sangatlah tak mudah, harus menahan hasratnya untuk sementara. Terlebih mereka adalah pasangan suami istri Seharusnya menikmati bulan madu.


"Aku menikahi kamu bukan hanya sekedar nap*su. Jadi, aku sudah terima konsekuensinya. Mungkin aku masih disuruh berpuasa sampai saatnya tiba," sahut Rian dengan santainya, dan justru membuat Dina semakin tak enak.


"Sudah ya jangan dipikirkan! Lebih baik sekarang ini kamu fokus sama kehamilan kamu. Rasa stres dialami ibu hamil itu tak baik," Rian mengingatkan Dina.


Tak terasa, hari semakin siang. Cahaya matahari semakin menyengat. Rian mengajak Dina untuk melanjutkan perjalanan. Karena mereka harus makan siang. Saat di Yogya, rasanya tak afdol jika tak menikmati gudeg.


"Makan yang banyak! Pikirkan kesehatan anak dalam kandungan kamu," ujar Rian.


Setelah makan, mereka menyewa sebuah kamar hotel. Hotel tempat mereka dulu pernah menginap. Jika dulu status mereka hanya sekedar sebagai pasangan kekasih, saat ini status mereka sudah berganti menjadi pasangan suami istri.


"Kita istirahat dulu sekarang! Jalan-jalannya nanti ya," ucap Rian dan Dina Mengiyakan.


Sambil menunggu up, mampir yuk di karya bestiku😍☺



__ADS_1


__ADS_2