
"Sayang, Sabtu ini aku ingin mempertemukan kamu sama Mama. Dia ingin mengenal kamu lebih dekat. Namun, maaf. Sebaiknya kita rahasiakan dulu tentang kehamilan kamu sama mereka," ujar Rian sambil melingkarkan tangannya di perut Dina. Hembusan napas Rian sangat terasa, membuat tubuh Dina berdesir hebat, menegang seketika. Dina terlihat gugup saat Rian melakukan hal itu.
"Tak perlu tegang, aku tak akan menerkam kamu sekarang," bisik Rian.
Dina kini membalikkan badannya dan menatap wajah Rian, ingin melihat kesungguhan hatinya Rian. Untuk meyakinkan hatinya, berpikir tentang keputusan yang akan dia ambil untuk hidupnya.
"Kenapa? Masih belum yakin sama aku?' tanya Rian lembut sambil mengelus rambut Dina.
"Maaf. Sungguh tak mudah bagiku untuk menerima begitu saja," sahut Dina apa adanya. Perasaan hati yang dia rasakan saat ini.
"Apa kamu ingin anakmu lahir tanpa seorang Ayah? Kau pikir, menjalani masa hamil dan melahirkan tanpa pendamping enak? Jangan keras kepala dan egois, pikirkan anak kamu. Bagaimanapun, seorang anak membutuhkan figur seorang Ayah dan aku akan menggantikan posisi itu," ungkap Rian tulus membuat Dina merasa terharu.
Benar dikatakan Rian, dia tak boleh bersikap egois. Seorang anak yang lahir ke dunia tanpa seorang Ayah, pasti akan menjadi bahan bullyan orang lain. Lagi pula, apa yang harus Dina ragukan lagi, selama ini Rian sudah berusaha menunjukkannya. Membuktikan keseriusannya. Sudah saatnya dia melangkah lebih baik lagi.
"Aku harap kamu bisa melupakan laki-laki breng*sek itu. Ingat perbuatan yang telah dia lakukan kepada kamu, mungkin hal itu bisa membantu kamu secepatnya untuk melupakan dia. Mungkin tak mudah bagi kamu, untuk secepatnya menerima aku di hidup kamu. Namun, satu hal yang aku pinta. Bukalah hati kamu untuk aku," pinta Rian dan Dina menganggukkan kepalanya. Dina akan mengabulkan permintaan Rian. Membuka lembaran baru bersama Rian.
__ADS_1
"Iya, aku mau hidup bersama kamu. Aku sudah menutup hatiku untuknya. Kini saatnya aku memasukkan nama kamu di hati aku," ungkap Dina, membuat Rian bahagia, langsung memeluk Dina meluapkan perasaan bahagianya.
***
"Aku pakai baju apa ya," gumam Dina dalam hati. Sejak tadi dirinya bingung memilih baju yang akan dia pakai. Dina terlihat gugup, terasa tegang. Padahal ini hal kedua baginya, bertemu calon mertua. Dia takut kejadian dulu saat bersama Nando akan terulang kembali. Dina merasa minder, karena perbedaan status terlebih saat ini dirinya sedang hamil anak laki-laki lain.
"Doakan Bunda, semoga calon nenek kamu bisa menerima baik. Bunda bisa menikah dengan Ayah Rian. Jika nantinya Nenek menolak Bunda, Bunda akan memutuskan untuk mengurus kamu sendiri dan memilih untuk hidup sendiri tak menikah lagi. Lebih baik Bunda hidup sendiri, dan bahagia bersama kamu," ucap Dina lirih. Sungguh sedih percakapan dirinya dengan sang anak yang masih di dalam kandungan. Entah bagaimana perasaan Dina saat itu. Dihantui penuh ketakutan.
Rian kini sudah berada di depan pintu kosan Dina, untuk menjemput calon permaisuri dalam hidupnya. Rian terpesona melihat kecantikan Dina. Menurut Rian, selama Dina hamil, aura Dina lebih terpancar.
Ini hal pertama kali Dina rasakan, meskipun hanya sekedar perbuatan sederhana yang dilakukan Rian kepadanya. Dina merasa bahagia, Nando tak pernah melakukan ini kepadanya, ungkapan Nando saat ingin menikahi Dina, saat mereka di ranjang setelah melakukan adegan panas.
Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Rian. Hari ini adalah hari penentuan hubungan Rian dengan Dina. Dina terlihat gugup. Wajahnya terlihat tegang dan pucat, membuat Rian khawatir. Bahkan make up natural yang Dina pakai, tak mampu menutupinya.
"Yakinlah semua akan baik-baik saja. Tak perlu khawatir, berdoa saja ya Sayang. Semoga Allah meridhoi langkah kita. Apa yang kita lakukan, untuk ibadah. Menyempurnakan hidup kita," ucap Rian sambil menggenggam tangan Dina erat.
__ADS_1
"Tenangkan hati kamu! Rileks! Kalau seperti ini terus, kamu bisa pingsan dan Mama akan tahu kalau kamu sedang hamil." ungkap Rian lagi, dia mencoba meyakinkan dan menenangkan Dina.
Mobil yang membawa mereka telah sampai di kediaman Rian. Rian menggandeng tangan Dina mesra. Meyakinkan bahwa mereka akan melewati semua bersama, meyakinkan Dina bahwa dirinya akan selalu ada untuknya. Kedua orang tua Rian langsung menyambut kedatangan mereka. Dengan langkah ragu-ragu, Dina menghampiri Mama Elia, untuk mencium tangannya dan kemudian beralih ke Papa-nya Rian.
"Wah, calon menantu Mama cantik banget. Pantas saja anak Mama tergila-gila. Bikin kaget, tiba-tiba saja bilang mau menikahi anak orang. Seperti sudah tidak betah menjadi bujang lapuk," sindir Mama Elia membuat Dina tersipu malu,wajahnya sudah memerah menahan perasaan malunya. Dina bersyukur karena kedua orang tua Rian menyambut dirinya dengan baik. Entahlah hal itu masih akan terjadi atau tidak saat orang tua Rian nanti mengetahui kalau Dina hamil anak mantan pacarnya.
"Kok jadi pada ngobrol berdiri sih. Mama itu gimana sih masa tamu tidak dipersilahkan duduk," tegur Papa Emir. Akhirnya mereka tertawa bareng. Suasana terasa menghangat, tak seperti saat Dina bertemu orang tua Nando yang langsung menolak Dina menjadi calon menantunya.
Mereka terlihat akrab, keluarga Rian menerima kehadiran Dina dengan baik. Rian pun tak malu menunjukkan keromantisannya di depan kedua orang tuanya. Membuat mereka bahagia, karena akhirnya sang anak menemukan tambatan hatinya. Mereka akan melamar Dina secepatnya untuk anaknya. Namun, sebelumnya Rian dan Dina akan pulang terlebih dahulu menemui kedua orang tua Dina di Yogya. Mereka tak ingin membuat kaget kedua orang tua Dina dengan pernikahan dadakan yang akan mereka selenggarakan.
"Mama sih setuju banget, kalau kalian segera menikah. Dari pada kalian berzina, karena tak mampu menhan hasrat kalian. Apalagi usia Rian sudah matang, sudah sepantasnya menjadi seorang suami dan Ayah bagi anak-anaknya kelak," ungkap Mama Elia.
Rasanya ucapan mama Elia begitu menusuk hingga ke relung hati Dina yang paling dalam, Dina merasa tertampar dengan pernyataan Mama Elia. Rian melirik ke arah Dina yang terlihat tak nyaman, membuat Rian mengalihkan pembicaraan. Rian benar-benar menunjukkan kepada Dina sebagai pelindungnya. Dia akan selalu ada untuk Dina. Penyesalan tak mampu mengembalikkan seperti semula. Kini hanyalah sebuah harapan untuk mendapatkan kebahagiaan.
Kini mereka sudah berada di meja makan. Rian melayani Dina dengan baik, melakukan yang kelak Dina lakukan setelah Rian dan dia resmi menjadi pasangan suami istri. Sayangnya, Dina bertemu Rian setelah bertemu Nando lebih dulu, dan selama ini Dina menutup mata dan telinganya demi cinta butanya kepada Nando. Membuat dirinya tak bisa melihat laki-laki yang tulus mencintai dirinya atau tidak. Jika dia bertemu Rian lebih dulu, pasti dia tak akan berada di posisi seperti ini. Merasa tertekan dengan apa yang sudah dia lakukan.
__ADS_1