
"Sudah tampan, mapan, sholeh lagi. Ya ampun Din, kamu benar-benar beruntung mendapatkan Nak Rian. Ibu yakin dia akan menjadi suami yang baik dan Bapak yang baik untuk calon anak kamu. Kamu menyesal kalau sampai menyia-nyiakan Nak Rian," cerocos Ibu Lina. Dina hanya menganggukkan kepalanya, karena memang benar yang dikatakan ibunya. Rian memang sosok yang sempurna di matanya.
"Assalamualaikum," ucap Rian dan Pak Hari secara bersamaan. Mereka sudah disambut oleh dua wanita cantik. Dina menyambut Rian datang, tetapi tak mencium tangan Rian. Karena mereka belum Mahrom.
Ibu Lina dan Pak Hari pamit ke pasar untuk belanja keperluan memasak, dan kini hanya meninggalkan Dina dan Rian berdua di rumah. Dina terlihat grogi, malu-malu. Sedangkan Rian justru terlihat santai.
"Ayo Yang kita duduk di luar saja, sambil menikmati udara segar di pagi hari," ujar Rian mengajak Dina keluar, dan Dina mengikutinya dari belakang.
"Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama di sini. Aku betah tinggal di sini. Namun, aku harus bekerja. Meskipun itu perusahaan om aku, aku tetap merasa tak enak hati kalau izin terlalu lama," ujar Rian dan Dina mengerti posisi calon suaminya. Terlebih calon suaminya itu, memegang peranan penting di dalam perusahaan.
Tak ada keinginan Rian untuk menggauli Dina, disaat di rumah hanya ada dirinya dan Dina. Dia benar-benar menjaga Dina dengan baik. Terlebih usia kandungan Dina masih sangat muda. Rian lebih memilih mengajak Dina mengobrol di luar.
"Kok kalian pada di luar," ujar Ibu Lina saat dirinya baru pulang dari pasar dengan sang suami.
"Iya bu. Lagi cari udara segar di luar," sahut Rian.
Ibu Lina tersenyum, Rian memang calon menantu idaman. Rian mampu melindungi anaknya, dibandingkan rasa egonya untuk memiliki Dina seutuhnya. Dina kini sedang membantu sang ibu di dapur. Namun, tiba-tiba saja dirinya merasa mual, karena mencium wangi bawang putih. Melihat Dina berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya, Rian yang mengetahui tentu saja tak akan tinggal diam. Dia segera menghampiri Dina, untuk memijat tengkuk Dina.
"Lemes ya? Ya sudah kamu istirahat saja," ujar Rian.
__ADS_1
"Yan, Yan. Kamu itu memang laki-laki yang baik. Dina beruntung mendapatkan calon suami yang begitu perhatian dan menunjukkan rasa sayangnya," ungkap Ibu Lina.
"Semua ini sudah menjadi tanggung jawab Saya Bu sebagai calon suami dan Ayah dari anak ini," sahut Rian, membuat Dina merasa sedih. Mendapat perlakuan manis dari Rian, membuat Dina merasa semakin bersalah.
Untungnya Dina hanya mengalami mual muntah di kala pagi hari. Selanjutnya dia terlihat sehat. Justru Nando yang kini hidupnya tak karuan. Dia menjadi tak napsu makan, dan menginginkan makanan yang aneh-aneh.
"Ayo kita makan dulu," ujar Ibu Lina kepada Dina, Rian, dan Pak Hari yang saat ini sedang mengobrol di ruang tamu.
Kini mereka sudah berada di meja makan, untuk menikmati sarapan pagi mereka. Meskipun hanya dengan makanan sederhana, tetapi Rian sangat menyukainya.
"Huhft, pasti aku akan selalu merindukan masakan Ibu," ujar Dina.
"Kamu tak perlu khawatir Sayang. Nanti, setelah kita resmi menikah, Ibu dan Bapak bisa ke Jakarta menginap di rumah kita," ucap Rian yang coba menenangkan sang istri agar tak bersedih.
" Oh ya Bu, Pak. Insyaallah, rencananya setelah makan kami ingin pamit pulang. Karena Saya tak bisa mengambil cuti lama-lama. Minggu depan, insyaallah kami akan kembali ke sini bersama kedua orang tua Saya. Semacam lamaran Saya kepada Dina," ungkap Rian dan kedua orang tua Dina mengiyakan. Mereka tahu kondisi Rian yang seorang pekerja. Rian tak ingin bekerja seenaknya, karena berkerja dengan Om-nya.
Dina mulai merapikan barang-barang dirinya untuk pulang. Sama halnya dengan Rian. Sekarang semua sudah selesai, dan siap untuk pulang. Ibu Dina menitipkan kepada Rian, sedikit oleh-oleh dari kampungnya.
"Bu, Pak, kami pamit dulu. Rencananya kami mau mampir dulu ke Yogya," ujar Rian sambil mencium tangan kedua orang tua Dina secara bergantian. Dina pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Nak Rian, ini sedikit oleh-oleh kampung dari Ibu untuk orang tua Nak Rian. Maaf, hanya ini yang bisa Ibu berikan," ujar Ibu Lina.
Rian menerimanya dengan dengan senang hati Meskipun Rian tak mengetahui, sang mama mau menerima dan menyukai oleh-oleh dari ibu-nya Dina. Kini mereka sudah dalam perjalanan ke Yogya. Dina tampak bahagia. Sudah lama juga dirinya tak menginjakkan kakinya di Malioboro.
"Kita turun yuk, kamu bebas membeli apapun yang kamu suka," ujar Rian.
Dina dan Rian turun, dan berjalan ke pusat belanja oleh-oleh di sana. Namun, Dina terlihat hanya membeli beberapa saja untuk sahabatnya dan dirinya. Meskipun Rian membebaskan dirinya untuk berbelanja sesuai keinginannya, tak menjadikan Dina seenaknya saja.
Rian terlihat membeli oleh-oleh juga untuk sang Mama, kakak, dan keponakannya. Rian juga tak lupa membeli satu buah cincin perak yang kualitas terbagus untuk dirinya nanti pakai sebagai cincin pernikahan mereka. Cincin itu sudah tertulis nama Dina.
"Malam ini bagaimana kalau kita menginap. Rasanya tak afdol, jika tak merasakan angkringan malam di sini. Menikmati kota Yogyakarta di saat malam hari," ujar Rian.
"Ta ...tapi," ujar Rian.
"Tak perlu tapi-tapi. Kamu tenang saja, aku jinak kok tidak akan menerkam kamu. Kamu bisa pegang ucapan aku. Apa kamu ingin pesan kamar yang berbeda saja?" tanya Rian.
Dina tak mau. Dia merasa takut. Dia setuju tidur satu kamar dengan Rian. Lagi pula, Dina yakin kalau Rian akan menepati janjinya. Jadi, Dina tak perlu merasa takut
Rian mengajak Dina makan gudeg yang terkenal di Yogya. Dina dan Rian terlihat lahap. Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk ke hotel untuk beristirahat. Saat sore mereka akan keluar Kembali.
__ADS_1
"Kamu tidur di ranjang saja, biar aku di sofa," ujar Rian dan Dina hanya menganggukkan kepalanya. Dina terasa canggung harus berada satu kamar dengan laki-laki lain yang kelak akan menjadi calon suaminya.
Setelah membersihkan tubuhnya, mereka terlihat membaringkan tubuhnya di tempat masing-masing untuk beristirahat. Rian menepati janjinya, menahan nap*sunya sampai waktunya tiba. Tak lama kemudian Rian sudah terlihat terlelap, karena semalam dia tidur di rumah Dina tidak terlalu pulas. Sedangkan Dina, justru masih asyik memainkan ponselnya sampai menunggu matanya mengantuk.